Rabu, 19 Desember 2012

Kalah


Whuaaaa kamu yang berbahagia..... ga nyangka ga nyangka....
Nindha, Nindha, Nindha..... kau menang!
Menang dari kami
SMP kita maen ke mana-mana bareng
SMA kita satu sekolah juga
Satu kamar bahkan (cuma 3 bulan, si)
Untuk masalah yang satu ini
Kenapa kamu ga nunggu kami sih?
Hahahaha... ga penting yak?
Barakallah ya
Boleh dong bagi-bagi kisah. 
101112

It's Me


Entah pada siapa aku harus mengadu. Pada Ibuk? Memang sebaiknya... tapi aku tak ingin menjadi anak manja yang sedikit-sedikit mengadu padanya. Pada Bapak? Sudah terlalu banyak beban yang beliau tanggung. Mas atau kedua adikku, mungkin bisa. Tapi apakah mereka mau memaklumi masalah apa yang sebenarnya sedang aku hadapi saat ini? Terlalu sepele memang masalahku, namun aku tak bisa menyepelekan ini terus menerus. Aku capek... jujur!
Tak pantas memang untuk seumuran anak 19 tahun harus bersikap layaknya anak TK seperti ini. Malu aku pada keponakanku yang imut itu jika aku harus menangis. Hanya ini yang bisa aku ungkapkan untuk menyimpan rapi semua hal yang selama ini membebaniku. Aneh memang, tapi terlalu bingung memulainya dari mana.  
Aku iri pada mereka yang bisa cuek akan gerak gerik orang. Iri pada mereka yang mau cerita selengkap mungkin tentang apa yang akan dan telah mereka ceritakan. Seratus persen iri. Kenapa aku tidak? Aku yang terlalu tertutup. Tertutup untuk hal-hal tertentu saja. Bukan hanya tertutup, mungkin ada rasa malu juga. Ketidakpedeanku membuatku kurang bisa mengontrol emosi hingga orang-orang yang ada di sekitarku terkena imbasnya. Mungkin aku bisa lega jika aku bisa bercerita seleluasa mungkin kepada orang-orang terdekatku dan orrang lain pun tak akan kena semprotan egoisku. Sungguh sulit. Bahkan sulit sekali. Lebih sulit dari memberi nasihat pada teman-teman curhatku. Satu hal yang menjadikan alasan mengapa aku tak mau bersikap terbuka. Perasaan dan reputasi orang lain yang selalu aku pikirkan. Aku hanya tak ingin menjelek-jelekkan orang-orang tertentu di mata orang lain. Entah itu keburukan atau bahkan kelebihan.
Menangis. Hanya itu yang bisa yang bisa aku lakukan. Tempat sunyi yang aku cari dan aliran air mata yang aku butuhkan ketika bayang-bayang masalah muncul pada diriku. Maaf kepada kamu semua yang sudah aku sakiti, kepada kalian yang menjadi korban kekesalanku. Dan siapa pun yang membuatku kesal, sebelum kalian meminta maaf, kalian sudah aku maafkan. Satu hal yang harus kalian tahu, saling menghargai itu yang terpenting. Satu lagi, aku salut kepada kalian yang selalu mau berbagi kisah kepadaku.

Biarkan Depok ini menjadi saksi bisu akan diriku. 
201212

Rabu, 12 Desember 2012

Bukan benci

Saya: Buk, gimana ya caranya biar ga sebel sama orang?
Ibuk: ya, istighfar, ingat kebaikan orang itu kepada kita
Saya: iya, buk. Tapi tetep aja sebel..
Ibuk: itu kan kalo kita bersu'udzan terus... husnudzan dong, nak
Saya: (mikir)

Ga ngerti lagi gimana caranya...
Salah? Emang salah... tapi ya sudahlah. Sifatnya yang membuatku memperlakukannya seperti ini.
Buruk memang. Semoga akan membaik. secepatnya.

Sabtu, 08 Desember 2012

Ingin Kamu

Mentari terdiam
Diamnya tak seperti diamku

Diam yang mencari keramaian

Desing suara itu...
Di mana?
Aku ingin menghampirinya
Dalam lariku aku mengejarnya

Tapi,
Apa daya kaki tak sampai
Hanya telinga dan hatikulah yang merekatkan
Rekat karena dekat

Bukan jarak
Tapi, kasih sayang
Aku tak sanggup mendengarnya

Hanya ilusi
Ilusi anak rantau
Kenapa harus?
Ya, karena aku rindu
Rindu kau
Kau motivatorku
Kau yang melindungku
Kau pengisi hari-hariku

Tapi, itu dulu
Sekarang tak seperti itu
Hanya bayangan masa lalu
Sayup-sayup celotehanmu
Celotehan antara kau, aku, dan mereka

Kapan aku bisa mewujudkannya?
Mengulang masa-masa itu
Masa polos nan penuh kehangatan
Ada saatnya,
Saat aku kembali
Pulang dari tanah ini
Hanya sejenak
Untuk melepas rindu

For my beloved Family








Jumat, 07 Desember 2012

EXPRESSING HAPPINESS, ATTENTION SYMPATHY, AND COMMAND



v EXPRESSIONS OF HAPPINESS
 I’m so happy to get a schoolarship
I’m so pleased today
I’m so brigt / colorful / cheerful today

v EXPRESSIONS OF ATTENTION
 You look so different today !
You look fantastic !
 How wonderful you are !

v EXPRESSIONS OF SYMPATHY
 I’m sorry to hear that !
 I’m sorry to …! 
 Please accept my condolence
I;m sympathize with you
How terrible / awful !
Oh, what a pity !
I know how you feel !
I don’t feel to weel

v COMMAND / INSTRUCTION
 Open the …. , please !
Clean the …. , please !
Would you help me, please ?
Do you mind doing this ?

v ACCEPTING OF COMMAND
Yes, of course
Yes, I’ll do it
Yes, certainly
By all means
I’d like to very much
With a pleasure

Untukku? Menarik, tapi ....

Saya senang kuliah di Arab.........! Bukan di negaranya, tapi program studinya! Yah, ini bukan omong kosong, tapi fakta, men..... Banyak orang di luar sana yang memandang rendah jurusan yang katanya identik dengan agama Islam ini. Bukannya ga ridho direndahkan, tapi kenapa mereka harus berpandangan sempit seperti itu? (mungkin mereka belum tahu secara meluas kali, ya?)
“Kalo pengen belajar bahasa kenapa harus kuliah? Kursus lebih efisien”
 Ya, kalimat yang tertulis di dinding ruang kuliah Telaah Bahasa Arab V itu pernah saya jumpai. Tulisan itu tak sedikit pun menyinggung perasaan saya, sedikit menyentil si iya (hehe).  Masa bodoh mereka mau komentar apa pun, toh saya enjoy ini masuk Sastra Arab. Betapa tidak? Dengan masuk Sastra Arab peluang belajar sejarah dan kebudayaan slam yang dikemas dalam mata kuliah Ikhtisar Sejarah Kebudayaan Arab (ISKA) yang menceritakan tentang awal mula Islam sejak masa kerasulan hingga dinasti Abbasiya mengisi kekosongan otak saya yang masih awam tentang hal itu. Di semestrer dua, kami (mahasiswa sastra Arab) belajar Sejarah Asia Barat Modern (SABM) yang menjelaskan tentang perkembangan penyebaran agama Islam di negara-negar bagian Arab. Negara Arab tidak hanya Arab Saudi, melainkan terdiri dari 22 negara yang meliputi: Mesir, Irak, Yordania, Lebanon, Arab Saudi, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, Maroko, Tunisia, Kuwait, Aljazair, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, Mauritania, Somalia, Palestina, Djibouti, dan Komoro.  Perkembangan Islam di Indonesia (SPII) pun kami pelajari agar kami tak lupa daratan.  Ketika kami belajar sejarah agama Islam di negara lain, mengapa perkembangan Islam di negara sendiri tidak kami pelajari?  Disusul dengan Sejarah Masyarakat Arab (SMA) di semester empat. Mata kuliah ini mengkaji tentang sejarah masyarakat Arab sejak masa pra Islam hingga jatuhnya Islam di Romawi Timur (Konstantinopel). Tidak hanya itu, Pranata Arab yang menuntut kami untuk memahami tentang sistem adat, politik, dan kebudayaan dari beberapa negara Arab yang menambah wawasan kami tentang bagaimana orang Timur Tengah menjalani kehidupannya pun kami pelajari. Masa iya si, ketika kita belajar di Sastra Arab tapi ga ngerti apa pun tentang Arab?
Eits,.... tiba-tiba udah ngelantur ngomongin mata kuliah di jurusan... hehe. Lanjut, ya curhatannya J transfer bahasa yak jadi bahasa santai.... kaku nih pake bahasa kayak sebelumnya. Singkatnya, awal mula masuk kuliah, rasa deg-degan pun aku rasakan, bukan karena malu ke orang lain karena jurusan yang telah aku ambil, tapi karena keawamanku mengenai Bahasa Arab. Gimana, ga? Lulusan SMA umum pastilah belum bisa Bahasa Arab, kecuali bagi mereka yang di Pesantren.
“Buk, pak, minta doa restunya, ya? Hari ini hari pertama aku belajar bahasa Arab yang notabene aku belum bisa apa-apa, mudah-mudahan ke depannya lancar dan selalu mendapat kemudahan dari Allah swt. Karena ridho Allah ridho orang tua”. Kalimat itu aku ungkapakan melalui telepon.
“Iya, nak bapak dan ibuk selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak bapak dan ibuk. Tidak usah takut, yakinlah pasti kamu bisa mengikuti dengan baik. Untuk masalah Bahasa Arab, tidak usah khawatir, toh di kampus kamu kan benar-benar diajari dari awal”.
Semangat yang menggebu-gebu dari kedua orang yang aku sayangi itu membuatku lebih yakin dan pede, walaupun sebelumnya bapak begitu khawatir dengan keputusanku karena beliau paham benar bahwa bahasa Arab cukup rumit untuk dipelajari. Beliau akhirnya yakin, bahwa anak keduanya ini benar-benar menginginkannya. Yakin, karena dalam bukunya, Hasan al-Bana pernah berkata “Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa arab dengan fasih”. Sebagai umat Islam, hendaklah kita memahami isi dari al-qur’an yang merupakan pedoman hidup. Dengan begitu, aku akan lebih mudah dalam memahami arti dari setiap kata dalam Al-Qur’an. Keunikan budaya dan Politik di Arab juga menjadi daya tarik tersendiri. Alasan-alasan di ataslah yang membuatku ingin belajar Arab di tingkat perguruan tinggi seperti saat ini. Namun, saat itu saya masih ragu untuk mengambil jurusan Sastra Arab, karena tidak memiliki basic bahasa arab sama sekali dan takut dengan perkataan orang. “Tidak usah minder dengan perkataan orang, yang penting kamu buktikan pada mereka bahwa jurusan yang kamu pilih adalah baik” Ibu juga mengatakan bahwa jika mau untuk belajar bahasa Arab, maka akan mendapatkan dua-duanya, dunia dapat...  In syaAllah akhirat juga dapat dan semua ini aku jalani karena Ridho Allah SWT. Aku bersyukur memiliki orang tua yang membebaskan pilihan untuk anak-anaknya selagi apa yang dpilihnya itu tidak salah arah. Syukran lakumaa abiy, ummiy J
Alhamdulillah, mata kuliah Kemampuan Bahasa Arab (KBA) benar-benar diajarkan dari dasar banget, beruntung bagi kami yang sebagian besar berasal dari sekolah umum dan belum mengenal bahasa Arab. KBA dibagi menjadi empat bagian yang dikemas sedemikian rupa, yaitu membaca, menulis, mendengarkan, berbicara yang diajarkan oleh bapak dan ibu dosen yang berkompeten. Mata kuliah linguistik pun memudahkan kami dalam memahami bahasa para nabi tersebut, yaitu nahwu sharaf atau yang dikenal dengan gramatika.
Dengan mengenal sastra dan para sastrawan Arab, seperti Umru’ul Qa’is  pada zaman Jahiliyyah juga membuatku tahu bahwa para sastrawan jahiliyyah begitu pandai dalam merangkai kata yang berpola unik dan menambah keindahan bahasa Arab tersendiri. Sastra Jahiliyyah hingga modern dikupas dengan tuntas.
Setelah berpanjang kali lebar, dengan bahasa yang amatir aku menulis, hanya satu pesan yang ingin aku sampaikan bahwa masuk jurusan sastra bukanlah jalan yang salah. Kalau tidak ada lagi generasi yang ingin belajar di sastra, lantas siapa kelak yang akan menjadi sastrawan di negara kita tercinta ini? Tidak hanya menjadi sastrawan, transleter, enterpreteur, menjadi diplomat, bekerja di kemenlu,  ahli bahasa pun bisa dilakoni. Biarlah orang di luar sana beranggapan bahwa lapangan kerja bagi sarjana sastra itu sempit. Tugas kita hanyalah membuktikan bahwa anggapan mereka belum benar, dan saatnya kita mengubah mindset mereka.
Sedikit cerita lagi, sewaktu aku menunggu stand bedah kampus, ada beberapa anak kelas XII SMA yang mengeluh ketika mereka ingin memasuki Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) yang di dalamnya terdapat 12 jurusan sastra, namun mereka dilarang oleh orang tuanya yang masih kolot bahwa lulusan FIB sulit mencari pekerjaan. Selanjutnya, aku jelasin kepada mereka lapangan kerja apa saja yang memungkinkan untuk kami. Selain itu, masalah nasib dan usaha kitalah yang menentukan. Allah menyayangi Hamba-hamba-Nya yang mau berusaha. Wallahua’lam.

Selasa, 04 Desember 2012

Buat si Kecil, Nanti

Gambarnye diambil dari tumblr.

Selanjutnya ke mana? #1

Terlalu polos. Maapin, yak? 



“Anak-anak, bulan Maret ini kita tamasya ke Jogja, ya?”
seruan guru kelas V membuat kami sontak kaget dan loncat kegirangan. Ya, bagi kami anak kampung, Jogja merupakan sesuatu yang spesial dan yang harus kami datangi. Entah mengapa penantian selama 3 bulan rasanya begitu lama. Hari yang ditunggu tiba juga, senang sekali rasanya, begitu juga denganku dan masku yang kala itu kelas VI juga tak mau kalah dari teman-teman yang lain minta ini itu kepada Ibuk sebagai bekal, walaupun kami sudah beberapa kali pergi ke kota pelajar itu, namun pergi bersama teman-tema merupakan sesuatu yang spesial.
Perjalanan selama 3 jam yang seru membuahkan kedekatan antarakelas V dan VI yang kami isi dengan menyanyi, tidur, bermain tebak-tebakan, hingga mendengarkan cerita seorang guru kami, sebut saja pak Budiman. Pak Budi menceritakan tentang pengalaman beliau ketika mendampingi anak didiknya di SMP melihat salah dua dari mereka ada yang kepergok berduaan, beberapa guru langsung menegur mereka.
“Kalian tahu siapa orang-orang tersebut?”
Mboten, pak” alias tidak tahu.
“Yaaaa.... saat ini mereka sudah menikah dan mempunyai anak yang ada di sini”
“Siapa, siapa, siapa?” bunyi bisik-bisik terdengar sayu mengganggu rasa kantukku.
“Siapa hayo? Mereka bapak ibuknya ****” (sensor)
Tawa anak-anak memenuhi bus “Whahahahahaha....... ternyata”
Tawa kami tiba-tiba dihentikan oleh teriakan seorang anak “Sudah. Aku malu tau”
Sepintas, beberapa kami langsung diam dan mengerti apa maksud dari cerita guru kami itu. Intinya, tidak boleh pacaran! Aku yang kala itu sok tahu dan belum mengerti secara pasti apa itu pacaran langsung senyum-senyum sambil melihat Yuna dan Tia yang duduk di sebelah kanan kiriku.
Singkat cerita, sampailah kami di objek pertama, yaitu Candi Borobudur. Terdapat mitos yang beredar bawa siapa pun yang bisa memegang bagian anggota tubuh dari patung Sidharta yang ada di dalam bangunan candi-candi kecil, maka segala keinginannya akan tercapai. Antara percaya dan tidak, kami berusaha untuk meraihnya, walaupun hal itu belum tentu kebenarannya. Aku dan teman-teman hanya ingin seruan, dan benar salah satu dari kami tidak ada yang bisa meraihnya. Mustahil memang tangan pendek seukuran anak SD bisa memegangnya. Perasaan kecewa sempat kami rasakan yang kemudian hilang karena nasihat guru agama Islam.
"Jangan percaya mitos, bisa-bisa hidup kalian hanya diwarnai oleh mitos-mitos yang membuat kalian enggan berusaha maksimal"
Dari Borobudur kami baranjak ke Keraton Kasultanan Yogyakarta tempat tinggal dan rumah Dinas Sultan Hamengkubuwono (Gubernur DIY). Di sana kami bisa melihat patung-patung yang menyimbolkan upacara-upacara adat yang diadakan oleh keluarga keraton dan warga sekitar setiap tahunnya.
Kebun Binatang Gembira Loka selanjutnya tujuan kami. Miris sekali melihat kondisi hewan di sana. Unta yang kurus lah, Jerapah yang   tinggal patung lah, Kuda Nil yang hanya dua ekor lah. Mengapa bisa demikian? Entahlah, mugkin karena saking menipisnya bantuan dari dalam atau luar negeri, dan kepunahan hewan yang begitu mempengaruhi. Uniknya, setiap aku pergi ke kebun binatang untuk ke sekian kalinya, pasti datang hujan. Cukuplah kami hanya dudu di warung makan yang kala itu tutup diiringi dengan bunyi lapar perut kami. Sangat kecewa dengan hujan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Museum Dirgantara dengan berat hati.
Rupanya Museu Dirgantara mengobati rasa kecewaku dan teman-teman. Betapa tidak? Di sana pesawat tempur dan perlengkapan perang sebelum kemedekaan ditata rapi dan dideskripsikan secara gambling dan jelas. Pengalaman pertama menaiki pesawat pun aku rasakan di sana, walaupun hanya pesawat berhenti, namun kami tetap bahagia karena diiringi angan-angan menaiki pesawat beneran yang kami bayangkan dan akan dicapai nantinya. Usai sudah perjalanan kami.
Timbul pertanyaan kembali di lubuk hatiku. Akan ke manakah Perjalananku selanjutnya? Jakarta yang ku inginkan. Nyampah, yak? Gapapa deh yang penting aku plong udah nyeritain :D