Rabu, 30 November 2016

Resensi Buku "Seberapa Berani Anda Membela Islam"


Judul : Seberapa Berani Anda Membela Islam
Penulis : Na’im Yusuf
Tebal Buku : 288 Halaman
Penerbit : Maghfirah Pustaka
Tahun Terbit : 2016

Orang-orang yang beriman harus sadar bahwa kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kebatilan akan selalu bertentangan. Untuk itu, dibutuhkan orang-orang yang beriman yang menyadari posisinya.
Demikianlah juga dengan keteguhan hati, jihad, dan kekuatan jiwa harus dimiliki agar kita sebagai umat Islam bisa melepaskan diri dari konspirasi yang telah dirancang untuk menghancurkan Muslim dan membasmi asas ajaran Islam dari akar-akarnya.
Kemuliaan yang sebenarnya, yakni jika keberanian bersemayam dalam diri seorang Muslim, yang mana ia akan menolak kehidupan yang hina, tidak mau dilecehkan dan direndahakn dalam keadaan apa pun.
Melalui buku yang berisi 13 karakter pemberani ini, penulis menguraikan dengan rinci mengenai ciri-ciri seorang pemberani, bagaimana agar menjadi pemberani, bentuk-bentuk keberanian, dan tantangan yang harus dihadapi para pemberani.
Sejarah perjuangan dakwah Nabi Muhammad saw., para nabi lainnya, sahabat Rasul, serta generasi as-Salaf as-Shalih yang diuraikan oleh Na’im Yusuf selaku penulis seolah mengajak kita tamasya sejenak ke zaman ribuan tahun yang lalu menyaksikan bagaimana perjuangan mereka dalam menegakkan kebenaran dan membela Islam untuk meraih ridha Allah SWT. Serangan-serangan yang diledakkan musuh-musuh Islamlah seperti yang terjadi saat ini yang mengharuskan kaum Muslim untuk mengambil teladan dari mereka.
Penggalan ayat Al-Qur’an, Hadist, dan kata-kata hikmahjuga terdapat dalam buku yang sarat hikmah ini sehingga menguatkan uraian-uraian yang dipaparkan dengan harapan pembaca termotivasi untuk istiqamah dalam kebaikan tentunya dalam rangka menjaga Islam dari orang-orang yang sengaja menodainya.
Terbukti, setelah membacanya buku ini pas dibaca untuk kita yang haus akan ilmu, minim teladan, dan pesimis dengan nasib agama Islam di masa mendatang. Dengan membacanya, ghirah umat Islam kembali menyala dalam diri demi terwujudnya kemuliaan agama Islam dan hati yang menghadap kepada Allah SWT.



Senin, 07 November 2016

Setahun Sudah

Sesosok orang yang awalnya tak kukenal, lelaki asing yang awalnya bukan siapa-siapa kini menjelma menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap kehidupanku; menanggungku, memenuhi kebutuhan lahir dan batinku.
Dan kini, 366 hari kita menjalani cinta bersama, membangun masa depan indah keluarga kita . Sang Maha Kuasa ingin kita melesat bersama dalam suka maupun duka. Meski aku kalah telak dalam segala hal, tapi engkau selalu sabar menuntunku.
Suamiku, terima kasih untuk cinta, kasih, sayang, maaf, pengertian, dan semuanya. Semoga keberkahan selalu menaungi keluarga kita.
I love you more than you love me.

_"Karena berkah-Nya tentu tak bisa dinilai hanya dari seberapa banyak tawa dan bahagia kita saat bersama. Karena berkah-Nya boleh jadi hadir setelah kita sama-sama berpelukan saling memaafkan, menikmati kesulitan penuh kesyukuran, juga bergenggaman dalam wujud penerimaan. Karena kita bukan hanya untuk dunia, melainkan sampai surga-Nya." (@fufuelmart)

Minggu, 20 Desember 2015

Pesan Dokter Cinta

Jangan rusak kebahagiaanmu
dengan rasa cemas.
Jangan rusak akalmu
dengan kepesimisan.
Jangan rusak keberhasilanmu
dengan kepongahan.
Jangan rusak harimu
dengan melihat hari kemarin.
Kalau kamu perhatikan kondisi dirimu, kamu pasti menemukan bahwa Allah telah memberimu segala sesuatu tanpa kamu minta.
Oleh karena itu, yakinlah bahwa Allah tidak akan menghalangi dirimu dari kebutuhan yang kamu inginkan, kecuali di balik keterhalangan itu ada kebaikan.
Barangkali saja kamu sedang tertidur pulas, sementara pintu-pintu langit diketuk puluhan doa yang ditujukan untukmu, yang berasal dari fakir/miskin yang kamu bantu atau orang sedih yang kamu hibur, atau dari orang lewat yang kamu senyum kepadanya, atau orang orang dalam kesempitan yang kamu lapangi. Maka jangan sekali-kali memandang kecil segala perbuatan baik untuk selamanya.
_Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Rabu, 11 November 2015

Senyum, Yuk...

“Niku mawon, Ndhuk? Sanese napa malih, mboten ngresaake jajanan?” Aiiih, seketika saya lemas mendengar kalimat yang diucapkan ibu penjual sayur depan komplek tempat tinggal kami. Saya yang sudah cukup lama tinggal di ibu kota (anggap saja Depok itu Jakarta, he) langsung senyum-senyum sendiri mendengar perkataan ibu sayur pagi kemarin. Kapan ya terakhir kali saya diperlakukan demikian oleh seorang penjual. Lima tahun tinggal di tempat bertemunya bermacam suku menjadikan adat dan budaya di sana berbeda jauh dengan tempat baru saya saat ini. Banyak sih orang halus di sana, apalagi Sunda, tapi.. tidak semua halus (hiks). Biar sudah lama tinggal di sana, tidak jarang saya masih sering bete jika dibentak atau dijudesin oleh ibu-ibu/mbak-mbak penjual apalagi kalo orang yang hanya ketemu di jalan ga sengaja nyenggol lalu ngomel-ngomel (mungkin ini yang dimaksud “Ibu kota itu keras”). Serasa masih culture shock seperti saat awal-awal saya ‘hijrah’ kala itu.
“Yogyakarta, orangnya alus-alus, jangan harap bakal nemu orang cablak lagi di sana, Hik..” kata seseorang saat itu. Alus yang dimaksud mulai dari kosa kata berbahasanya lebih halus dari ngapak, suaranya lembut, dan tindak tanduknya lembah manah. Bagaikan mendarat di planet lain, apa yang dikatakan olehnya ternyata benar adanya. Orang yang ramah-ramah, anak-anak yang santun, kearifan lokal yang masih terjaga, dan yang penting harga makanan murah-murah rasanya bahagia to the max akhirnya bisa tinggal di sini—dulu sempat ingin kuliah di Jogja, tapi tidak kesampaian —dan akhirnya saya menyelipkan doa agar bisa tinggal di kota gudeg ini, emmm meskipun di pinggirannya setidaknya masuk propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menambah rasa syukur saya pada Rabb Sang penentu takdir.
Sayangnya, keseharian saya yang sudah tertular cuek dengan gaya hidup sebelumnya mengharuskan saya agar melatih diri untuk lebih ramah dan selalu pasang tampang sumeh saat bertemu orang-orang. Walaupun saya asli Jawa dan sudah sedikit terlatih dengan hal demikian, tapi ternyata hal itu perlahan berkurang karena budaya metropolis yang bisa dibilang mulai merasuki jiwa yang aslinya ramah (haha). Kota kelahiran saya memang bukan tempat orang yang alus-alus (apalagi bahasanya ngapak), namun keramahan dan kesopanan masih terjaga dengan baik di sana, sehingga perlahan saya kembali seperti semula mencoba menjadi ramah dan kembali menggunakan bahasa Krama Inggil yang kualitasnya sudah abal-abal karena jarang dipraktikkan. Hanya perlu pembiasaan dan menanggalkan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit, meskipun bahasa nasional itu masih sering keluar tanpa sengaja.
Beberapa kali pertemuan yang telah saya ikuti dalam tiga minggu terakhir ini tidak mengurangi rasa kagum saya akan keistimewaan kota yang dipimpin oleh seorang sultan ini. Tidak jarang saya menemui mereka menyapa lembut orang yang baru saja kenal—termasuk saya sebagai orang baru— dengan nada anggun sembari diiringi beberapa pertanyaan khas perkenalan. Bukankah hal demikian merupakan bentuk penghargaan yang menandakan bahwa kita telah diterima dalam lingkaran mereka?
Pelan tapi pasti izinkan saya untuk belajar bersama kalian, sadar atau tidak sadar saya tetap rindu kota Belimbing itu dengan segala keunikan dan macam khas yang ada di sepanjang jalan rayanya. Akhirnya, jangan bosan menjadi pendatang karena menjadi orang baru banyak tantangan dan bikin hidup kita ga monoton (kwkwkwkwk). Selanjutnya, entah takdir akan membawa saya ke mana lagi, yang penting jalani semua hal baru dan peran ini dengan baik.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Cahaya Hikmah DwiNA

Aku yang harus pergi lebih dulu dari kalian. Doa terbaik mengiringi kepergianku nanti untuk kalian sahabat yang selalu ada untukku. Kalian rekan yang paling mengerti sekaligus kakak yang pandai memperlakukanku penuh cinta. Suatu saat aku akan rindu suasana ini. Suatu pagi aku akan mengenang masa menyambut mentari dalam balutan kasih dan panggilan lembut untuk menghadap-Nya bersama kalian.
Keriuhan menjelang keberangkatan kita ke kantor, kebersamaan kita ke kantor, kepulangan kita dari kantor, kelezatan menikmati makan malam yang selalu ala kadarnya yang penting tidak lapar dan bahagia (ini lebay) hingga keautisan kita mengurus diri masing-masing selepas Isya adalah memori yang mungkin akan susah hilang nantinya.
Ratih yang ‘gila’ sekali dengan buku dan menghabiskan waktu malamnya di kamar untuk membaca buku atau menonton film kesukaannya, siap-siap saja sepulang dari kantor tidak ada lagi teman yang membersamaimu membeli sayur dan lauk apa yang akan kalian santap untuk makan malam dan esok hari ya (nanti Mbak Dwi bakal ngegantiin aku kok). Mbak Dwi yang kreatif dan kuat banget dengan begadangnya demi orderan kerjaan dan kesetiaannya dengan perusahaan, jangan kangenin aku yang selalu mengganggu kenyenyakan tidurmu ya. Jangan mimpi bakal ngejailin aku karena aku sudah jauh darimu nanti (kalo ini sedih).
Untuk kalian gadis yang selalu diusik ketenangannya oleh cucian dan setrikaan baju, kapan ya aku bisa merasakan hiruk pikuk dalam rangkaian kemalasan antri mencuci dan menyetrika lagi bersama kalian? Waktu makan malam yang biasanya kita isi dengan sharing (bahasa keren dari ngobrol) setelah aku pergi nanti bakal asik dan seru lagi ga ya? (over pede).
Ratih yang rajin banget mengepel rumah dan Mbak Dwi yang hobbi banget memasak masakan yang lain dari biasanya (ex: seblak, goreng nasi, otak-otak, cilok, dll), aku titip cinta untuk Jihan ya. Kalo nanti dia main ke mes, katakan padanya bahwa aku senang sempat tinggal bersamanya meski hanya 3 bulan. Keberadaannya menjadi pelengkapku karena saat itu aku layaknya anak tengah yang memiliki seorang kakak dan seorang adik sebelum kedatangan Ratih.
Oh iya, berkat Jihan juga kita ‘bisa’ masak, lho. Hikmahnya, kita jadi lebih irit dan semangat belajar memasak, meskipun alat dan bahannya terbatas. Semoga mimpi kalian (kita) selama ini untuk memiliki lemari es tercapai ya.. biar bisa memasak daging dan menyimpan sayur-sayuran agar tetap segar. Kalian masih inget kan gimana sedihnya setelah kompornya dibawa pulang oleh Jihan? Untung kalian langsung inisiatif beli lagi sehingga kita bisa menikmati lagi tumis-tumisan dan tempe goreng menu khas kita yang tiap hari gitu-gitu aja (hahahaha #bersyukur).
Kenangan beberapa hari lalu tentang pecahnya gayung dan wajan yang mengeluarkan asap karena kecerobohanku, bisa jadi akan menjadi cerita yang membikin perut kita kaku karena tertawa terpingkal memutar kenangan kejadian itu. Entah kenapa setiap hal yang terjadi setiap harinya selalu menjadi hal unik yang menghibur teman-teman di kantor. Mereka saja tertawa apalagi kita yang menjalaninya? (hahahahaa).
Masih ingat dengan kejadian Jum’at siang lalu yang kita batuk-batuk karena cilok ‘ranjau’ yang kalian bikin? Semoga itu awal sukses usaha kalian ya (Eits, jangan lupa cantumkan namaku dalam sejarah kesuksesan kalian nantinya, hehe).
Anyway, nanti sering kabar-kabar ya terutama kalau adek kecil yang di perumahan udah ga pernah nangis pagi, siang, sore, atau malem. Kasih tahu juga misal di sekitar perumahan sudah mudah ditemukan penjual sayuran dan Alfamart sehingga tidak perlu jauh-jauh lagi kalo mau hangout (maksudnya: beli sayur, bumbu, ke ATM, atau kebutuhan sehari-hari).
Last but not least, terima kasih untuk penerimaannya, perhatiannya, pengertiannya, kasih sayangnya, keusilannya, kebaikannya, kerja samanya, dan lain-lainnya yang ga bisa kusebut satu-satu tentunya.
Kalian istimewa… doa yang baik-baik untuk kalian. Ingat aku dalam setiap doa rabithah kalian yaa. Maaf untuk lisan yang tak terkendali dan sikap yang kurang mengenakan selama kita bersama. Bersyukur diberi kesempatan hidup bersama kalian. Keep contact yaaa… Aku sayang kalian karena Allah.

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syari`at dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahaya-Mu
Yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakal pada-Mu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu
Matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela.

*Rabithah-Izzatul Islam

(Tulisan ini sengaja ditulis untuk kalian dan memenuhi permintaan kalian, ‘teman hidup’; Mbak DwiNA dan Ratih Cahaya sebagai bentuk perpisahan kami. Fiuuuuh, akhirnya bisa selesai juga meskipun di jam kerja (Ups…), Sabtu, 22 Agustus 2015 pkl. 14.25)

Kamis, 20 Agustus 2015

Doa Pagi

Allah, jadikan ikhlasku bagai susu. Tak campur kotoran, tak disusup darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi terilhami.
Allah, jadikan dosa mendekatkanku pada-Mu dengan taubat nashuha. Jadikan ibadah tak menjauhkanku dari-Mu gara-gara membangga.
Allah, untuk tanah nan gersang jadikan aku embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan menghias malamnya.
Allah, jika aku harus berteman khawatir, jadikan ia dzikirku mengingat-Mu.
Allah, jika aku harus berteman rasa takut, jadikan ia penghalang dari mendurhakai-Mu.
Allah, jika aku harus berkawan gelisah, jadikan ia titik mula amal-amal saleh menjemput keajaiban menenangkan.
Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surga-Mu.
Allah, berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini menebar kebaikan, mencantikkan kebenaran, menggerakkan perbaikan.
Allah, luruskanlah lisanku dalam kebenaran, indahkan tuturku dengan kesantunan, jadikan yang mendengar terbimbingkan.
Allah, ilhamkan kebajikan di tiap huruf yang terucap, lahirkan amal tuk setiap kata yang terbicara, alirkan pahala tiada putusnya.
Allah, jangan henti rindu pada Nabi-Mu menyala syahdu agar akhlak teladannya merembesi tingkahku.
Allah, jangan henti gelegak neraka menyergap menggiriskan di tiap hasrat nista dan goda kemaksiatan.
Allah, jangan henti baying surga-Mu melekati mata, di tiap niat dan kesempatan amal saleh nan terbuka.
Allah, jangan henti keesaan-Mu terteguh di jiwaku, sebab kuasa dan rezeki-Mu juga tak sedetik pun berpisah dariku.
Allah, jangan henti bimbingmu-Mu menuntunku, selama jantung berdenyut selalu, semasih Kau hembuskan napas dalam paru.
Allah, jangan henti kasih-Mu mengguyuriku, hingga santun budiku menebar rasa sayang, bahkan membalik penentang jadi pejuang.
Allah, jangan henti keagungan-Mu tertaut dalam nyali, hingga kuhadapi segala yang aniaya dengan gagah dan berani.
Allah, jangan henti kemuliaan-Mu menyusupi syaraf-syarafku hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlak terlaku.
Allah, jangan henti penjagaan-Mu mengarus dalam darahku hingga setan tak beroleh tempat dalam alirannya menderu.
Allah, jangan henti rasa malu pada-Mu menyumsum di tulangku, mengurat di ototku hingga semua gerak dalam ridha-Mu.
Allah, jangan henti keindahan-Mu mengilhamkan senyum dan cerah di wajahku, agar pergaulanku semanis madu.
Allah, jangan henti kebenaran-Mu tertambat di akal dan lisanku, terpancar dalam sikap, terjuang di tiap kalimat.
Allah, jangan henti nama-Mu menyapa hati dan jiwa, dengan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.
Aamiin.

By: Salim A. Fillah

Sepuluh Filosofi Jawa

1. Urip Iku Urup
(Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik).
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar).
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan).
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi).
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berpikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

*Pelajaran dari Sunan Kalijaga