Langsung ke konten utama

Rintik Kerapuhan

Banyak hal yang (sebenarnya) ingin aku ceritakan di sini, meski peristiwa ini tidak lebih dari 25 menit saja. Diawali dari dering telepon yang berbunyi dan suara seorang laki-laki selama 1 minggu ini tak kudengar kabarnya, ternyata malam ini dia menyapaku dengan suara yang sangat pelan dan terbayang kelemahan pada dirinya. Pertama kali mendengar sapaannya pun aku langsung bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya saat ini ia rasakan. Ia yang sejak kecil selalu menjadi laki-laki yang gagah dan lantang dalam suara, kini malam ini jauh dari biasanya. Dalam sekejap aku merindu cercaan menyentaknya kepadaku, nasihat yang tanpa basa dan basi ketika aku berbuat salah, dan suruhan yang kadang membuatku kesal, tapi justru sangat kurindukan kehadirannya malam ini. Keberadaannya yang tak dekat membuatku ingin menghempas dalam sapaan lembut tubuhnya wajarnya seorang adik yang lama tak jumpa dengan kakaknya. Suara yang lemah dan desahan nafas yang semakin lama memelan semakin membikin hati ini teriris. Apa yang kamu rasakan, Mas? Aku di sini ada untukmu. Dua puluh dua tahun aku mengenalmu, hanya malam ini kamu yang pantang untuk terlihat jatuh di depan adikmu kini malah kamu tunjukkan. Kamu pernah bilang bahwa saat ini sudah tidak ada yang memercayaimu, tapi tidak demikian denganku. Baik-buruk, terang-kelam, suka-duka, suram-ceria masa lalumu, aku tetap adikmu yang selalu ada untukmu. Bukankah kamu adalah sosok yang banyak memberi asupan apa pun kepadaku? Hanya doa yang bisa aku berikan sebagai balasan atas apa yang kamu berikan untukku. Semoga ribuan pintu terbuka untuk memudahkan jalanmu. Be strong, Brother... Let me give my best support to you.

Depok, 31 Juli 2015 pkl. 21.49 (di bawah sinar blue moon)

Aku yang kini merindu kegagahanmu :')

*Rabb, jaga dia, titip dia, semoga istiqamah selalu membersamainya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejuta Warna Cinta

Ketika cinta bersaksi atas dua insan yang saling membangun cinta, beragam warna dan cerita menghiasi lembar hidup keduanya. Saat hari pertama aku bersamanya, dia genggam erat jemariku, dia tatap lekat kedua mataku, tanpa kata, tanpa seikat bunga juga tanpa puisi. Itulah ekpresi cintanya kepadaku, dia yang telah memilihku, ekspresi sederhana, bahkan bagi sebagian orang mungkin tiada makna, namun bagiku itu istimewa, karena seperti itulah dia. Saat hari pertama aku bersamanya, dia berikan aku setangkai bunga, sebait puisi yang dia ciptakan sendiri, tak lupa lantunan sebuah lagu nan romantis dia hadiahkan sebagai pelengkap ekspresi cintanya. Jangan tanya bagaimana perasaanku, Aku sangat bahagia, bahkan aku ingin dia melakukannya setiap hari untukku, seperti itulah dia yang telah memilihku, dia istimewa. Saat hari pertama aku bersamanya, dia sangat pemalu, bahasa tubuhnya kaku, senyum pun jarang terhias dari bibirnya. Tapi diam-diam dia memperhatikanku. Meskipun aku berharap dia mere...

Setahun Sudah

Sesosok orang yang awalnya tak kukenal, lelaki asing yang awalnya bukan siapa-siapa kini menjelma menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap kehidupanku; menanggungku, memenuhi kebutuhan lahir dan batinku. Dan kini, 366 hari kita menjalani cinta bersama, membangun masa depan indah keluarga kita . Sang Maha Kuasa ingin kita melesat bersama dalam suka maupun duka. Meski aku kalah telak dalam segala hal, tapi engkau selalu sabar menuntunku. Suamiku, terima kasih untuk cinta, kasih, sayang, maaf, pengertian, dan semuanya. Semoga keberkahan selalu menaungi keluarga kita. I love you more than you love me. _"Karena berkah-Nya tentu tak bisa dinilai hanya dari seberapa banyak tawa dan bahagia kita saat bersama. Karena berkah-Nya boleh jadi hadir setelah kita sama-sama berpelukan saling memaafkan, menikmati kesulitan penuh kesyukuran, juga bergenggaman dalam wujud penerimaan. Karena kita bukan hanya untuk dunia, melainkan sampai surga-Nya." (@fufuelmart)

Mengeluh? Tidak ada dalam “kamus”

Aku kagum dengannya. Ya, kagum sekali. Tidak pernah aku mendengar sepatah kata pun keluhan dari bibir mungilnya. Bibir yang selalu tersenyum dalam menghadapi apa pun yang Allah berikan. Susah, senang, haru, duka, bagaimana pun perasaannya, beliau selalu menunjukkan ekspresi manisnya di manapun beliau berada. Ya... aku baru tahu dengan ‘jelas’ bagaimana kisah hidupnya di masa lalu yang penuh haru biru. ‘Menangis’. Hanya ekspresi itu yang bisa aku utarakan ketika kami sedang melepas rindu via seluler . Beliaulah the Greatest woman, wife, and mother. Ibuk. Saat ini kami sedang mendapatkan masalah yang bisa dibilang cukuup berat bagiku, namun menurutnya ini belum seberapa dari penderitaan orang-orang lain , bahkan penderitaannya di masa lalu. Penderitaan? Bukan, menurutnya. Ini hanyalah ujian yang datang dari Allah Swt sebagai jalan untuk menempuh derajat yang lebih tinggi di sisiNya. Setelah berbincang cukup lama dan beliau berkata “sudah, ga usah nangis, ndhuk..ini belum seberapa ...