Langsung ke konten utama

Postingan

Rintik Kerapuhan

Banyak hal yang (sebenarnya) ingin aku ceritakan di sini, meski peristiwa ini tidak lebih dari 25 menit saja. Diawali dari dering telepon yang berbunyi dan suara seorang laki-laki selama 1 minggu ini tak kudengar kabarnya, ternyata malam ini dia menyapaku dengan suara yang sangat pelan dan terbayang kelemahan pada dirinya. Pertama kali mendengar sapaannya pun aku langsung bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya saat ini ia rasakan. Ia yang sejak kecil selalu menjadi laki-laki yang gagah dan lantang dalam suara, kini malam ini jauh dari biasanya. Dalam sekejap aku merindu cercaan menyentaknya kepadaku, nasihat yang tanpa basa dan basi ketika aku berbuat salah, dan suruhan yang kadang membuatku kesal, tapi justru sangat kurindukan kehadirannya malam ini. Keberadaannya yang tak dekat membuatku ingin menghempas dalam sapaan lembut tubuhnya wajarnya seorang adik yang lama tak jumpa dengan kakaknya. Suara yang lemah dan desahan nafas yang semakin lama memelan semakin membikin hati ini ter...

Terima kasih, Jasmine

Pondok Jasmine: Tentang 3 tahun, tentang Marina teman suka duka mulai dari asrama dulu (bahkan sejak kelas X) tentang Ai si tangan kreatif yang selalu menolong kemampuanku berbahasa Arab dan pelampiasan kekesalanku, tentang si kembar Ina Inta dan Pepeb Nikur yang selalu menjadi pelarian kalo lagi penat di kamar, tentang Mbak El dan Nia teman satu jurusan yang kalo udah ngumpul entah sampai kapan akan berakhir obrolan kami, tentang Cita yang kayak penghuni Jasmine karena seriiing banget berkunjung (ngerjain tugas, curhat, nemenin aku, santai-santai, dll) tentang skripsi dan tentunya ada kisah Fitri dan para anak bimbingannya Pak ***z**, tentang Nabila penghuni tidak menetap yang langganan makanan delivery Pak Lu'lu, tentang Meita anak kampus tetangga yang udah kayak adek sendiri, dan yang jelas di Jasmine seakan-akan hanya memiliki tetangga yang berprofesi sebagai "tukang": Ibu-ibu penjual nasi belakang yang makanannya selalu fresh, aa warkop yang siap dibrisikin setiap ke...

Goresan Senja

Ketika hatiku berlabuh, ku sadar fisikmu semakin lama semakin tak indah, tapi ku yakin cintamu semakin lama akan semakin bertumbuh, terus tumbuh hingga berbuah, dan itu yg membuatmu semakin indah, dan melebihi keindahan fisikmu. wahai belahan jiwa, aku tahu kelak akan ada sulit saat mendampingiku, tapi bukankan sulit itu yg akan semakin kuat mengikat hati kita.

Sejuta Warna Cinta

Ketika cinta bersaksi atas dua insan yang saling membangun cinta, beragam warna dan cerita menghiasi lembar hidup keduanya. Saat hari pertama aku bersamanya, dia genggam erat jemariku, dia tatap lekat kedua mataku, tanpa kata, tanpa seikat bunga juga tanpa puisi. Itulah ekpresi cintanya kepadaku, dia yang telah memilihku, ekspresi sederhana, bahkan bagi sebagian orang mungkin tiada makna, namun bagiku itu istimewa, karena seperti itulah dia. Saat hari pertama aku bersamanya, dia berikan aku setangkai bunga, sebait puisi yang dia ciptakan sendiri, tak lupa lantunan sebuah lagu nan romantis dia hadiahkan sebagai pelengkap ekspresi cintanya. Jangan tanya bagaimana perasaanku, Aku sangat bahagia, bahkan aku ingin dia melakukannya setiap hari untukku, seperti itulah dia yang telah memilihku, dia istimewa. Saat hari pertama aku bersamanya, dia sangat pemalu, bahasa tubuhnya kaku, senyum pun jarang terhias dari bibirnya. Tapi diam-diam dia memperhatikanku. Meskipun aku berharap dia mere...

Berbeda, Meski Sama Diciptakan

Mentari, bolehkah aku sejenak berbicara padamu? Engkau itu sama seperti diriku, diciptakan oleh Dia Sang Pemilik Alam Semesta. Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan. Setiap hari engkau tak pernah lelah memberi, sinar berjuta guna darimu selalu kau pancarkan. Sedang aku, kadang di kala pagi sudah mengeluh, jangankan untuk berbagi, mengurus diri aku kadang merasa sungkan. Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan. Engkau selalu bersinar indah di pagi hari, dinanti milyaran orang, bahkan jutaan lainnya menantimu dari puncak-puncak terindah di belahan dunia. Sedang aku, di pagi pun seringkali melangkah tanpa senyum, tanpa sapa, dan tanpa kesyukuran. Tapi kita berbeda, meski kita sama diciptakan. Tak hanya pagimu yang indah, akhir harimu pun juga sangat indah. Di antara lelahmu, masih engkau hadirkan sinar kuning keemasan yang dinikmati milyaran orang dan jutaan orang di tepian pantai. Sedang aku, hanya wajah letih, kuyu, dan langkah gontai yang terhias di diri. ...

Gelap (yang) Membawa Indah

Malam ini entah sudah purnama yang keberapa. Aku tak mau menghitung dengan menyamakan usiaku yang hampir setengah abad. Kau tahu kenapa? Karena tak setiap purnama datang aku menjumpainya apalagi menyempatkan waktu untuk menikmati suasananya. Akan tetapi, purnama kali ini entah mengapa lain dari biasanya. Aku tak sedang duduk di jalan Malioboro menyaksikan beragam aktivitas para pelancong yang sibuk berbelanja. Aku juga tidak sedang berada di Pendopo Keraton menyaksikan gadis-gadis ayu Jogja berlatih menari. Aku juga tidak sedang di Candi Prambanan menyaksikan pementasan Ramayana atau Arjuna. Malam ini aku hanya di sini, di halaman tempatku melepas lelah, hanya duduk-duduk saja di antara daun pintu yang sengaja aku buka, sedikit menikmati angin malam tanpa secangkir capuccino yang aku sruput atau pun segelas cokelat hangat. Aku hanya duduk santai saja, melihat sinar bulan yang sedang purnama, menyaksikan gemerlap bintang, dan bersihnya biru langit tanpa awan. Aku juga merasa mala in...

Pecarikan Namanya

Kupetikkan jemari pada keyboard komputer yang sehari-harinya menemani aktifitas baruku lebih dari sebulan ini. Playlist lagu pun tak menghilangkan rasa kantukku siang ini. Kuberanikan diri sedikit melipir dari rutinitas yang sudah membosankan seharian ini. Mencari referensi tentang tokoh terkenal yang namanya diambil dari Asmaul Husna rupanya tak semudah mencari nama ‘Muhammad’ di google yang setia tanpa lelah mendukung tugasku sehari-hari. Tanpa pikir panjang akhirnya tertulis juga tulisan ini. Entah bagaimana nanti hasilnya, setidaknya aku sudah sedikit terhibur dengan keisenganku ini. Selain mengobati jenuh, kali ini aku menulis untuk menepati janji diri sendiri agar mulai konsisten menulis tentang apa pun. Kasihan blogku sudah lama menganggur (doakan semoga produktif). Kalo kata penulis-penulis beken “Tulis saja apa yang ada di otak! Tabrak aja apa yang terlintas di pikiran! Ga usah dipikirin bagus engganya, toh nanti bisa dibenerin lagi” Yasudah, aku ikutin saja. Ada yang menari...