Minggu, 20 Desember 2015

Pesan Dokter Cinta

Jangan rusak kebahagiaanmu
dengan rasa cemas.
Jangan rusak akalmu
dengan kepesimisan.
Jangan rusak keberhasilanmu
dengan kepongahan.
Jangan rusak harimu
dengan melihat hari kemarin.
Kalau kamu perhatikan kondisi dirimu, kamu pasti menemukan bahwa Allah telah memberimu segala sesuatu tanpa kamu minta.
Oleh karena itu, yakinlah bahwa Allah tidak akan menghalangi dirimu dari kebutuhan yang kamu inginkan, kecuali di balik keterhalangan itu ada kebaikan.
Barangkali saja kamu sedang tertidur pulas, sementara pintu-pintu langit diketuk puluhan doa yang ditujukan untukmu, yang berasal dari fakir/miskin yang kamu bantu atau orang sedih yang kamu hibur, atau dari orang lewat yang kamu senyum kepadanya, atau orang orang dalam kesempitan yang kamu lapangi. Maka jangan sekali-kali memandang kecil segala perbuatan baik untuk selamanya.
_Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Rabu, 11 November 2015

Senyum, Yuk...

“Niku mawon, Ndhuk? Sanese napa malih, mboten ngresaake jajanan?” Aiiih, seketika saya lemas mendengar kalimat yang diucapkan ibu penjual sayur depan komplek tempat tinggal kami. Saya yang sudah cukup lama tinggal di ibu kota (anggap saja Depok itu Jakarta, he) langsung senyum-senyum sendiri mendengar perkataan ibu sayur pagi kemarin. Kapan ya terakhir kali saya diperlakukan demikian oleh seorang penjual. Lima tahun tinggal di tempat bertemunya bermacam suku menjadikan adat dan budaya di sana berbeda jauh dengan tempat baru saya saat ini. Banyak sih orang halus di sana, apalagi Sunda, tapi.. tidak semua halus (hiks). Biar sudah lama tinggal di sana, tidak jarang saya masih sering bete jika dibentak atau dijudesin oleh ibu-ibu/mbak-mbak penjual apalagi kalo orang yang hanya ketemu di jalan ga sengaja nyenggol lalu ngomel-ngomel (mungkin ini yang dimaksud “Ibu kota itu keras”). Serasa masih culture shock seperti saat awal-awal saya ‘hijrah’ kala itu.
“Yogyakarta, orangnya alus-alus, jangan harap bakal nemu orang cablak lagi di sana, Hik..” kata seseorang saat itu. Alus yang dimaksud mulai dari kosa kata berbahasanya lebih halus dari ngapak, suaranya lembut, dan tindak tanduknya lembah manah. Bagaikan mendarat di planet lain, apa yang dikatakan olehnya ternyata benar adanya. Orang yang ramah-ramah, anak-anak yang santun, kearifan lokal yang masih terjaga, dan yang penting harga makanan murah-murah rasanya bahagia to the max akhirnya bisa tinggal di sini—dulu sempat ingin kuliah di Jogja, tapi tidak kesampaian —dan akhirnya saya menyelipkan doa agar bisa tinggal di kota gudeg ini, emmm meskipun di pinggirannya setidaknya masuk propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menambah rasa syukur saya pada Rabb Sang penentu takdir.
Sayangnya, keseharian saya yang sudah tertular cuek dengan gaya hidup sebelumnya mengharuskan saya agar melatih diri untuk lebih ramah dan selalu pasang tampang sumeh saat bertemu orang-orang. Walaupun saya asli Jawa dan sudah sedikit terlatih dengan hal demikian, tapi ternyata hal itu perlahan berkurang karena budaya metropolis yang bisa dibilang mulai merasuki jiwa yang aslinya ramah (haha). Kota kelahiran saya memang bukan tempat orang yang alus-alus (apalagi bahasanya ngapak), namun keramahan dan kesopanan masih terjaga dengan baik di sana, sehingga perlahan saya kembali seperti semula mencoba menjadi ramah dan kembali menggunakan bahasa Krama Inggil yang kualitasnya sudah abal-abal karena jarang dipraktikkan. Hanya perlu pembiasaan dan menanggalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit, meskipun bahasa nasional itu masih sering keluar tanpa sengaja.
Beberapa kali pertemuan yang telah saya ikuti dalam tiga minggu terakhir ini tidak mengurangi rasa kagum saya akan keistimewaan kota yang dipimpin oleh seorang sultan ini. Tidak jarang saya menemui mereka menyapa lembut orang yang baru saja kenal—termasuk saya sebagai orang baru— dengan nada anggun sembari diiringi beberapa pertanyaan khas perkenalan. Bukankah hal demikian merupakan bentuk penghargaan yang menandakan bahwa kita telah diterima dalam lingkaran mereka?
Pelan tapi pasti izinkan saya untuk belajar bersama kalian, sadar atau tidak sadar saya tetap rindu kota Belimbing itu dengan segala keunikan dan macam khas yang ada di sepanjang jalan rayanya. Akhirnya, jangan bosan menjadi pendatang karena menjadi orang baru banyak tantangan dan bikin hidup kita ga monoton (kwkwkwkwk). Selanjutnya, entah takdir akan membawa saya ke mana lagi, yang penting jalani semua hal baru dan peran ini dengan baik.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Cahaya Hikmah DwiNA

Aku yang harus pergi lebih dulu dari kalian. Doa terbaik mengiringi kepergianku nanti untuk kalian sahabat yang selalu ada untukku. Kalian rekan yang paling mengerti sekaligus kakak yang pandai memperlakukanku penuh cinta. Suatu saat aku akan rindu suasana ini. Suatu pagi aku akan mengenang masa menyambut mentari dalam balutan kasih dan panggilan lembut untuk menghadap-Nya bersama kalian.
Keriuhan menjelang keberangkatan kita ke kantor, kebersamaan kita ke kantor, kepulangan kita dari kantor, kelezatan menikmati makan malam yang selalu ala kadarnya yang penting tidak lapar dan bahagia (ini lebay) hingga keautisan kita mengurus diri masing-masing selepas Isya adalah memori yang mungkin akan susah hilang nantinya.
Ratih yang ‘gila’ sekali dengan buku dan menghabiskan waktu malamnya di kamar untuk membaca buku atau menonton film kesukaannya, siap-siap saja sepulang dari kantor tidak ada lagi teman yang membersamaimu membeli sayur dan lauk apa yang akan kalian santap untuk makan malam dan esok hari ya (nanti Mbak Dwi bakal ngegantiin aku kok). Mbak Dwi yang kreatif dan kuat banget dengan begadangnya demi orderan kerjaan dan kesetiaannya dengan perusahaan, jangan kangenin aku yang selalu mengganggu kenyenyakan tidurmu ya. Jangan mimpi bakal ngejailin aku karena aku sudah jauh darimu nanti (kalo ini sedih).
Untuk kalian gadis yang selalu diusik ketenangannya oleh cucian dan setrikaan baju, kapan ya aku bisa merasakan hiruk pikuk dalam rangkaian kemalasan antri mencuci dan menyetrika lagi bersama kalian? Waktu makan malam yang biasanya kita isi dengan sharing (bahasa keren dari ngobrol) setelah aku pergi nanti bakal asik dan seru lagi ga ya? (over pede).
Ratih yang rajin banget mengepel rumah dan Mbak Dwi yang hobbi banget memasak masakan yang lain dari biasanya (ex: seblak, goreng nasi, otak-otak, cilok, dll), aku titip cinta untuk Jihan ya. Kalo nanti dia main ke mes, katakan padanya bahwa aku senang sempat tinggal bersamanya meski hanya 3 bulan. Keberadaannya menjadi pelengkapku karena saat itu aku layaknya anak tengah yang memiliki seorang kakak dan seorang adik sebelum kedatangan Ratih.
Oh iya, berkat Jihan juga kita ‘bisa’ masak, lho. Hikmahnya, kita jadi lebih irit dan semangat belajar memasak, meskipun alat dan bahannya terbatas. Semoga mimpi kalian (kita) selama ini untuk memiliki lemari es tercapai ya.. biar bisa memasak daging dan menyimpan sayur-sayuran agar tetap segar. Kalian masih inget kan gimana sedihnya setelah kompornya dibawa pulang oleh Jihan? Untung kalian langsung inisiatif beli lagi sehingga kita bisa menikmati lagi tumis-tumisan dan tempe goreng menu khas kita yang tiap hari gitu-gitu aja (hahahaha #bersyukur).
Kenangan beberapa hari lalu tentang pecahnya gayung dan wajan yang mengeluarkan asap karena kecerobohanku, bisa jadi akan menjadi cerita yang membikin perut kita kaku karena tertawa terpingkal memutar kenangan kejadian itu. Entah kenapa setiap hal yang terjadi setiap harinya selalu menjadi hal unik yang menghibur teman-teman di kantor. Mereka saja tertawa apalagi kita yang menjalaninya? (hahahahaa).
Masih ingat dengan kejadian Jum’at siang lalu yang kita batuk-batuk karena cilok ‘ranjau’ yang kalian bikin? Semoga itu awal sukses usaha kalian ya (Eits, jangan lupa cantumkan namaku dalam sejarah kesuksesan kalian nantinya, hehe).
Anyway, nanti sering kabar-kabar ya terutama kalau adek kecil yang di perumahan udah ga pernah nangis pagi, siang, sore, atau malem. Kasih tahu juga misal di sekitar perumahan sudah mudah ditemukan penjual sayuran dan Alfamart sehingga tidak perlu jauh-jauh lagi kalo mau hangout (maksudnya: beli sayur, bumbu, ke ATM, atau kebutuhan sehari-hari).
Last but not least, terima kasih untuk penerimaannya, perhatiannya, pengertiannya, kasih sayangnya, keusilannya, kebaikannya, kerja samanya, dan lain-lainnya yang ga bisa kusebut satu-satu tentunya.
Kalian istimewa… doa yang baik-baik untuk kalian. Ingat aku dalam setiap doa rabithah kalian yaa. Maaf untuk lisan yang tak terkendali dan sikap yang kurang mengenakan selama kita bersama. Bersyukur diberi kesempatan hidup bersama kalian. Keep contact yaaa… Aku sayang kalian karena Allah.

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syari`at dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahaya-Mu
Yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakal pada-Mu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu
Matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela.

*Rabithah-Izzatul Islam

(Tulisan ini sengaja ditulis untuk kalian dan memenuhi permintaan kalian, ‘teman hidup’; Mbak DwiNA dan Ratih Cahaya sebagai bentuk perpisahan kami. Fiuuuuh, akhirnya bisa selesai juga meskipun di jam kerja (Ups…), Sabtu, 22 Agustus 2015 pkl. 14.25)

Kamis, 20 Agustus 2015

Doa Pagi

Allah, jadikan ikhlasku bagai susu. Tak campur kotoran, tak disusup darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi terilhami.
Allah, jadikan dosa mendekatkanku pada-Mu dengan taubat nashuha. Jadikan ibadah tak menjauhkanku dari-Mu gara-gara membangga.
Allah, untuk tanah nan gersang jadikan aku embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan menghias malamnya.
Allah, jika aku harus berteman khawatir, jadikan ia dzikirku mengingat-Mu.
Allah, jika aku harus berteman rasa takut, jadikan ia penghalang dari mendurhakai-Mu.
Allah, jika aku harus berkawan gelisah, jadikan ia titik mula amal-amal saleh menjemput keajaiban menenangkan.
Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surga-Mu.
Allah, berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini menebar kebaikan, mencantikkan kebenaran, menggerakkan perbaikan.
Allah, luruskanlah lisanku dalam kebenaran, indahkan tuturku dengan kesantunan, jadikan yang mendengar terbimbingkan.
Allah, ilhamkan kebajikan di tiap huruf yang terucap, lahirkan amal tuk setiap kata yang terbicara, alirkan pahala tiada putusnya.
Allah, jangan henti rindu pada Nabi-Mu menyala syahdu agar akhlak teladannya merembesi tingkahku.
Allah, jangan henti gelegak neraka menyergap menggiriskan di tiap hasrat nista dan goda kemaksiatan.
Allah, jangan henti baying surga-Mu melekati mata, di tiap niat dan kesempatan amal saleh nan terbuka.
Allah, jangan henti keesaan-Mu terteguh di jiwaku, sebab kuasa dan rezeki-Mu juga tak sedetik pun berpisah dariku.
Allah, jangan henti bimbingmu-Mu menuntunku, selama jantung berdenyut selalu, semasih Kau hembuskan napas dalam paru.
Allah, jangan henti kasih-Mu mengguyuriku, hingga santun budiku menebar rasa sayang, bahkan membalik penentang jadi pejuang.
Allah, jangan henti keagungan-Mu tertaut dalam nyali, hingga kuhadapi segala yang aniaya dengan gagah dan berani.
Allah, jangan henti kemuliaan-Mu menyusupi syaraf-syarafku hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlak terlaku.
Allah, jangan henti penjagaan-Mu mengarus dalam darahku hingga setan tak beroleh tempat dalam alirannya menderu.
Allah, jangan henti rasa malu pada-Mu menyumsum di tulangku, mengurat di ototku hingga semua gerak dalam ridha-Mu.
Allah, jangan henti keindahan-Mu mengilhamkan senyum dan cerah di wajahku, agar pergaulanku semanis madu.
Allah, jangan henti kebenaran-Mu tertambat di akal dan lisanku, terpancar dalam sikap, terjuang di tiap kalimat.
Allah, jangan henti nama-Mu menyapa hati dan jiwa, dengan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.
Aamiin.

By: Salim A. Fillah

Sepuluh Filosofi Jawa

1. Urip Iku Urup
(Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik).
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar).
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan).
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi).
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berpikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

*Pelajaran dari Sunan Kalijaga

Kamis, 13 Agustus 2015

Bermalam di Surga

Buku Bermalam di Surga ini merupakan salah satu usaha dari seorang saleh untuk mengingatkan kita tentang siapa kita dan ke mana tujuan hidup kita sebenarnya. Perenungan-perenungan yang menggugah keimanan, kisah para salafus shalih yang menggetarkan, serta nasihat-nasihat singkat dan menyentak kesadaran yang tertuang dalam buku ini mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin mulai terpikat dengan dunia.
Pembahasan-pembahasan yang singkat dan langsung menghujam pada inti dalam setiap bab menjadi pilihan penulis dengan harapan setiap Muslim, khususnya yang memiliki waktu sempit, dapat membaca dan memetik hikmah dari buku ini meskipun hanya sempat membaca satu atau dua halaman setiap malamnya.
Buku ini berisi 182 pokok bahasan dan setiap bahasan hanya terdiri dari 2-4 halaman saja. Berikut beberapa di antara judul-judul pokok bahasan dalam buku ini.
1.Apakah Kamu Ingin Sukses
2.Kebaikan Menyelamatkan dari Neraka
3.Dosa yang Diangkat dan Dosa yang Menghinakan
4.Siapa yang Mau Membeli Air Matamu
5.Jangan Menyerah
6.Kelezatan Akan Sirna dan Dosa Akan Tetap
7.Surga Memanggil Kalian
8.Obat yang Tidak Ada Penyakitnya
9.Tinggalkan Rasa Cemas
10.Apakah Kamu Orang Penting
11.Pemuda Pembuka Kota Yatsrib
12.Jiwa yang Tenang
Harapan penulis, juga kami, kita bisa menghabiskan waktu malam-malam yang penuh berkah bersama keluarga untuk berdiskusi, berbagi, dan mengambil setiap hikmah dari kisah buku ini. Semoga majelis ilmu yang kita ciptakan di dalam rumah menghadirkan generasi-generasi yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka dan mengumpulkan seluruh anggota keluarga kelak di taman surga.


Back Cover:
Surga adalah tempat terakhir yang menjadi tujuan setiap Muslim. Untuk meraihnya tentu dibutuhkan bekal yang cukup, baik dari segi iman, Islam, maupun akhlak. Dalam menyiapkan bekal, terkadang kita lupa dan terlalu terlena dengan keriuhan dunia. Oleh karena itu, tak salah kiranya jika kita senantiasa membuka hati dan pikiran untuk diingatkan.
Buku Bermalam di Surga ini merupakan salah satu usaha dari seorang saleh untuk mengingatkan kita tentang siapa kita dan ke mana tujuan hidup kita sebenarnya. Perenungan-perenungan yang menggugah keimanan, kisah para salafus shalih yang menggetarkan, serta nasihat-nasihat singkat dan menyentak kesadaran yang tertuang dalam buku ini mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin mulai terpikat dengan dunia.
Pembahasan-pembahasan yang singkat dan langsung menghujam pada inti dalam setiap bab menjadi pilihan penulis dengan harapan setiap Muslim, khususnya yang memiliki waktu sempit, dapat membaca dan memetik hikmah dari buku ini meskipun hanya sempat membaca satu atau dua halaman setiap malamnya.

Ghirah-Cemburu karena Allah

Ghirah bukan hanya milik orang Islam yang sering dicap fanatik oleh bangsa Barat karena kebertahanannya dalam menjaga muruah pada diri, keluarga, maupun agamanya. Namun, ghirah atau syaraf (Arab) juga milik setiap jiwa manusia, bahkan masing-masing daerah atau negara memiliki istilah sendiri untuk menyebutnya. Ghirah juga milik Mahatma Gandhi—yang terkenal berpemahaman luas dan berprikemanusiaan tinggi—yang sampai bersedia melakukan apa saja untuk mencegah adik Yawaharlal Nehru, Viyaya Lakshmi Pandit, dan anaknya, Motial Gandhi, keluar dari agama Hindu.
Ghirah atau cemburu ada dua macam, yakni terhadap perempuan dan agama. Jika adik perempuanmu diganggu orang lain, lalu orang itu kamu pukul, pertanda padamu masih ada ghirah. Jika agamamu, nabimu, dan kitabmu dihina, kamu berdiam diri saja, jelaslah ghirah telah hilang dari dirimu.
Jika ghirah atau siri—dalam bahasa orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja—tidak dimiliki lagi oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dalam segala sisi. Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab, kehilangan ghirah sama dengan mati!


Modernisasi dan westernisasi adalah dua istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Keduanya adalah pintu masuk dari al-ghazwul fikri yang ingin mengubah cara berpikir umat Islam dari dasarnya dan menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Semua yang datang dari Barat ditiru agar dibilang modern dan tidak ketinggalan zaman. Pakaian perempuan yang diselubungi dengan kain sarung warna-warni kini tidak ada lagi, hanya tinggal sejarah, bahkan di seluruh Indonesia datang zaman transisi. Semua berlomba mengikuti budaya Barat. Para pemuda pun berani mendekati perempuan karena ada tanda mau didekati.
Keberanian dalam mempertahankan muru`ah untuk mem¬bela malu terhadap agama dan perempuan kian lama kian berkurang. Bahkan, mungkin kian lama kian habis, hanya tinggal cerita saja. Penyebab orang-orang tidak berani lagi memper¬tahankan muru`ah saat saudara perempuan mereka diganggu orang lain adalah karena diri mereka sendiri pun telah mengganggu saudara perempuan orang lain.
Beberapa contoh di atas secara eksplisit diangkat oleh Buya Hamka dalam tulisan beliau yang bertema ghirah (cemburu). Menurutnya, dengan ghirah-lah dakwah Islam akan tetap hidup. Dengan ghirah pula kehormatan seorang perempuan akan terjaga. Jika ada pihak yang secara sengaja berusaha mengganggu keduanya (agama dan perempuan), ghirah kita harus mendorong untuk berbuat sesuatu.
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) hadir kembali dengan buku berjudul Ghirah: Cemburu karena Allah. Karyanya ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya terbaiknya yang mengkaji fenomena-fenomena sosial yang terjadi di Indonesia, khususnya yang berkaitan erat dengan nilai-nilai Islam.
Dalam buku yang terdiri dari tiga bahasan ini—Ghirah, al-Ghazwul Fikri, dan Siri—beliau berpesan, “Dan apabila ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu. Kocongkan kain kafannya, lalu masukkan ke dalam keranda dan antarkan ke kuburan.”
Semoga buku ini dapat memberikan manfaat untuk pembaca, dan memiliki nilai di sisi Allah SWT. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, Allahlah Yang Mahabenar dan Pemilik Kebenaran. Selamat membaca 

Jejak-Jejak Cinta

Ketidakharmonisan kehidupan rumah tangga sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari karena beberapa hal. Masalah yang paling mendasar adalah krisis akhlak dalam diri setiap pasangan yang memengaruhi cara mereka berkomunikasi dan menjalani peran sebagai suami atau istri sebagaimana mestinya. Searah atau tidaknya tujuan awal menikah juga nantinya akan memengaruhi kebahagiaan rumah tangga.
Padahal, kata orang menanti jodoh adalah seperti menanti sebuah angkutan umum yang belum jelas kapan tibanya dan bagaimana kondisinya. Demikianlah dalam cinta dan pernikahan. Mungkin tak pernah ada lelaki atau perempuan sempurna yang hadir dalam hidup kita. Semua serba penuh dengan kekurangan. Namun, selama arahnya sama dengan yang kita tuju, lebih pantas untuk kita nikahi daripada menikahi orang yang tampak sempurna tetapi kenyataannya membawa kita pada arah yang salah. Apa yang menjadi kekurangannya biarlah kita perbaiki bersama sepanjang perjalanan cinta dan pernikahan kita. Kelak yang membahagiakan kita, manakala cinta menepikan kita pada dermaga yang kita tuju.
Mesin utama pernikahan adalah imam dan makmum, yakni manakala laki-laki mampu menjalankan fungsi sebagai imam dengan baik dan perempuan bersedia menjadi makmum yang baik. Menariknya, mesin ini juga menguras perasaan layaknya imam yang harus tenggang rasa terhadap makmumnya saat memimpin shalat berjamaah dengan tidak memaksakan membaca bacaan yang panjang saat melihat makmumnya kepayahan. Demikian imam dalam keluarga, ia tak bisa pergi sendirian tanpa tenggang rasa dengan mereka yang dipimpinnya hingga tercapai tujuan awalnya, yakni menggapai cinta sesuai apa yang dikehendaki oleh Sang Maha Pemilik Cinta.
Semua yang terangkum di atas adalah inti dari buku Jejak-Jejak Cinta karya Tony Raharjo ini yang merupakan rangkuman dari materi-materi dan tanya jawab yang disampaikan oleh penulis dalam acara Inspirasi Keluarga di Radio MQFM yang penulis asuh. Melalui untaian kata yang mengalir dan indah, dibatasi oleh bab-bab untuk membedakan tema, penulis berbagi kepada setiap kita yang ingin hidup dengan cinta yang membaikkan di hadapan-Nya; yang ingin membangun bahtera rumah tangga dan masih khawatir akan kerikil-kerikil tajam yang nantinya mungkin akan ditemui; yang ingin rumah tangga yang telah dijalani berlanjut ke surga; dan yang ingin buah hati mereka tumbuh menjadi pribadi penuh cinta—cinta terhadap Allah dan rasul, Islam, dan orang tua—dengan harapan setiap kita selalu mendapatkan cinta-Nya.

*****Ayo, segera miliki bukunya di toko buku favorit anda :)
Bagi yang penasaran dengan sinopsis di bagian sampul belakang, bisa lanjut membaca postingan saya di bawah ini
:

Bagi setiap lelaki yang menjadi seorang ayah, adzan adalah jejak cinta yang pertama kali ia goreskan bagi hati dan jiwa anaknya. Semakin bertumbuh sesosok manusia, semakin banyak jejak cinta yang tertoreh dan ditorehkan dalam hidupnya—termasuk saat seseorang menanti pendamping dan menjalani kehidupan berumah tangga yang berhias kematangan cinta.
Jejak cinta dalam episode-episode hidup manusia tersebut akan dibahas dalam buku ini beserta tips-tips menghadapi tragedi-tragedi di dalamnya. Kisah yang menginspirasi dari Rasulullah saw., sahabat, dan tokoh-tokoh lainnya juga melengkapi wawasan kita tentang bagaimana semestinya kita menumbuhkan cinta, memilah dan memilih, dan menyadari cinta yang berawal dari kebaikan dan berujung pada kesetiaan, baik kepada pasangan, orang tua, maupun anak nantinya.
Jejak-jejak Cinta memang layak dibaca oleh setiap jiwa yang terikat pada cinta dan berusaha mengikuti jalan cinta-Nya menuju arah yang baik sesuai apa yang dikehendaki oleh Sang Maha Pemberi Cinta.
Selamat membaca.

Jumat, 31 Juli 2015

Rintik Kerapuhan

Banyak hal yang (sebenarnya) ingin aku ceritakan di sini, meski peristiwa ini tidak lebih dari 25 menit saja. Diawali dari dering telepon yang berbunyi dan suara seorang laki-laki selama 1 minggu ini tak kudengar kabarnya, ternyata malam ini dia menyapaku dengan suara yang sangat pelan dan terbayang kelemahan pada dirinya. Pertama kali mendengar sapaannya pun aku langsung bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya saat ini ia rasakan. Ia yang sejak kecil selalu menjadi laki-laki yang gagah dan lantang dalam suara, kini malam ini jauh dari biasanya. Dalam sekejap aku merindu cercaan menyentaknya kepadaku, nasihat yang tanpa basa dan basi ketika aku berbuat salah, dan suruhan yang kadang membuatku kesal, tapi justru sangat kurindukan kehadirannya malam ini. Keberadaannya yang tak dekat membuatku ingin menghempas dalam sapaan lembut tubuhnya wajarnya seorang adik yang lama tak jumpa dengan kakaknya. Suara yang lemah dan desahan nafas yang semakin lama memelan semakin membikin hati ini teriris. Apa yang kamu rasakan, Mas? Aku di sini ada untukmu. Dua puluh dua tahun aku mengenalmu, hanya malam ini kamu yang pantang untuk terlihat jatuh di depan adikmu kini malah kamu tunjukkan. Kamu pernah bilang bahwa saat ini sudah tidak ada yang memercayaimu, tapi tidak demikian denganku. Baik-buruk, terang-kelam, suka-duka, suram-ceria masa lalumu, aku tetap adikmu yang selalu ada untukmu. Bukankah kamu adalah sosok yang banyak memberi asupan apa pun kepadaku? Hanya doa yang bisa aku berikan sebagai balasan atas apa yang kamu berikan untukku. Semoga ribuan pintu terbuka untuk memudahkan jalanmu. Be strong, Brother... Let me give my best support to you.

Depok, 31 Juli 2015 pkl. 21.49 (di bawah sinar blue moon)

Aku yang kini merindu kegagahanmu :')

*Rabb, jaga dia, titip dia, semoga istiqamah selalu membersamainya

Jumat, 26 Juni 2015

Terima kasih, Jasmine

Pondok Jasmine: Tentang 3 tahun, tentang Marina teman suka duka mulai dari asrama dulu (bahkan sejak kelas X) tentang Ai si tangan kreatif yang selalu menolong kemampuanku berbahasa Arab dan pelampiasan kekesalanku, tentang si kembar Ina Inta dan Pepeb Nikur yang selalu menjadi pelarian kalo lagi penat di kamar, tentang Mbak El dan Nia teman satu jurusan yang kalo udah ngumpul entah sampai kapan akan berakhir obrolan kami, tentang Cita yang kayak penghuni Jasmine karena seriiing banget berkunjung (ngerjain tugas, curhat, nemenin aku, santai-santai, dll) tentang skripsi dan tentunya ada kisah Fitri dan para anak bimbingannya Pak ***z**, tentang Nabila penghuni tidak menetap yang langganan makanan delivery Pak Lu'lu, tentang Meita anak kampus tetangga yang udah kayak adek sendiri, dan yang jelas di Jasmine seakan-akan hanya memiliki tetangga yang berprofesi sebagai "tukang": Ibu-ibu penjual nasi belakang yang makanannya selalu fresh, aa warkop yang siap dibrisikin setiap kedatangan kami segerombolan, bapak penjual makanan yang murahnya ga ketulungan, abang2 warung kelontong, ibu-ibu penjual pulsa, dan muadzin masjid yang satu tembok dengan dinding kos. Panggilan (lewat sms/wa karena aku ga mau teman2 teriak2) khas yang sampe sekarang masih bikin kangen kalo temen dateng, "Hik, aku udah di bawah / Hik, depan gerbang/ Hik, tolong bukain gerbangnya ya/ Aku otw dr kost, Hik, 5 menit lagi sampai. Stay depan gerbang ya.. atau Hikmaaaaaaa kamu di mana? Aku udah sampai drtd. Aku telpon ga diangkat. Kamu tidur? Hikmaaaaa." Anyway, aku kangen ngumpul diserbu kalian (cewek2 Arab) dalam rangka sekadar ngumpul-ngumpul saja sambil sesekali ngerjain tugas (alibi ngegosip emak-emak). Kapan kita tidur sempit-sempitan lagi?? Kapan lagi aku bisa menegur kalian dengan teguran, "Jangan kenceng2, udah jam12 malem, yang lain kebrisikan. Nanti kalian diusir." Hahahaha
Terima kasih, Jasmine... kalo bukan karena rutinitas mungkin aku masih betah jika harus menghuni kamar yang kata teman-teman "lain dari yang lain" :p
Terakhir, semoga bapak dan ibu kost beserta Io' putra mereka selalu sehat dalam lindungan-Nya :')

Cc: Rida, Ely, Banan, Uci, Syara, Siro, Opi, Erika, Kunie, Riri, Nidya, Elma, Umi, dan siapa pun (ga selesai2 ngetiknya) yang sudah pernah maen ke Jasmine :) Terima kasih untuk kaliaaaaaaan.

Ditulis pada 27 Juni 2015 di kamarnya Marina, Pondok Jasmine (Jl. Margonda Raya Gg. Al-furqon No. 22 Rt.04 Rw.05 Pondok Cina, Beji, Depok, 16434)
Fiuuuh masih inget dengan alamatnya.
*dalam rangka nostalgia, eh napak tilas ding

Kamis, 11 Juni 2015

Goresan Senja

Ketika hatiku berlabuh, ku sadar fisikmu semakin lama semakin tak indah, tapi ku yakin cintamu semakin lama akan semakin bertumbuh, terus tumbuh hingga berbuah, dan itu yg membuatmu semakin indah, dan melebihi keindahan fisikmu.

wahai belahan jiwa, aku tahu kelak akan ada sulit saat mendampingiku, tapi bukankan sulit itu yg akan semakin kuat mengikat hati kita.

Selasa, 02 Juni 2015

Sejuta Warna Cinta

Ketika cinta bersaksi atas dua insan yang saling membangun cinta, beragam warna dan cerita menghiasi lembar hidup keduanya.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia genggam erat jemariku, dia tatap lekat kedua mataku, tanpa kata, tanpa seikat bunga juga tanpa puisi. Itulah ekpresi cintanya kepadaku, dia yang telah memilihku, ekspresi sederhana, bahkan bagi sebagian orang mungkin tiada makna, namun bagiku itu istimewa, karena seperti itulah dia.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia berikan aku setangkai bunga, sebait puisi yang dia ciptakan sendiri, tak lupa lantunan sebuah lagu nan romantis dia hadiahkan sebagai pelengkap ekspresi cintanya. Jangan tanya bagaimana perasaanku, Aku sangat bahagia, bahkan aku ingin dia melakukannya setiap hari untukku, seperti itulah dia yang telah memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia sangat pemalu, bahasa tubuhnya kaku, senyum pun jarang terhias dari bibirnya. Tapi diam-diam dia memperhatikanku. Meskipun aku berharap dia merengkuh pundakku dan membisikkan seuntai puisi di telingaku, namun seperti itu saja sudah cukup bahagia buatku, itulah dia yang memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia terlihat salah tingkah, dia kadang menggandeng tanganku, merengkuh pundakku, membisikkan sesuatu di telingaku, bahkan dia juga mencubit pipiku. Aku sebenarnya malu, tingkah laku kami disaksikan banyak orang yang datang waktu itu. Aku hanya terdiam saja, hanya rona merah wajaku yang terlihat. Itulah dia, dia yang telah memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia menyediakan beragam makanan di belakang tempat duduk kami. Di kala senggang dia menyempatkan diri untuk menyuapiku, dan dia memohon dengan sangat agar aku bersedia membuka mulutku. Entah sudah berapa jenis makanan yang aku rasakan, tetap saja dia terus menyuapiku. Itulah dia, dia yang memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, beberapa kali cincin pemberiannya terjatuh saat dia berusaha memasukkannya di jemariku. Aku lihat tangannya bergetar dan keringatnya berkucuran. Akhirnya cincin itu berhasil menghiasi jemariku, setelah dibantu ibunya, tapi aku tetap bahagia, itulah dia yang memilihku, dia istimewa.


Apa pun ekpresinya di hari pertama saat bersamaku, semuanya sangat indah dan membahagiakan. Aku jadi tahu siapa dirinya dan bagaimana ekpresi cintanya di hari pertama bersamaku. Aku takkan bisa melupakan hingga diriku menua bersamanya.

Setelah hari itu, Aku meminta dia untuk terus mencintaiku. Meminta ekpresi cintanya untuk tak lelah menuntunku pada ketaatan pada-Nya, membangunkanku untuk turut dalam tahajjud bersamanya, selalu sabar atas segala kekuranganku, tak henti menasihatiku dalam kebaikan, dan berjanji setia bersamaku dalam menggapa jannah-Nya, hingga diri ini menua. Karena seperti itulah ekspresi cinta yang disyari`atkan oleh Sang Pemilik Cinta.

Selasa, 26 Mei 2015

Berbeda, Meski Sama Diciptakan

Mentari, bolehkah aku sejenak berbicara padamu?

Engkau itu sama seperti diriku, diciptakan oleh Dia Sang Pemilik Alam Semesta.

Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan.
Setiap hari engkau tak pernah lelah memberi, sinar berjuta guna darimu selalu kau pancarkan.
Sedang aku, kadang di kala pagi sudah mengeluh,
jangankan untuk berbagi, mengurus diri aku kadang merasa sungkan.

Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan.
Engkau selalu bersinar indah di pagi hari, dinanti milyaran orang, bahkan jutaan lainnya menantimu dari puncak-puncak terindah di belahan dunia.
Sedang aku, di pagi pun seringkali melangkah tanpa senyum, tanpa sapa, dan tanpa kesyukuran.

Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan.
Tak hanya pagimu yang indah, akhir harimu pun juga sangat indah. Di antara lelahmu, masih engkau hadirkan sinar kuning keemasan yang dinikmati milyaran orang dan jutaan orang di tepian pantai.
Sedang aku, hanya wajah letih, kuyu, dan langkah gontai yang terhias di diri.

Tapi kita berbeda, meski sama diciptakan.
Saat terik sinarmu sangat panas, banyak orang memarahimu, tapi engkau tak pernah berhenti bersinar.
Sedang aku, seringkali hanya ucapan sepele dari orang lain, tersinggung dan merendahkan diri.

Tapi kita berbeda, meski sama diciptakan.
Engkau tak pernah lalai dari kewajibanmu, tak ada cerita mentari berhenti bersinar, meski keberadaanmu abadi sepanjang masa.
Sedang aku, masih saja lalai akan kewajibanku,
meskipun aku tahu hidupku tak akan kekal, dan esok atau lusa aku tak melihat sinarmu lagi.

Tapi kita berbeda, meski sama diciptakan.
Harusnya aku malu padamu, engkau tak pernah lelah apalagi menyerah.
Tak pernah marah meski kadang dianggap membuat susah.
Tak pernah letih memberi, meski hidupmu kekal abadi.

Wahai Sang Pencipta,
Aku tahu mengapa Engkau hadirkan Mentari setiap hari, agar aku banyak belajar darinya.

Mentari, aku tahu, masih saja kita berbeda, meski sama diciptakan.
Karena itu, jangan pernah berhenti untuk mengajariku.


Jumat, 22 Mei 2015

Gelap (yang) Membawa Indah


Malam ini entah sudah purnama yang keberapa. Aku tak mau menghitung dengan menyamakan usiaku yang hampir setengah abad. Kau tahu kenapa? Karena tak setiap purnama datang aku menjumpainya apalagi menyempatkan waktu untuk menikmati suasananya. Akan tetapi, purnama kali ini entah mengapa lain dari biasanya. Aku tak sedang duduk di jalan Malioboro menyaksikan beragam aktivitas para pelancong yang sibuk berbelanja. Aku juga tidak sedang berada di Pendopo Keraton menyaksikan gadis-gadis ayu Jogja berlatih menari. Aku juga tidak sedang di Candi Prambanan menyaksikan pementasan Ramayana atau Arjuna. Malam ini aku hanya di sini, di halaman tempatku melepas lelah, hanya duduk-duduk saja di antara daun pintu yang sengaja aku buka, sedikit menikmati angin malam tanpa secangkir capuccino yang aku sruput atau pun segelas cokelat hangat.
Aku hanya duduk santai saja, melihat sinar bulan yang sedang purnama, menyaksikan gemerlap bintang, dan bersihnya biru langit tanpa awan. Aku juga merasa mala ini terasa lebih indah dari biasanya, atau hanya perasaanku saja? Di antara kekagumamku pada suasana malam ini, aku berbicara pada diriku sendiri peri hal inilah yang akan aku ceritakan padamu kawan. Semoga kau sudi membacanya. Untukmu, engkau boleh membaca ceritaku ini dengan ditemani secangkir kopi atau teman terkasihmu.
Aku hanya bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya yang membuat purnama begitu indah? Apakah sinar rembulan yang terang, terbitnya bulan yang terlihat penuh, birunya langit, atau karena gemerlap bintang yang menghiasi langit? Lama kupikirkan apa penyebabnya, mungkin karena diri ini terlalu bodoh sehingga susah menemukan jawabannya. Aku berharap, jiwa ini menemukan sebuah jawaban yang menggugah semua orang, tapi sayang saya hanya orang biasa. Sempat berpikir untuk menyeduh secangkir kopi demi sebuah inspirasi, tapi perut sedang kurang bersahabat. Ah, daripada terlalu lama berpikir kuputuskan saja jawabanku itu.
Terangnya sinar rembulan, penuhnya bulan kala purnama, birunya langit, dan gemerlapnya bintang-bintang di langit menurutku bukanlah penyebab purnama ini menjadi indah. Bukan, bukan mereka itu penyebabnya! Mereka itu pelengkap. Ya, pelengkap kesempurnaan purnama. Lima belas hari sebelum purnama terbitlah penyebabnya. Saat bumi gelap dengan sempurna, dan rembulan tak nampak sama sekali, malam yang gelap itulah yang menyebabkan purnama istimewa. Gelap gulita dan terang benderang adalah dua hal yang saling bertolak belakang, dan seringkali menjadikan sesuatu itu menjadi istimewa. Sempurna, salah satunya perihal purnama malam ini.
Boleh sedikit aku kaitkan dengan realitas kehidupan ini, kawan? Paling tidak agar tulisan ini bisa lebih panjang agar seruputan kopimu yang masih banyak tidak sia-sia. Akan tetapi, aku tahu engkau hanya diam, diam yang membuatmu terus membacanya. Aku merenungi diri bahwa hidup ini juga seperti rotasi rembulan, dari gelap pekat menuju ke terang benderang dan kembali lagi ke gelap pekat demi sebuah kesempurnaan. Boleh juga kalau kita memaknainya seperti perputaran roda. Roda itu akan menjadi roda jika dia berputar. Jika tidak berputar, diam, roda itu tidak berfungsi, dan boleh jadi tidak bisa dikatakan roda.
Bukankah hidup ini juga begitu, kawan? Dia harus berputar demi sebuah kesempurnaan hidup. Jika hidup tidak berputar, dia akan stagnan, mengalami kejenuhan dan tidak ada kisah perjuangan. Sehingga tidak jarang kita menemui orang yang bosan dalam hidup meski berada pada kondisi nyaman atau sebaliknya akan merasa berputus asa karena kesulitan yang terus menerus. Hidup memang harus berputar, jika dia tidak berputar bisa jadi kita hanya sedang meniti hidup, yang melewatinya begitu saja tanpa mangambil makna sedikit pun dari perjalanan hidup kita masing-masing.
Semakin beranjak malam, purnama semakin indah, semakin ingin menemaninya hingga hilang di esok fajar, tapi tubuh sudah menuntut haknya untuk berebah. Kurebahkan tubuhku di pembaringan sembari menelisik takdir esok, seperti apa perjalananku selanjutnya.



Selasa, 19 Mei 2015

Pecarikan Namanya

Kupetikkan jemari pada keyboard komputer yang sehari-harinya menemani aktifitas baruku lebih dari sebulan ini. Playlist lagu pun tak menghilangkan rasa kantukku siang ini. Kuberanikan diri sedikit melipir dari rutinitas yang sudah membosankan seharian ini. Mencari referensi tentang tokoh terkenal yang namanya diambil dari Asmaul Husna rupanya tak semudah mencari nama ‘Muhammad’ di google yang setia tanpa lelah mendukung tugasku sehari-hari. Tanpa pikir panjang akhirnya tertulis juga tulisan ini. Entah bagaimana nanti hasilnya, setidaknya aku sudah sedikit terhibur dengan keisenganku ini. Selain mengobati jenuh, kali ini aku menulis untuk menepati janji diri sendiri agar mulai konsisten menulis tentang apa pun. Kasihan blogku sudah lama menganggur (doakan semoga produktif). Kalo kata penulis-penulis beken “Tulis saja apa yang ada di otak! Tabrak aja apa yang terlintas di pikiran! Ga usah dipikirin bagus engganya, toh nanti bisa dibenerin lagi” Yasudah, aku ikutin saja.

Ada yang menarik dari keinginanku kali ini. Kali ini akan aku ceritakan kepada kalian tentang sebuah desa (kalo kata dosen dan temen-temen namanya ‘kampung’) di pojok sebuah kabupaten sekaligus menjadi pembatas dua kabupaten, kabupaten ‘ngapak’ dan kabupaten ‘o’. Ada yang tidak paham dengan maksudku? Suatu saat akan aku ceritakan atau mungkin nanti kalian akan tahu setelah membaca tulisan abal-abalku hingga selesai (semoga ya). Sebelumnya aku belum pernah menuliskan tentang kampung ini. Bahkan mungkin kusebut-sebut saja tidak. Salah memang, aku malah lebih menyebut apa itu Depok, ngapain saja di sana, dan siapa saja teman-temanku di sana. Selain Depok, mungkin aku juga pernah menuliskan Purworejo. Yap, aku cinta banget dengan kedua kota itu-yang satu desa kabupaten-meskipun keduanya bukan kota kelahiranku. Bukan berarti aku tidak cinta dengan kampung halamanku lho ya. Depok ada di hati karena aku merantau di sana hampir lima tahun ini (2015) dan Purworejo sering kusebut karena selama SMP dan SMA aku sekolah di kota tersebut. Jadi jangan heran kalo sebagian besar teman tahunya aku asli Purworejo. Jangan kaget juga bahwa banyak sekali teman-temanku yang tinggal di sana (yaiyalah, orang enam tahun sekolahnya). Miris memang, bahkan mungkin aku bisa menghitung berapa banyak temanku yang dari Kebumen. Dan mereka adalah temanku saat di sekolah dasar dan teman satu kampung. Beberapa adalah tetangga desa dan teman yang ketemu di Depok ketika sudah kuliah. *kadang saya merasa sedih*

Kebumen?? Iya, Kebumen. Kampungku yang akan segera kuceritakan ini sebenarnya suatu desa bagian dari Kebumen yang berada di pojok timur utara bagian terkecil dari kecamatan Prembun. Jika kamu turun dari bus kota, nanti kamu akan menemui sebuah terminal yang menjadi jalur utama Jakarta-Semarang atau Jakarta-Yogyakarta. Intinya dia kota yang berbentuk kecamatan. Jika kamu hendak menuju ke sana (ke kampungku), dari terminal Prembun, perlu menaiki angkutan warna kuning jurusan Prembun-Wadaslintang (sebuah waduk yang cukup terkenal. Kalo kalian ga tahu, berarti memang belum terkenal 100%). Jangan salahkan aku jika aku tidak mengetahui jalur berapa angkutan itu. Mungkin tidak lebih dari sepuluh kali aku menaikinya sejak kecil hingga sekarang. Dan terakhir kali aku di dalam angkutan itu saat kelas 6 SD bersama mbak sepupuku yang sedang ngidam dan mual-mual karena bau solar yang menyengat. Sekitar tahun 2003 atau 2004 berarti lah ya.

Ok, back to the point. Sebenarnya hanya butuh waktu sekitar 15 menit sampai kalian tiba di tempat yang hendak menuju kampungku itu. Maklum ya, di sini jarak 6 km tidak membutuhkan jarak tempuh lama seperti di kota besar (sebut saja Jakarta). Itu pun 15 menit karena angkotnya berjalan pelan sebagai ajang pak sopir untuk mendapatkan penumpang banyak.

Nah, bilang saja “Pertelon Kabuaran nggih, Pak!” kalo kalian ingin ke kampungku. Pak Sopirnya sudah hafal kok. Pertelon (bahasa Jawa) itu artinya ‘pertigaan’. Kalo Kabuaran, nama desa yang dilewati angkutan. Sedikit lebih modern dari kampungku. Kalo kata ‘nggih’ itu bahasa halusnya basa Jawa ‘yo’. Memang seperti itu unggah ungguh di Jawa, cenderung halus dan sopan jika berbicara dengan orang yang lebih tua dan belum begitu kenal.

Itu yang saya suka dari Jawa. Halus dan lembut. Hingga sekarang saya selalu rindu untuk bicara dengan bahasa krama (bahasa halus). Ah, tapi sayang makin ke sini, kemampuan anak muda untuk ngomong krama tidak semahir zaman dulu. Selain pendidikan di sekolah yang kurang begitu ditekankan untuk mandalaminya, materi pengajaran Bahasa Jawa juga sudah berkurang. Rasa-rasanya mereka tidak bangga dengan bahasa ibu mereka. Adanya hanya plegak-pleguk kalo diajak ngomong krama. Hanya tahu ‘nggih, mboten, dan dereng’ , selebihnya nihil. Ada ide gimana caranya melestarikannya? Timbul persepsi “anak ini kurang ajar” jika kami berbicara pake bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua. Itu yang sampai sekarang saya jaga agar persepsi itu tidak muncul pada diri saya. Jujur, saya saja masih kurang lancar, dan lebih memilih sedikit lebih kalem agar tidak stuck saat bicara dengan orang sepuh (tua). Sampai sekarang saya pun masih erusaha belajar dari bapak, ibuk, dan kakak saya. Makin ke sini, uniknya, penduduk setempat sudah mewajarkan perilaku tersebut (bicara ngoko). Sayang sekali bukan? Saya dan teman-teman sedaerah masih bermimpi memiliki sebuah komunitas sosial yang salah satu programnya ‘nguri-nguri kabudayan Jawa’.

The point is, bukan tentang bahasa, tapi bagaimana caranya agar kalian bisa sampai ke rumahku dengan selamat, eh cepat maksudnya. Setelah turun dari Angkot di Pertelon Kabuaran, kamu bisa menaiki ojek (kalo di Jawa ojek, bukan ‘ojeg’) atau naik becak atau minta jemput. Kenapa harus itu? Iya, karena desaku tidak dilalui angkutan (sedih ya? Engga si, biasa aja). Sedikit crita ya, jadi ceritanya dari dulu sudah diusahakan untuk pengadaan angkutan yang mengangkut orang dari Kabuaran-Pituruh (plus minus 6 km), tapi usulan tersebut selalu ditolak karena hanya akan mematikan mata pencaharian ojeg dan tukang becak (bener!).

Sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, tentunya tidak cukup jika hanya mengandalkan pekerjaan di sawah. Bukan karena uang yang mereka dapatkan sedikit dari mengurus sawahnya itu, tapi tipe pekerja keras yang sudah ditanamkan sejak dini oleh nenek moyang mereka menjadikan mereka enggan untuk diam jika sedang menunggu masa panen. Maklum, setelah musim nyebar (menyemai benih), macul (musim mencangkul), musim tandur (tanam padi), matun (menyiangi rumput sekaligus membuang hama) hingga panen cukup lama menunggunya. Oleh karenanya, mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan hal lain, seperti jadi tukang becak, ojeg, dagang, tukang bangunan, dll.

Ketiadaan mobil angkutan juga bermanfaat bagi tingkat kemandirian penduduk setempat. Sebab jika tidak, mungkin hingga sekarang sudah tidak kami jumpai lagi gerombolan anak sekolah yang mengayuh sepedanya menuju sekolah mereka. Perjuangan keras dan kesederhanaan bergegas menuju sekolah yang jaraknya lebih dari 3 km bahkan sampai 7 km mungkin akan punah jika mobil angkutan sudah beroperasi. Mereka menjalaninya dengan santai tanpa mengeluh, dan pasti akan meyisakan kenangan indah bagaimana indahnya bersenda gurau di jalanan bersama temannya dan tidak sedikit yang dimarahi orang-orang tua karena kami mengendarai sepeda seenak sendiri memenuhi jalan tanpa peduli pengguna jalan lain.

Yang ingin saya jelaskan di sini, kasihan jika pekerjaan mereka hilang begitu saja hanya karena ada angkot antardaerah sejauh 6 km tersebut. Toh kalo misalnya angkot tersebut benar-benar ada juga hanya akan melewati beberapa desa saja; desa Kabuaran, Pecarikan, Brengkol, Kembang Kuning, Prapag Kidul, Megulung Kidul, dan Pituruh. Hanyatujuhdesa, 2 desamasukKebumen, yang 5 masukPurworejo. Kalian tahu desaku yang mana? Ya, PECARIKAN namanya. Hanya tinggal menyeberangi jembatan pembatas Pecarikan-Brengkol, kalian bisa seenak hati pindah kabupaten kurang dari hitungan satu menit. Benar-benar di perbatasan kan? Jangan kira desaku seluas kota ya? Yang berada di pinggir jalan raya hanya sekitar 1 km, selebih nya meluas masuk ke dalam gang-gang.

Lanjut, ya… dari turun angkot kalian naik tiga alternatif angkutan tadi, ojeg, jemputan, atau becak. Sepanjang jalan, pandangan kalian akan disuguhi pemandangan pucuk tiga gunung Sumbing, Merbabu, dan Merapi di pagi hari. Hamparan luas sawah dan perbukitan hijau juga akan kalian jumpai sambil menikmati jalanan halus. For your information, sekarang jalanan menuju ke desaku sudah halus (lagi) sejak hampir lima tahun belakangan ini dibiarkan berlubang oleh pemerintah. Mungkin karena tempatnya yang bukan akses utama angkutan antarkota, jadilah dia sedikit lebih dinomorsekiankan dibanding jalanan desa lain. Proposal demi proposal sudah perangkat desa masukkan ke dinas pekerjaan umum atau apalah itu saya tidak paham, tapi baru akhir tahun kemarin (2014) jalanan sepanjang 1,5 km itu membaik. Meskipun kampung dan mungkin sangat kampung, dalam seminggu jalan itu pernah dijadikan pilihan sebagai jalur alternatif Kebumen-Purworejo waktu banjir 2013 kemarin. Seketika disulap menjadi seperti Jakarta. Macet dan becek. Hikmahnya, banyak dagangan pedagang kecil laku dan jalanan semakin rusak. Mungkin karena itu juga jadi proses perbaikan jalannya disegerakan.

Hanya butuh waktu 3-5 menit untuk tiba di desa saya. Setelah selesai melewati pangjangnya hamparan sawah tanpa ada satu rumah pun, lalu kemudian menemukan barisan rumah, menandakan kalian sudah sampai di kampung saya. Memang dekat sih, tapi ya lumayan juga jika harus jalan kaki. Misal jalan di pagi hari sepertinya tidak masalah. Saya dan teman-teman biasa melakukannya, tapi hanya di bulan Ramadhan. Lumayan ramai sekaligus menghirup udara pagi yang masih segar dan berinteraksi dengan pakdhe dan bulik yang hendak pergi ke pasar. Suasana kampung yang sampai sekarang tidak saya temukan di tempat saya merantau. Pernah terbersit apabila sewaktu-waktu desa saya berubah menjadi kawasan industri. Dunia khayalku saat itu berkata: Akan seperti apa kampungku kelak jika sawah sudah tidak ada lagi? pohon kelapa sudah habis? Daun-daun pisang dari ribuan pohon pisang sudah sirna?. Tidak! Semoga masih tetap asri dan sebaik-baik tempat kembali para perantau dalam rangka nostalgia kehidupan masa kecil. Kehidupan yang penuh kesederhanaan, canda dan tawa, tulus, dan apa adanya. Berbicara tentang masa kecil, itu inti dari tulisan saya yang dengan berat hati akan saya potong sampai di sini. Sementara, cukup perkenalan akses menuju tanah kelahiranku itu aja dulu ya… Jangan lewatkan dan tetap ikuti saya!

Senin, 18 Mei 2015

Seperti Angin dan Cemara


Cemara,…
Entah sejak kapan tanaman ini banyak menghiasi tepian pantai.
Aku pernah menyaksikan mereka dengan berbaris rapi dan tampak menghijau di
sebuah bibir pantai di Jogja.
Pernah juga aku temui mereka hanya bertumbuh sendiri tak berteman.

Cemara,…
Walau di musim panas ranting-rantingmu tampak mengering,
engkau masih tetap indah, meski tak hijau dan tampak kecoklatan dari kejauhan.
Engkau juga pohon yang unik.
Aku tak tahu apakah yang ada di setiap pucuk rantingmu itu adalah daun, atau ujung rantingmu yang menghijau,
Yang pasti ujung rantingmu itu lembut dan menyejukkan.

Cemara,…
Pohonmu sebetulnya tidak begitu rindang,
engkau malah tak sanggung menahan tetesan air hujan,
tapi keberadaanmu yang seringkali aku temui di pinggir pantai, menjadi pilihan yang tepat untuk berteduh.
Apakah ini karena engkau diuntungkan dengan tempat keberadaanmu?
Tapi pendapatku itu karena engkau pintar menempatkan dirimu,
hingga disukai banyak orang.

Cemara,...
Pernah juga aku melihat sepasang merpati yang sedang bercanda di tepi pantai, terbang berkejaran karena tiba-tiba hujan turun.
Ternyata mereka tak memilih berteduh di gubug yang hangat,
tapi justru bertengger di rantingmu yang tak berdaun itu.
Mereka justru menikmati tetes hujan yang jatuh,
saling mengepakkan sayap dan berkejaran ke sana ke mari.
Sungguh aneh,
mereka lebih memilih ranting-rantingmu daripada hamparan pasir yang

Cemara,...
Apa engkau tidak menyadari bahwa pilihanmu hidup di tepian pantai harus berhadapan dengan hembusan angin?
Angin yang berhembus setiap hari entah di kala pagi atau sore hari, bahkan seringkali sepanjang hari.
Jika hembusan angin sepoi, ranting-rantingmu bergoyang perlahan, kau seolah mengikuti iramanya.
Jika angin berhembus sedang, engkau pun bergoyang mengikuti hembusannya, begitu pun juga jika hembusan angin sangat kencang, kelakuanmu masih tetap sama,
pohon dan rantingmu tetap bergoyang mengikuti hembusan angin.
Dan engkau masih tetap sama di mataku,
sebagai tanamanan penghias pantai.

Cemara,...
Apakah engkau punya pesan untuk angin, yang kadang merepotkan?
Hembusannya seringkali menjatuhkan beberapa ujung ranting hijau, mengacak-acak susunan barisanmu, bahkan terkadang hembusan angin mematahkan rantingmu.
Aku yakin pasti ada pesan-pesanmu untuknya,
meski kau hanya diam, dan engkau kadang lebih suka diam, biar aku sampaikan saja ya?!

Untukmu, angina,…
Engkau kadang berhembus sepoi, hembusanmu menyejukkan, membuat indah gerakan gemulai ranting-ranting cemara.
Engkau tahu, cemara sangat menyukai itu.
Hembusan sepoimu membuat anak-anak burung berlompatan di ranting cemara dengan bahagia.
Beberapa manusia juga suka berteduh sembari menyandarkan pundaknya di cemara itu sembari melihat indahnya ombak samudera.
Tahukan engkau, angin?
Cemara sangat suka sekali hembusan sepoimu!

Angin,...
Setelah mengembara di tengah samudera yang luas,
engkau kadang berhembus dengan sangat kencang, entah apa yang kau hadapi di luar sana.
Tak bisakan engkau berhembus agak pelan?
Tidak kasihan kah kau pada cemara?
Meski dia hanya berdiri di tepian pantai,
terik panas, dan waktunya untuk anak-anak burung dan sepasang merpati juga melelahkan.

Angin,…
Hembusanmu yang seringkali tak terduga, tak jarang merepotkan cemara.
Apa engkau tak kasihan jika ranting-rantingnya patah dan ujung rantingnya yang menghijau berguguran?
Engkau masih punya angin sepoi yang lebih cemara sukai dan rindukan daripada hembusan kencangmu!

Angin,...
Tapi aku juga bisa memahami jika hembusan kencangmu itu juga kau peruntukkan untuk cemara,
Semata-semata agar ranting-ranting yang sudah mati berjatuhan, dan ujung hijau ranting cemara yang sudah menguning dan layu,
berganti dengan yang baru dan hijau.
Tapi tak bisa kah engkau menitipkan pesan lewat nada hembusanmu agar cemara tahu dan tidak marah?
Karena sungguh cemara adalah pohon unik.

Kini, untukmu, angin dan cemara,...
Kalian berada di tepian pantai hidup berdampingan, saling melengkapi.
Hiduplah dengan harmonis, demi kami, anak-anak burung dan sepasang merpati yang butuh kalian sebagai tempat beteduh dan bersenda gurau.