Sabtu, 07 Desember 2013

Random



Aku tertusuk…
Bukan karena busur cinta
Dan  karena pisau tajam
Tapi.. .
Tusukan dari bibir indahmu
Bibir yang selalu memakiku
Bibir yang selalu menyindirku
Bibir yang selalu merendahkanku
Membalas?
Oh tidak..
Tersinggung?
Jelas…
Bukan tak ada alasan
Beribu alasan kau tunjukkan padaku
Apa karena kau tak suka?
Tak suka dengan diriku?
Dengan hadirku?
Dengan langkahku?
 Memang,
Hadirku hanya mengusikmu
Mengusik kebahagiaanmu
Langkahku taks selalu pas di depanmu
Tapi, tak bisakah kau sedikit sabar?
Sabar akan semua kekuranganku?
Jika inginmu aku pergi
Ku akan pergi
Pergi dengan do’a
Do’a yang membimbingmu
Membimbingmu pergi dari sifat burukmu itu.

Inspiratif


Aku kenal benar dengan sosoknya. Sosok pejuang keras tanpa batas. Apa yang dimiliki orang tuanya tak pernah membuatnya manja dalam mengenyam pendidikan. Dimulai sejak lulus SD beliau sudah jauh dari orang tuanya. Nyantri di salah satu pondok pesantren yang ada pusat kota kabupatennya hingga lulus sekolah menengah atas beliau lakukan. Perjuangannya yang penuh keprihatinan selalu beliau kisahkan pada keempat anaknya. Aku paham benar, tidak mudah menjadi beliau. Status menjadi anak bontot bukan menjadi alasannya untuk selalu bermanja-manja dengan mbah kakung dan mbah putriku. Iya, beliaulah bapakku yang super hebat :D
Hidup prihatin sudah ia jalani semenjak kecil, sehingga saat mulai berpisah dengan orang tuanya di pondok beliau sudah terbiasa. Makan dengan apa pun sudah biasa. Selain karena orang dahulu suka makan dengan sederhana, bapakku ini memang kelewat prihatin. Bayangkan, beliau menukar beras kiriman dari rumah dengan ‘thiwul’ dengan alasan agar bisa mendapat porsi yang lebih banyak, sehingga bisa hidup jauh lebih irit. Berbeda dengan zaman sekarang, harga nasi thiwul malah lebih mahal ketimbang beras.
Lulus SMA pun beliau melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi yang ada di kabupaten sebelah. Ia rela hanya memakai sepeda tanpa mesin warisan ayahnya. Setiap pagi pukul lima beliau sudah rapi dengan baju dan sepeda yang setia menemaninya. Tak peduli penampilan teman yang lebih oke darinya. Pulang kuliah malam sudah terbiasa baginya. Satu hal yang selalu beliau torehkan dalam setiap ceritanya “Wong bejo lan ulet luwih menang tinimbang wong pinter, le, nduk” kalimat itu memang benar dengan apa yang bapakku alami saat ini, alhamdulillah perjuangan masa-masa sulit ketika menempuh pendidikan terbayarkan dengan hal yang lebih baik. Love you, bapak. Engkau sosok hebat di mata kami. Rasa sayangmu pada kami tak ternilai pokoknya. Selalu sabar menghadapi kami, penuh pengertian, setia, dan sifat baik pun selalu kau sandang. Cinta dan kasihmu pada ibuk juga kau cerminkan dengan membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, tak pandang itu pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh istri maupun kedua anak perempuanmu. Bapak, tak salah kau meneladani Rasulullah saw dalam melangkah dan membina keluarga kita. Semoga Allah selalu menyayangi dan melindungi keluarga kita J Pesanmu kepada kami untuk hidup sederhana selalu kami ingat.

Kamis, 05 Desember 2013

Jenuhmu Pasti Berbuah Manis



Jenuh. Hitungan waktu yang terlalu banyak mungkin membuatku bosan dengan semua. Sifat asli mulai bermunculan, keterbukaan malah membuat perpecahan. Hello, kapan semua akan membaik? Semua tak suka dengan semua ini. Objek yang tak salah pun dibuatmu merasa salah. Peduli bataskah hubungan kita? akan ke mana langkah kita selanjutnya?
Lupakah kamu dengan sejarah? Saat di mana nasib kita masih sama? Saat kita harus bersusah payah melukis masa depan? Semua saat pahit manis yang saat ini pasti kamu rindukan. Entahlah, hanya kamu yang bisa mengungkapkannya. Apa yang kamu alami saat ini, esok, atau lusa semua sama saja. Sama-sama kata ‘rindu’ yang nanti akan kamu ucapkan. Rindu akan bawelnya teman-teman yang peduli denganmu. Sakit hati karena sindiran-sindiran orang lain juga pasti ingin kamu dengarkan kembali. Kesetiaan yang selalu kamu dapatkan saat itu, semoga akan kamu dapatkan kembali, kelak. Over all.. kamu harus beruntung menghabiskan waktu mudamu bersama mereka. Waktu tak pernah bersalah memberimu kesempatan untuk kenal mereka. Pahit getir dan manis gula harus kamu syukuri. Apa pun itu.

Mas



Mungkin kalian semua heran saat mendengar seorang adik yang memanggil nama kakaknya hanya dengan sebutan nama. Jangankan kamu, aku saja heran. Bukan hanya heran, sebel malah. Dan orang pertama yang pantas untuk disebeli adalah diriku sendiri. Kata ‘mas’ yang seharusnya aku sematkan di depan nama panggilannya itu tidak berlaku bagi diriku. Tidak seperti kedua adikku, aku memanggil kakakku hanya dengan nama panggilannya. Malu sih jelas, sedih sih iya, apalagi ga enak hati. Jelas ga enak banget.
Untung saja masku (ciye mas... hehe) tak pernah komplain dengan kekurangajaranku itu. Dia biasa saja lho padahal. Begitulah kehidupan, saat orang yang bersangkutan merasa santai dan tidak ribet dengan urusan sendiri, tapi malah justru orang lain yang ‘rempong’. Wajar sih, sebenarnya bukan apa-apa. Kata mbah, bapak, ibuk, pakdhe, budhe, om, bulik, dan siapapun itu apa yang sudah menjadi kebiasanku itu memang tidak wajar di keluarga kami dan orang Jawa. Hanya aku yang membangkang (membangkang dalam hal ini gapapa kali ya? :D). “Ora sopan, ndhuk” begitu kata mereka. Hanya senyuman dan alasan klasik yang selalu aku lontarkan saat mereka memintaku untuk memanggilnya dengan panggilan ‘mas’ dari dulu hingga kini.
Semakin dewasa semakin ke sini, ternyata malu sendiri dengan kecuekanku itu. Nasihat-nasihat dari orang-orang terdekatku saat aku masih di rumah, sekarang kembali aku dapatkan di tanah rantau ini. Semua temanku memanggil kakaknya dengan penuh kasih sayang, mulai dari mas, abang, kakak, abang, aa’, apa pun itu. Saatnya menyesal, kenapa aku merasa bodo amat saat itu? Maaf, terima kasih untuk semua yang sudah menyadarkanku. Sebenarnya tanpa panggilan ‘mas’ pun kita tetap bisa dekat dengan kakak kita, kok.. meski kadang memang tidak enak jika didengar orang lain. Tapi bukan berarti kelakuanku itu tidak mencerminkan rasa sayangku padanya atau hormat padanya. Hormat banget malah. Sayangnya juga sayang banget. Biar bagaimanapun juga, dia lebih tua dari kita sih. Saat ini aku sedang berproses dengan panggilan khas orang jawa itu, meski masih dalam bentuk sms, telepon, atau media lain, walau jika bertemu langsung belum bisa. Masih kikuk (hehe). Satu hal yang membuatku sedikit tersentil dengan ucapan salah seorang teman “Terus kalo adek kamu memanggilmu tanpa embel-embel ‘mbak’ kamu marah ga?” “Marah sih ga, tapi kesel” dan aku baru sadar ternyata aku egois. Tanpa sebutan ‘mbak’ saja aku ngerasa tidak dihormati, apalagi masku yang sejak dulu aku perlakukan seperti itu. Untung masku bukan tipe seperti itu. Huaaa, aku sayang kamu mas... maaf atas kekurangajaran adekmu yang superngeyel ini.
Satu pesan untuk kalian: Bagaimanapun mereka, kakak kalian adalah sosok yang harus tetap kamu hormati. Memanggilnya dengan sebutan mas, bang, a’, ataupun lainnya ternyata cukup membuatnya bangga mempunyai adik seperti kalian J
#Random

Pondok Jasmine, 05122013_23.18