Senin, 24 September 2012

Mengeluh? Tidak ada dalam “kamus”


Aku kagum dengannya. Ya, kagum sekali. Tidak pernah aku mendengar sepatah kata pun keluhan dari bibir mungilnya. Bibir yang selalu tersenyum dalam menghadapi apa pun yang Allah berikan. Susah, senang, haru, duka, bagaimana pun perasaannya, beliau selalu menunjukkan ekspresi manisnya di manapun beliau berada. Ya... aku baru tahu dengan ‘jelas’ bagaimana kisah hidupnya di masa lalu yang penuh haru biru. ‘Menangis’. Hanya ekspresi itu yang bisa aku utarakan ketika kami sedang melepas rindu via seluler. Beliaulah the Greatest woman, wife, and mother. Ibuk.
Saat ini kami sedang mendapatkan masalah yang bisa dibilang cukuup berat bagiku, namun menurutnya ini belum seberapa dari penderitaan orang-orang lain, bahkan penderitaannya di masa lalu. Penderitaan? Bukan, menurutnya. Ini hanyalah ujian yang datang dari Allah Swt sebagai jalan untuk menempuh derajat yang lebih tinggi di sisiNya. Setelah berbincang cukup lama dan beliau berkata “sudah, ga usah nangis, ndhuk..ini belum seberapa dari ujian yang Allah berikan kepada Ibuk di waktu Ibuk masih seumuran kamu”. Kata-kata itu pelan, lembut, dan penuh perasaan. Entah dari mana Ibuku tahu bahwa aku telah menitikkan air mata. Ibu mana sih yang tidak paham akan perasaan buah hatinya?
 “seumuran aku? Maksud Ibuk? “ Aku pun meresponnya dengan pelan dan kaget. Yaa, aku belum tahu cerita detailnya. Beliau biasanya hanya menceritakan kisahnya sepintas lalu kepada anak-anaknya ketika kami sedang dirundung duka sebagai pelajaran hidup.
“Iya, dulu Ibuk sudah merasakan ujian yang jauuh, jauuh, lebih, lebih, dan leebiiih dari apa yang saat ini kita sedang alami, nak”. Aku semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan olehnya. “maksud ibuk? Bukankah Ibuk dari dulu selalu bahagia, dan tanpa kesedihan?”
Nah itulah. Selama ini kamu belum pernah melihat Ibuk mengeluh, kan? Ibuk selalu menikmati pemberian Allah dengan hati lapang, baik itu susah, senang, atau apa pun. Itu yang membuatmu beranggapan bahwa masa lalu ibuk selalu diliputi kebahagiaan” Ibuk menjawab dengan penuh semangat dan aku yakin, pasti orang-orang di rumah sedang menyaksikan senyumannya yang sungguh menawan itu.
Yaps. Dalam kamus hidupnya tidak ada kata “mengeluh”. Sungguh! Aku tidak berbohong! Berbanding terbalik denganku yang selalu putus asa, penuh kekhawatiran, dan keluhan-keluhan yang selalu membuatku resah. “Iya, Subhanallah sekali, buuk? Sekali pun aku belum pernah melihatnya. Kok Ibuk bisa si?” Aku menjawabnya.
“Pasti kamu tahu kalau dulu Mbah Putri (nenek) sakit-sakitan ketika ibuk masih kuliah? “ aku mengiyakannya. “Petualangan hidup ibuk yang subhanallah dahsyatnya dimulai dari situ”. Aku terdiam dan membiarkannya untuk melanjutkan ceritanya.
Singkat cerita, selaku anak pertama dari beberapa saudara beliaulah yang bertanggungjawab atas segala kebutuhan rumah, adik yang masih kecil-kecil, karena kasihan dengan ayahnya yang repot dengan profesinya sebagai seorang guru.. Seminggu sekali beliau harus pulang dari Semarang tempat kuliahnya. Jarak rumah dengan kampus pun tidak bisa dibilang dekat, hampir memakan waktu 5 jam jika ditempuh dengan kendaraan umum. Hmm.... so hard. sakit struck yang diderita nenekku memang membuat ibuku lebih mengerti makna kehidupan. Beliau rela mengorbankan kuliahnya demi mengurus ibunya yang keluar masuk rumah sakit, karena ayahnya tidak mungkin mengurus segala sesuatu sendiri.
Kala itu juga adik cowoknya yang terakhir harus dioperasi, karena terkena sebuah penyakit dan membuatnya harus disunat (maaf) di bawah umur 5 tahun. Seperti adat di desanya, maka  keluarga ibuku menggelar syukuran. Ibuku lah yang mengurus semuanya. Perjuangan tanpa kenal lelah beliau jalani. Mengurus 2 pasien di rumah, kuliah, dan urusan lainnya pun beliau lakoni dengan suka cita walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri. 2 nilai E beliau dapatkan ketika di akhir semester 5. Awalnya, beliau sangat shock dengan itu, namun setelah beliau sadar apa penyebabnya, semangat hidup muncul lagi. Berbakti pada orang tua dan mengharap ridho Illahi. Only that! Yaps, hanya itu tujuannya. Semata-mata hanya untuk kebahagiaan orang-orang  yang disayanginya, tanpa peduli seberapa menderitanya beliau mengorbankan masa-masa muda yang harusnya beliau habiskan dengan teman-teman sebayanya.  
Dengan menyandang nilai E di kedua mata kuliahnya, otomatis masa lulusnya tidak bisa tepat waktu. Ya, itu yang dialami ibuku. Bukan keluhan yang beliau utarakan, hanya keyakinan yang selama ini menjadi pegangan bahwa “pasti ada kemudahan di balik kesusahan”. Dengan sekuat tenaga beliau memperjuangkan kuliahnya tanpa harus melupakan kewajibannya sebagai seorang anak.
“kamu tahu keajaiban apa yang ibuk dapatkan setelah ibuk lulus?” aku masih diam seribu bahasa mendengarkan kisahnya. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” Arti dari ayat ke-6 surat ke-94 di dalam kitab suci umat Islam itu yang kini aku dengarkan.
Lalu?” hanya kata itu yang keluar dari bibirku karena sudah tidak sabar lagi mendengarkan lanjutan kisahnya. “Alhamdulillah, dengan kasih sayang Allah, tidak sampai setahun setelah ibuk lulus kuliah, ibuk diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di tempat yang subhanallah ibuk tidak sangka-sangka. Di sekolah yang sangat dekat dengan rumah dan hanya berjarak 3 km dari rumah. Yang ibuk kagumi, mengapa Allah menakdirkan ibuk di tempat yang begitu dekat dengan rumah ibuk, sedangkan teman-teman ibuk diterima di tempat yang jauh-jauh, bahkan sampai ada yang di luar pulau. Waktu itu tes CPNS masih belum dipisah-pisah perdaerah”.
“Keren banget, buk. Mungkin itu buah kesabaran ibuk selama ini. Belum menikah pun udah jadi PNS. Waooow!! Suaminya pun pria yang sangat hebat dan menjadi suami idaman wanita-wanita lain. Akhirnya Bapak juga ditempatkan di sekolah yang sama dengan Ibuk (so sweet, ga sih? hehe)” Pujian pun aku sampaikan padanya. Oleh karena itu ibuku selalu bilang “Allah tidak akan memberikan ujian kepada umatNya di luar batas kemampuan umatNya”. “Makanya, nak.. ujian yang kita alami saat ini belum seberapa dari anugerah yang selalu Allah berikan kepada kita. Jadikan Surat Al-Insyirah sebagai pengingat kita agar tidak selalu terpuruk dan menyalahkan Yang Maha Kuasa ketika kita sedang merasa kesulitan. Doakan juga keselamatan, kesehatan, kebahagiaan untuk Bapak, Ibuk, saudara-saudara kita, Guru-guru kita dan umat muslim di seluruh dunia, ya?”. Lemah lembut ia mengataknnya. Ujian datang silih berganti bukan menjadikan kita lalai, melainkan kebahagiaan hidup yang lebih muliah yang akan kita dapatkan. So touch!
“Insya Allah, ibuk. Aku tidak akan mengeluh kok J”. Sosok penyayang, penyabar itulah yang selalu beliau tunjukkan dalam mengurusi rumah tangganya. Tidak ada keluhan yang selalu kami lihat di istana kecil kami, meskipun terkadang anak-anaknya sangat bandel. Semoga Ibuk dan Bapak selalu diberi ketabahan, kekuatan, dalam setiap melangkah. Aamiin” We love yo so much, mom…. Peluk cium dari kami J.
Inspiratif! Tidak kusangka, kisahnya lebih indah dibandingkan novel-novel fiktif dan beberapa film yang menceritakan perjuangan seorang kakak demi kebahagiaan keluarganya. Ternyata, benar-benar ada tokoh yang sebenarnya di dunia nyata. Aku bangga menjadi Anak dari Wanita terhebat itu.
Yeaaaaaaaaaaah. Itulah kisah seorang anak dengan ibunya yang begitu menginspirasi. So, masih tetap mengeluh? Tidak akan :D. Semoga Menginspirasi.