Langsung ke konten utama

Postingan

Tak Sebanding

Sudah menjadi rahasia umum tanggal 22 Desember merupakan hari spesial bagi para sosok wanita yang telah melahirkan buah hatinya. Kenapa hari itu jatuh pada tanggal 22 pun aku kurang tahu, tapi ya sudahlah ikuti saja apa yang sudah ada (hehe). Pukul 5 pagi kukirimkan pesan singkat ke nomer wanita yang paling aku sayangi di seberang provinsi sana. Assalamu’alaykum, Ibuk. Selamat Hari Ibu ya, buk. Terima kasih telah mendidik kami dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan. Tetaplah menjadi ibuk kebanggaan bagi mas, Rifqi, Hatta’, dan aku tentunya. Semoga pengorbanan dan perjuangan ibuk dibalas di surga-Nya kelak. Aamiin. Salam Kecup untuk ibukku yang shalihah ini. Kurang sopan memang aku mengucapkannya melalui sms saja, tapi mau bagaimana lagi? Untuk menelepon ibuk, bapak, atau orang rumah lainnya di pagi hari kurang pas rasanya. Mereka pasti sedang sibuk dengan rutinitas masing-masing, masak, bersih-bersih rumah, siap-siap   pergi sekolah, maupun yang lainnya. So, jarang sekali...

Rintihan

Aku tertusuk… Bukan karena busur cinta Dan  bukan karena pisau tajam Tapi.. . Tusukan dari bibir indahmu Bibir yang selalu memakiku Bibir yang selalu menyindirku dan bibir yang selalu merendahkanku Membalas? Oh tidak.. Tersinggung? Jelas… Bukan tak ada alasan Beribu alasan kau tunjukkan padaku Apa karena kau tak suka? Tak suka dengan diriku? Dengan hadirku? Bahkann dengan langkahku? Memang, Hadirku hanya mengusikmu Mengusik kebahagiaanmu Langkahku taks selalu pas di depanmu Tapi, tak bisakah kau sedikit sabar? Sabar akan semua kekuranganku? Jika inginmu aku pergi Ku akan pergi Pergi dengan do’a Do’a yang membimbingmu Membimbingmu pergi dari sifat burukmu itu. Langkahku tak selalu pas di depanmu Tapi, tak bisakah kau sedikit sabar? Sabar akan semua kekuranganku? Jika inginmu aku pergi Ku akan pergi Pergi dengan do’a Do’a yang membimbingmu Membimbingmu pergi dari sifat burukmu itu  

Apa Mau

Tidur, tapi tak lelap Sadar, tapi tak sepenuhnya Berguna, tapi tak selamanya Senang, tapi penuh ganjalan Rapuh, terkadang bangkit Bahagia ketika cahaya datang Gelap pun datang merusak semua Enggan aku mengeluh Mengeluh untuk apa? Semua itu Ya, semua itu hanya dari-Nya Hanya senyuman Senyuman yang membahagiakanku Bahagia karena pemberian-Nya Apapun itu

Kalah

Whuaaaa kamu yang berbahagia..... ga nyangka ga nyangka.... Nindha, Nindha, Nindha..... kau menang! Menang dari kami SMP kita maen ke mana-mana bareng SMA kita satu sekolah juga Satu kamar bahkan (cuma 3 bulan, si) Untuk masalah yang satu ini Kenapa kamu ga nunggu kami sih? Hahahaha... ga penting yak? Barakallah ya Boleh dong bagi-bagi kisah.  101112

It's Me

Entah pada siapa aku harus mengadu. Pada Ibuk? Memang sebaiknya... tapi aku tak ingin menjadi anak manja yang sedikit-sedikit mengadu padanya. Pada Bapak? Sudah terlalu banyak beban yang beliau tanggung. Mas atau kedua adikku, mungkin bisa. Tapi apakah mereka mau memaklumi masalah apa yang sebenarnya sedang aku hadapi saat ini? Terlalu sepele memang masalahku, namun aku tak bisa menyepelekan ini terus menerus. Aku capek... jujur! Tak pantas memang untuk seumuran anak 19 tahun harus bersikap layaknya anak TK seperti ini. Malu aku pada keponakanku yang imut itu jika aku harus menangis. Hanya ini yang bisa aku ungkapkan untuk menyimpan rapi semua hal yang selama ini membebaniku. Aneh memang, tapi terlalu bingung memulainya dari mana.   Aku iri pada mereka yang bisa cuek akan gerak gerik orang. Iri pada mereka yang mau cerita selengkap mungkin tentang apa yang akan dan telah mereka ceritakan. Seratus persen iri. Kenapa aku tidak? Aku yang terlalu tertutup. Tertutup untuk hal-ha...

Bukan benci

Saya: Buk, gimana ya caranya biar ga sebel sama orang? Ibuk: ya, istighfar, ingat kebaikan orang itu kepada kita Saya: iya, buk. Tapi tetep aja sebel.. Ibuk: itu kan kalo kita bersu'udzan terus... husnudzan dong, nak Saya: (mikir) Ga ngerti lagi gimana caranya... Salah? Emang salah... tapi ya sudahlah. Sifatnya yang membuatku memperlakukannya seperti ini. Buruk memang. Semoga akan membaik. secepatnya.