Selasa, 26 Mei 2015

Berbeda, Meski Sama Diciptakan

Mentari, bolehkah aku sejenak berbicara padamu?

Engkau itu sama seperti diriku, diciptakan oleh Dia Sang Pemilik Alam Semesta.

Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan.
Setiap hari engkau tak pernah lelah memberi, sinar berjuta guna darimu selalu kau pancarkan.
Sedang aku, kadang di kala pagi sudah mengeluh,
jangankan untuk berbagi, mengurus diri aku kadang merasa sungkan.

Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan.
Engkau selalu bersinar indah di pagi hari, dinanti milyaran orang, bahkan jutaan lainnya menantimu dari puncak-puncak terindah di belahan dunia.
Sedang aku, di pagi pun seringkali melangkah tanpa senyum, tanpa sapa, dan tanpa kesyukuran.

Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan.
Tak hanya pagimu yang indah, akhir harimu pun juga sangat indah. Di antara lelahmu, masih engkau hadirkan sinar kuning keemasan yang dinikmati milyaran orang dan jutaan orang di tepian pantai.
Sedang aku, hanya wajah letih, kuyu, dan langkah gontai yang terhias di diri.

Tapi kita berbeda, meski sama diciptakan.
Saat terik sinarmu sangat panas, banyak orang memarahimu, tapi engkau tak pernah berhenti bersinar.
Sedang aku, seringkali hanya ucapan sepele dari orang lain, tersinggung dan merendahkan diri.

Tapi kita berbeda, meski sama diciptakan.
Engkau tak pernah lalai dari kewajibanmu, tak ada cerita mentari berhenti bersinar, meski keberadaanmu abadi sepanjang masa.
Sedang aku, masih saja lalai akan kewajibanku,
meskipun aku tahu hidupku tak akan kekal, dan esok atau lusa aku tak melihat sinarmu lagi.

Tapi kita berbeda, meski sama diciptakan.
Harusnya aku malu padamu, engkau tak pernah lelah apalagi menyerah.
Tak pernah marah meski kadang dianggap membuat susah.
Tak pernah letih memberi, meski hidupmu kekal abadi.

Wahai Sang Pencipta,
Aku tahu mengapa Engkau hadirkan Mentari setiap hari, agar aku banyak belajar darinya.

Mentari, aku tahu, masih saja kita berbeda, meski sama diciptakan.
Karena itu, jangan pernah berhenti untuk mengajariku.


Jumat, 22 Mei 2015

Gelap (yang) Membawa Indah


Malam ini entah sudah purnama yang keberapa. Aku tak mau menghitung dengan menyamakan usiaku yang hampir setengah abad. Kau tahu kenapa? Karena tak setiap purnama datang aku menjumpainya apalagi menyempatkan waktu untuk menikmati suasananya. Akan tetapi, purnama kali ini entah mengapa lain dari biasanya. Aku tak sedang duduk di jalan Malioboro menyaksikan beragam aktivitas para pelancong yang sibuk berbelanja. Aku juga tidak sedang berada di Pendopo Keraton menyaksikan gadis-gadis ayu Jogja berlatih menari. Aku juga tidak sedang di Candi Prambanan menyaksikan pementasan Ramayana atau Arjuna. Malam ini aku hanya di sini, di halaman tempatku melepas lelah, hanya duduk-duduk saja di antara daun pintu yang sengaja aku buka, sedikit menikmati angin malam tanpa secangkir capuccino yang aku sruput atau pun segelas cokelat hangat.
Aku hanya duduk santai saja, melihat sinar bulan yang sedang purnama, menyaksikan gemerlap bintang, dan bersihnya biru langit tanpa awan. Aku juga merasa mala ini terasa lebih indah dari biasanya, atau hanya perasaanku saja? Di antara kekagumamku pada suasana malam ini, aku berbicara pada diriku sendiri peri hal inilah yang akan aku ceritakan padamu kawan. Semoga kau sudi membacanya. Untukmu, engkau boleh membaca ceritaku ini dengan ditemani secangkir kopi atau teman terkasihmu.
Aku hanya bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya yang membuat purnama begitu indah? Apakah sinar rembulan yang terang, terbitnya bulan yang terlihat penuh, birunya langit, atau karena gemerlap bintang yang menghiasi langit? Lama kupikirkan apa penyebabnya, mungkin karena diri ini terlalu bodoh sehingga susah menemukan jawabannya. Aku berharap, jiwa ini menemukan sebuah jawaban yang menggugah semua orang, tapi sayang saya hanya orang biasa. Sempat berpikir untuk menyeduh secangkir kopi demi sebuah inspirasi, tapi perut sedang kurang bersahabat. Ah, daripada terlalu lama berpikir kuputuskan saja jawabanku itu.
Terangnya sinar rembulan, penuhnya bulan kala purnama, birunya langit, dan gemerlapnya bintang-bintang di langit menurutku bukanlah penyebab purnama ini menjadi indah. Bukan, bukan mereka itu penyebabnya! Mereka itu pelengkap. Ya, pelengkap kesempurnaan purnama. Lima belas hari sebelum purnama terbitlah penyebabnya. Saat bumi gelap dengan sempurna, dan rembulan tak nampak sama sekali, malam yang gelap itulah yang menyebabkan purnama istimewa. Gelap gulita dan terang benderang adalah dua hal yang saling bertolak belakang, dan seringkali menjadikan sesuatu itu menjadi istimewa. Sempurna, salah satunya perihal purnama malam ini.
Boleh sedikit aku kaitkan dengan realitas kehidupan ini, kawan? Paling tidak agar tulisan ini bisa lebih panjang agar seruputan kopimu yang masih banyak tidak sia-sia. Akan tetapi, aku tahu engkau hanya diam, diam yang membuatmu terus membacanya. Aku merenungi diri bahwa hidup ini juga seperti rotasi rembulan, dari gelap pekat menuju ke terang benderang dan kembali lagi ke gelap pekat demi sebuah kesempurnaan. Boleh juga kalau kita memaknainya seperti perputaran roda. Roda itu akan menjadi roda jika dia berputar. Jika tidak berputar, diam, roda itu tidak berfungsi, dan boleh jadi tidak bisa dikatakan roda.
Bukankah hidup ini juga begitu, kawan? Dia harus berputar demi sebuah kesempurnaan hidup. Jika hidup tidak berputar, dia akan stagnan, mengalami kejenuhan dan tidak ada kisah perjuangan. Sehingga tidak jarang kita menemui orang yang bosan dalam hidup meski berada pada kondisi nyaman atau sebaliknya akan merasa berputus asa karena kesulitan yang terus menerus. Hidup memang harus berputar, jika dia tidak berputar bisa jadi kita hanya sedang meniti hidup, yang melewatinya begitu saja tanpa mangambil makna sedikit pun dari perjalanan hidup kita masing-masing.
Semakin beranjak malam, purnama semakin indah, semakin ingin menemaninya hingga hilang di esok fajar, tapi tubuh sudah menuntut haknya untuk berebah. Kurebahkan tubuhku di pembaringan sembari menelisik takdir esok, seperti apa perjalananku selanjutnya.



Selasa, 19 Mei 2015

Pecarikan Namanya

Kupetikkan jemari pada keyboard komputer yang sehari-harinya menemani aktifitas baruku lebih dari sebulan ini. Playlist lagu pun tak menghilangkan rasa kantukku siang ini. Kuberanikan diri sedikit melipir dari rutinitas yang sudah membosankan seharian ini. Mencari referensi tentang tokoh terkenal yang namanya diambil dari Asmaul Husna rupanya tak semudah mencari nama ‘Muhammad’ di google yang setia tanpa lelah mendukung tugasku sehari-hari. Tanpa pikir panjang akhirnya tertulis juga tulisan ini. Entah bagaimana nanti hasilnya, setidaknya aku sudah sedikit terhibur dengan keisenganku ini. Selain mengobati jenuh, kali ini aku menulis untuk menepati janji diri sendiri agar mulai konsisten menulis tentang apa pun. Kasihan blogku sudah lama menganggur (doakan semoga produktif). Kalo kata penulis-penulis beken “Tulis saja apa yang ada di otak! Tabrak aja apa yang terlintas di pikiran! Ga usah dipikirin bagus engganya, toh nanti bisa dibenerin lagi” Yasudah, aku ikutin saja.

Ada yang menarik dari keinginanku kali ini. Kali ini akan aku ceritakan kepada kalian tentang sebuah desa (kalo kata dosen dan temen-temen namanya ‘kampung’) di pojok sebuah kabupaten sekaligus menjadi pembatas dua kabupaten, kabupaten ‘ngapak’ dan kabupaten ‘o’. Ada yang tidak paham dengan maksudku? Suatu saat akan aku ceritakan atau mungkin nanti kalian akan tahu setelah membaca tulisan abal-abalku hingga selesai (semoga ya). Sebelumnya aku belum pernah menuliskan tentang kampung ini. Bahkan mungkin kusebut-sebut saja tidak. Salah memang, aku malah lebih menyebut apa itu Depok, ngapain saja di sana, dan siapa saja teman-temanku di sana. Selain Depok, mungkin aku juga pernah menuliskan Purworejo. Yap, aku cinta banget dengan kedua kota itu-yang satu desa kabupaten-meskipun keduanya bukan kota kelahiranku. Bukan berarti aku tidak cinta dengan kampung halamanku lho ya. Depok ada di hati karena aku merantau di sana hampir lima tahun ini (2015) dan Purworejo sering kusebut karena selama SMP dan SMA aku sekolah di kota tersebut. Jadi jangan heran kalo sebagian besar teman tahunya aku asli Purworejo. Jangan kaget juga bahwa banyak sekali teman-temanku yang tinggal di sana (yaiyalah, orang enam tahun sekolahnya). Miris memang, bahkan mungkin aku bisa menghitung berapa banyak temanku yang dari Kebumen. Dan mereka adalah temanku saat di sekolah dasar dan teman satu kampung. Beberapa adalah tetangga desa dan teman yang ketemu di Depok ketika sudah kuliah. *kadang saya merasa sedih*

Kebumen?? Iya, Kebumen. Kampungku yang akan segera kuceritakan ini sebenarnya suatu desa bagian dari Kebumen yang berada di pojok timur utara bagian terkecil dari kecamatan Prembun. Jika kamu turun dari bus kota, nanti kamu akan menemui sebuah terminal yang menjadi jalur utama Jakarta-Semarang atau Jakarta-Yogyakarta. Intinya dia kota yang berbentuk kecamatan. Jika kamu hendak menuju ke sana (ke kampungku), dari terminal Prembun, perlu menaiki angkutan warna kuning jurusan Prembun-Wadaslintang (sebuah waduk yang cukup terkenal. Kalo kalian ga tahu, berarti memang belum terkenal 100%). Jangan salahkan aku jika aku tidak mengetahui jalur berapa angkutan itu. Mungkin tidak lebih dari sepuluh kali aku menaikinya sejak kecil hingga sekarang. Dan terakhir kali aku di dalam angkutan itu saat kelas 6 SD bersama mbak sepupuku yang sedang ngidam dan mual-mual karena bau solar yang menyengat. Sekitar tahun 2003 atau 2004 berarti lah ya.

Ok, back to the point. Sebenarnya hanya butuh waktu sekitar 15 menit sampai kalian tiba di tempat yang hendak menuju kampungku itu. Maklum ya, di sini jarak 6 km tidak membutuhkan jarak tempuh lama seperti di kota besar (sebut saja Jakarta). Itu pun 15 menit karena angkotnya berjalan pelan sebagai ajang pak sopir untuk mendapatkan penumpang banyak.

Nah, bilang saja “Pertelon Kabuaran nggih, Pak!” kalo kalian ingin ke kampungku. Pak Sopirnya sudah hafal kok. Pertelon (bahasa Jawa) itu artinya ‘pertigaan’. Kalo Kabuaran, nama desa yang dilewati angkutan. Sedikit lebih modern dari kampungku. Kalo kata ‘nggih’ itu bahasa halusnya basa Jawa ‘yo’. Memang seperti itu unggah ungguh di Jawa, cenderung halus dan sopan jika berbicara dengan orang yang lebih tua dan belum begitu kenal.

Itu yang saya suka dari Jawa. Halus dan lembut. Hingga sekarang saya selalu rindu untuk bicara dengan bahasa krama (bahasa halus). Ah, tapi sayang makin ke sini, kemampuan anak muda untuk ngomong krama tidak semahir zaman dulu. Selain pendidikan di sekolah yang kurang begitu ditekankan untuk mandalaminya, materi pengajaran Bahasa Jawa juga sudah berkurang. Rasa-rasanya mereka tidak bangga dengan bahasa ibu mereka. Adanya hanya plegak-pleguk kalo diajak ngomong krama. Hanya tahu ‘nggih, mboten, dan dereng’ , selebihnya nihil. Ada ide gimana caranya melestarikannya? Timbul persepsi “anak ini kurang ajar” jika kami berbicara pake bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua. Itu yang sampai sekarang saya jaga agar persepsi itu tidak muncul pada diri saya. Jujur, saya saja masih kurang lancar, dan lebih memilih sedikit lebih kalem agar tidak stuck saat bicara dengan orang sepuh (tua). Sampai sekarang saya pun masih erusaha belajar dari bapak, ibuk, dan kakak saya. Makin ke sini, uniknya, penduduk setempat sudah mewajarkan perilaku tersebut (bicara ngoko). Sayang sekali bukan? Saya dan teman-teman sedaerah masih bermimpi memiliki sebuah komunitas sosial yang salah satu programnya ‘nguri-nguri kabudayan Jawa’.

The point is, bukan tentang bahasa, tapi bagaimana caranya agar kalian bisa sampai ke rumahku dengan selamat, eh cepat maksudnya. Setelah turun dari Angkot di Pertelon Kabuaran, kamu bisa menaiki ojek (kalo di Jawa ojek, bukan ‘ojeg’) atau naik becak atau minta jemput. Kenapa harus itu? Iya, karena desaku tidak dilalui angkutan (sedih ya? Engga si, biasa aja). Sedikit crita ya, jadi ceritanya dari dulu sudah diusahakan untuk pengadaan angkutan yang mengangkut orang dari Kabuaran-Pituruh (plus minus 6 km), tapi usulan tersebut selalu ditolak karena hanya akan mematikan mata pencaharian ojeg dan tukang becak (bener!).

Sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, tentunya tidak cukup jika hanya mengandalkan pekerjaan di sawah. Bukan karena uang yang mereka dapatkan sedikit dari mengurus sawahnya itu, tapi tipe pekerja keras yang sudah ditanamkan sejak dini oleh nenek moyang mereka menjadikan mereka enggan untuk diam jika sedang menunggu masa panen. Maklum, setelah musim nyebar (menyemai benih), macul (musim mencangkul), musim tandur (tanam padi), matun (menyiangi rumput sekaligus membuang hama) hingga panen cukup lama menunggunya. Oleh karenanya, mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan hal lain, seperti jadi tukang becak, ojeg, dagang, tukang bangunan, dll.

Ketiadaan mobil angkutan juga bermanfaat bagi tingkat kemandirian penduduk setempat. Sebab jika tidak, mungkin hingga sekarang sudah tidak kami jumpai lagi gerombolan anak sekolah yang mengayuh sepedanya menuju sekolah mereka. Perjuangan keras dan kesederhanaan bergegas menuju sekolah yang jaraknya lebih dari 3 km bahkan sampai 7 km mungkin akan punah jika mobil angkutan sudah beroperasi. Mereka menjalaninya dengan santai tanpa mengeluh, dan pasti akan meyisakan kenangan indah bagaimana indahnya bersenda gurau di jalanan bersama temannya dan tidak sedikit yang dimarahi orang-orang tua karena kami mengendarai sepeda seenak sendiri memenuhi jalan tanpa peduli pengguna jalan lain.

Yang ingin saya jelaskan di sini, kasihan jika pekerjaan mereka hilang begitu saja hanya karena ada angkot antardaerah sejauh 6 km tersebut. Toh kalo misalnya angkot tersebut benar-benar ada juga hanya akan melewati beberapa desa saja; desa Kabuaran, Pecarikan, Brengkol, Kembang Kuning, Prapag Kidul, Megulung Kidul, dan Pituruh. Hanyatujuhdesa, 2 desamasukKebumen, yang 5 masukPurworejo. Kalian tahu desaku yang mana? Ya, PECARIKAN namanya. Hanya tinggal menyeberangi jembatan pembatas Pecarikan-Brengkol, kalian bisa seenak hati pindah kabupaten kurang dari hitungan satu menit. Benar-benar di perbatasan kan? Jangan kira desaku seluas kota ya? Yang berada di pinggir jalan raya hanya sekitar 1 km, selebih nya meluas masuk ke dalam gang-gang.

Lanjut, ya… dari turun angkot kalian naik tiga alternatif angkutan tadi, ojeg, jemputan, atau becak. Sepanjang jalan, pandangan kalian akan disuguhi pemandangan pucuk tiga gunung Sumbing, Merbabu, dan Merapi di pagi hari. Hamparan luas sawah dan perbukitan hijau juga akan kalian jumpai sambil menikmati jalanan halus. For your information, sekarang jalanan menuju ke desaku sudah halus (lagi) sejak hampir lima tahun belakangan ini dibiarkan berlubang oleh pemerintah. Mungkin karena tempatnya yang bukan akses utama angkutan antarkota, jadilah dia sedikit lebih dinomorsekiankan dibanding jalanan desa lain. Proposal demi proposal sudah perangkat desa masukkan ke dinas pekerjaan umum atau apalah itu saya tidak paham, tapi baru akhir tahun kemarin (2014) jalanan sepanjang 1,5 km itu membaik. Meskipun kampung dan mungkin sangat kampung, dalam seminggu jalan itu pernah dijadikan pilihan sebagai jalur alternatif Kebumen-Purworejo waktu banjir 2013 kemarin. Seketika disulap menjadi seperti Jakarta. Macet dan becek. Hikmahnya, banyak dagangan pedagang kecil laku dan jalanan semakin rusak. Mungkin karena itu juga jadi proses perbaikan jalannya disegerakan.

Hanya butuh waktu 3-5 menit untuk tiba di desa saya. Setelah selesai melewati pangjangnya hamparan sawah tanpa ada satu rumah pun, lalu kemudian menemukan barisan rumah, menandakan kalian sudah sampai di kampung saya. Memang dekat sih, tapi ya lumayan juga jika harus jalan kaki. Misal jalan di pagi hari sepertinya tidak masalah. Saya dan teman-teman biasa melakukannya, tapi hanya di bulan Ramadhan. Lumayan ramai sekaligus menghirup udara pagi yang masih segar dan berinteraksi dengan pakdhe dan bulik yang hendak pergi ke pasar. Suasana kampung yang sampai sekarang tidak saya temukan di tempat saya merantau. Pernah terbersit apabila sewaktu-waktu desa saya berubah menjadi kawasan industri. Dunia khayalku saat itu berkata: Akan seperti apa kampungku kelak jika sawah sudah tidak ada lagi? pohon kelapa sudah habis? Daun-daun pisang dari ribuan pohon pisang sudah sirna?. Tidak! Semoga masih tetap asri dan sebaik-baik tempat kembali para perantau dalam rangka nostalgia kehidupan masa kecil. Kehidupan yang penuh kesederhanaan, canda dan tawa, tulus, dan apa adanya. Berbicara tentang masa kecil, itu inti dari tulisan saya yang dengan berat hati akan saya potong sampai di sini. Sementara, cukup perkenalan akses menuju tanah kelahiranku itu aja dulu ya… Jangan lewatkan dan tetap ikuti saya!

Senin, 18 Mei 2015

Seperti Angin dan Cemara


Cemara,…
Entah sejak kapan tanaman ini banyak menghiasi tepian pantai.
Aku pernah menyaksikan mereka dengan berbaris rapi dan tampak menghijau di
sebuah bibir pantai di Jogja.
Pernah juga aku temui mereka hanya bertumbuh sendiri tak berteman.

Cemara,…
Walau di musim panas ranting-rantingmu tampak mengering,
engkau masih tetap indah, meski tak hijau dan tampak kecoklatan dari kejauhan.
Engkau juga pohon yang unik.
Aku tak tahu apakah yang ada di setiap pucuk rantingmu itu adalah daun, atau ujung rantingmu yang menghijau,
Yang pasti ujung rantingmu itu lembut dan menyejukkan.

Cemara,…
Pohonmu sebetulnya tidak begitu rindang,
engkau malah tak sanggung menahan tetesan air hujan,
tapi keberadaanmu yang seringkali aku temui di pinggir pantai, menjadi pilihan yang tepat untuk berteduh.
Apakah ini karena engkau diuntungkan dengan tempat keberadaanmu?
Tapi pendapatku itu karena engkau pintar menempatkan dirimu,
hingga disukai banyak orang.

Cemara,...
Pernah juga aku melihat sepasang merpati yang sedang bercanda di tepi pantai, terbang berkejaran karena tiba-tiba hujan turun.
Ternyata mereka tak memilih berteduh di gubug yang hangat,
tapi justru bertengger di rantingmu yang tak berdaun itu.
Mereka justru menikmati tetes hujan yang jatuh,
saling mengepakkan sayap dan berkejaran ke sana ke mari.
Sungguh aneh,
mereka lebih memilih ranting-rantingmu daripada hamparan pasir yang

Cemara,...
Apa engkau tidak menyadari bahwa pilihanmu hidup di tepian pantai harus berhadapan dengan hembusan angin?
Angin yang berhembus setiap hari entah di kala pagi atau sore hari, bahkan seringkali sepanjang hari.
Jika hembusan angin sepoi, ranting-rantingmu bergoyang perlahan, kau seolah mengikuti iramanya.
Jika angin berhembus sedang, engkau pun bergoyang mengikuti hembusannya, begitu pun juga jika hembusan angin sangat kencang, kelakuanmu masih tetap sama,
pohon dan rantingmu tetap bergoyang mengikuti hembusan angin.
Dan engkau masih tetap sama di mataku,
sebagai tanamanan penghias pantai.

Cemara,...
Apakah engkau punya pesan untuk angin, yang kadang merepotkan?
Hembusannya seringkali menjatuhkan beberapa ujung ranting hijau, mengacak-acak susunan barisanmu, bahkan terkadang hembusan angin mematahkan rantingmu.
Aku yakin pasti ada pesan-pesanmu untuknya,
meski kau hanya diam, dan engkau kadang lebih suka diam, biar aku sampaikan saja ya?!

Untukmu, angina,…
Engkau kadang berhembus sepoi, hembusanmu menyejukkan, membuat indah gerakan gemulai ranting-ranting cemara.
Engkau tahu, cemara sangat menyukai itu.
Hembusan sepoimu membuat anak-anak burung berlompatan di ranting cemara dengan bahagia.
Beberapa manusia juga suka berteduh sembari menyandarkan pundaknya di cemara itu sembari melihat indahnya ombak samudera.
Tahukan engkau, angin?
Cemara sangat suka sekali hembusan sepoimu!

Angin,...
Setelah mengembara di tengah samudera yang luas,
engkau kadang berhembus dengan sangat kencang, entah apa yang kau hadapi di luar sana.
Tak bisakan engkau berhembus agak pelan?
Tidak kasihan kah kau pada cemara?
Meski dia hanya berdiri di tepian pantai,
terik panas, dan waktunya untuk anak-anak burung dan sepasang merpati juga melelahkan.

Angin,…
Hembusanmu yang seringkali tak terduga, tak jarang merepotkan cemara.
Apa engkau tak kasihan jika ranting-rantingnya patah dan ujung rantingnya yang menghijau berguguran?
Engkau masih punya angin sepoi yang lebih cemara sukai dan rindukan daripada hembusan kencangmu!

Angin,...
Tapi aku juga bisa memahami jika hembusan kencangmu itu juga kau peruntukkan untuk cemara,
Semata-semata agar ranting-ranting yang sudah mati berjatuhan, dan ujung hijau ranting cemara yang sudah menguning dan layu,
berganti dengan yang baru dan hijau.
Tapi tak bisa kah engkau menitipkan pesan lewat nada hembusanmu agar cemara tahu dan tidak marah?
Karena sungguh cemara adalah pohon unik.

Kini, untukmu, angin dan cemara,...
Kalian berada di tepian pantai hidup berdampingan, saling melengkapi.
Hiduplah dengan harmonis, demi kami, anak-anak burung dan sepasang merpati yang butuh kalian sebagai tempat beteduh dan bersenda gurau.