Jumat, 26 Juni 2015

Terima kasih, Jasmine

Pondok Jasmine: Tentang 3 tahun, tentang Marina teman suka duka mulai dari asrama dulu (bahkan sejak kelas X) tentang Ai si tangan kreatif yang selalu menolong kemampuanku berbahasa Arab dan pelampiasan kekesalanku, tentang si kembar Ina Inta dan Pepeb Nikur yang selalu menjadi pelarian kalo lagi penat di kamar, tentang Mbak El dan Nia teman satu jurusan yang kalo udah ngumpul entah sampai kapan akan berakhir obrolan kami, tentang Cita yang kayak penghuni Jasmine karena seriiing banget berkunjung (ngerjain tugas, curhat, nemenin aku, santai-santai, dll) tentang skripsi dan tentunya ada kisah Fitri dan para anak bimbingannya Pak ***z**, tentang Nabila penghuni tidak menetap yang langganan makanan delivery Pak Lu'lu, tentang Meita anak kampus tetangga yang udah kayak adek sendiri, dan yang jelas di Jasmine seakan-akan hanya memiliki tetangga yang berprofesi sebagai "tukang": Ibu-ibu penjual nasi belakang yang makanannya selalu fresh, aa warkop yang siap dibrisikin setiap kedatangan kami segerombolan, bapak penjual makanan yang murahnya ga ketulungan, abang2 warung kelontong, ibu-ibu penjual pulsa, dan muadzin masjid yang satu tembok dengan dinding kos. Panggilan (lewat sms/wa karena aku ga mau teman2 teriak2) khas yang sampe sekarang masih bikin kangen kalo temen dateng, "Hik, aku udah di bawah / Hik, depan gerbang/ Hik, tolong bukain gerbangnya ya/ Aku otw dr kost, Hik, 5 menit lagi sampai. Stay depan gerbang ya.. atau Hikmaaaaaaa kamu di mana? Aku udah sampai drtd. Aku telpon ga diangkat. Kamu tidur? Hikmaaaaa." Anyway, aku kangen ngumpul diserbu kalian (cewek2 Arab) dalam rangka sekadar ngumpul-ngumpul saja sambil sesekali ngerjain tugas (alibi ngegosip emak-emak). Kapan kita tidur sempit-sempitan lagi?? Kapan lagi aku bisa menegur kalian dengan teguran, "Jangan kenceng2, udah jam12 malem, yang lain kebrisikan. Nanti kalian diusir." Hahahaha
Terima kasih, Jasmine... kalo bukan karena rutinitas mungkin aku masih betah jika harus menghuni kamar yang kata teman-teman "lain dari yang lain" :p
Terakhir, semoga bapak dan ibu kost beserta Io' putra mereka selalu sehat dalam lindungan-Nya :')

Cc: Rida, Ely, Banan, Uci, Syara, Siro, Opi, Erika, Kunie, Riri, Nidya, Elma, Umi, dan siapa pun (ga selesai2 ngetiknya) yang sudah pernah maen ke Jasmine :) Terima kasih untuk kaliaaaaaaan.

Ditulis pada 27 Juni 2015 di kamarnya Marina, Pondok Jasmine (Jl. Margonda Raya Gg. Al-furqon No. 22 Rt.04 Rw.05 Pondok Cina, Beji, Depok, 16434)
Fiuuuh masih inget dengan alamatnya.
*dalam rangka nostalgia, eh napak tilas ding

Kamis, 11 Juni 2015

Goresan Senja

Ketika hatiku berlabuh, ku sadar fisikmu semakin lama semakin tak indah, tapi ku yakin cintamu semakin lama akan semakin bertumbuh, terus tumbuh hingga berbuah, dan itu yg membuatmu semakin indah, dan melebihi keindahan fisikmu.

wahai belahan jiwa, aku tahu kelak akan ada sulit saat mendampingiku, tapi bukankan sulit itu yg akan semakin kuat mengikat hati kita.

Selasa, 02 Juni 2015

Sejuta Warna Cinta

Ketika cinta bersaksi atas dua insan yang saling membangun cinta, beragam warna dan cerita menghiasi lembar hidup keduanya.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia genggam erat jemariku, dia tatap lekat kedua mataku, tanpa kata, tanpa seikat bunga juga tanpa puisi. Itulah ekpresi cintanya kepadaku, dia yang telah memilihku, ekspresi sederhana, bahkan bagi sebagian orang mungkin tiada makna, namun bagiku itu istimewa, karena seperti itulah dia.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia berikan aku setangkai bunga, sebait puisi yang dia ciptakan sendiri, tak lupa lantunan sebuah lagu nan romantis dia hadiahkan sebagai pelengkap ekspresi cintanya. Jangan tanya bagaimana perasaanku, Aku sangat bahagia, bahkan aku ingin dia melakukannya setiap hari untukku, seperti itulah dia yang telah memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia sangat pemalu, bahasa tubuhnya kaku, senyum pun jarang terhias dari bibirnya. Tapi diam-diam dia memperhatikanku. Meskipun aku berharap dia merengkuh pundakku dan membisikkan seuntai puisi di telingaku, namun seperti itu saja sudah cukup bahagia buatku, itulah dia yang memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia terlihat salah tingkah, dia kadang menggandeng tanganku, merengkuh pundakku, membisikkan sesuatu di telingaku, bahkan dia juga mencubit pipiku. Aku sebenarnya malu, tingkah laku kami disaksikan banyak orang yang datang waktu itu. Aku hanya terdiam saja, hanya rona merah wajaku yang terlihat. Itulah dia, dia yang telah memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, dia menyediakan beragam makanan di belakang tempat duduk kami. Di kala senggang dia menyempatkan diri untuk menyuapiku, dan dia memohon dengan sangat agar aku bersedia membuka mulutku. Entah sudah berapa jenis makanan yang aku rasakan, tetap saja dia terus menyuapiku. Itulah dia, dia yang memilihku, dia istimewa.

Saat hari pertama aku bersamanya, beberapa kali cincin pemberiannya terjatuh saat dia berusaha memasukkannya di jemariku. Aku lihat tangannya bergetar dan keringatnya berkucuran. Akhirnya cincin itu berhasil menghiasi jemariku, setelah dibantu ibunya, tapi aku tetap bahagia, itulah dia yang memilihku, dia istimewa.


Apa pun ekpresinya di hari pertama saat bersamaku, semuanya sangat indah dan membahagiakan. Aku jadi tahu siapa dirinya dan bagaimana ekpresi cintanya di hari pertama bersamaku. Aku takkan bisa melupakan hingga diriku menua bersamanya.

Setelah hari itu, Aku meminta dia untuk terus mencintaiku. Meminta ekpresi cintanya untuk tak lelah menuntunku pada ketaatan pada-Nya, membangunkanku untuk turut dalam tahajjud bersamanya, selalu sabar atas segala kekuranganku, tak henti menasihatiku dalam kebaikan, dan berjanji setia bersamaku dalam menggapa jannah-Nya, hingga diri ini menua. Karena seperti itulah ekspresi cinta yang disyari`atkan oleh Sang Pemilik Cinta.