Rabu, 13 Juni 2012

Romawi


Romawi

A.           Sejarah Kota Roma
Kota Roma berdiri sekitar abad ke-8 SM yang diprakarsai oleh seorang pemimpin bernama Romulus. Berdasarkan legenda, sebelum berdirinya kota Roma, rakyat setempat percaya bahwa kota yang hendak mereka dirikan adalah kota abadi dan akan menjadi kota yang peradabannya berkembang secara pesat. Seiring berjalannya waktu, kota Roma  berkembang pesat bahkan kota tersebut menjadi pusat bertemunya saudagar-saudagar dari suku-suku bangsa yang ada di Italia[1].
Pada mulanya Orang-orang Latin tunduk di bawah kekuasaan Orang Etruriyin, tetapi sejak tahun 510 SM Orang-orang Latin menggulingkan raja yang berasal dari Orang-orang Etruriyin tersebut dan mengambil alih kota Roma. Sejak saat itu orang-orang Latin terkenal dengan sebutan “Orang-orang Romawi”. Bentuk pemerintahannya adalah  “Republik Romawi”, yaitu suatu negara dengan bentuk pemerintahan aristokratis yang dipimpin oleh dua kaum bangsawan dan terdapat sebuah majelis dewan yang disebut dengan “Dewan Senat”. Kaum Proletar tidak setuju dengan bentuk pemerintahan aristokratis, sehingga terjadi pertentangan antara kaum Proletar dengan pemerintah yang kemudian dimenangkan oleh kaum Proletar. Kaum Proletar memperoleh beberapa hal yang mereka tuntut. Kekuasaan Republik Romawi meliputi seluruh negara di Italia dan kemudian berkembang ke negara-negara sekitar, seperti Kartago yang dapat ditundukkan dengan perang Punik pada 264-146 M, Macedonia dan Asia Minor pun berhasil dikuasai. Selain itu, Mesir juga tunduk di bawah kekuasaan mereka [2].
Persaingan partai juga terjadi di Republik Roma yang berlangsung gawat dan menyebabkan kaum proletar dengan senat berpisah. Perebutan kekuasaaan antara Julius Caesar dan Pempey, yang keduanya merupakan panglima Romawi. Pertarungan bersenjata dimenangkan oleh Julius Caesar yang kemudian disusul dengan kematian Pempey di Mesir pada tahun 48 SM  karena dibunuh oleh J. Caesar[3]. Setelah Julius Caesar memenangkan pertarungan, Ia kembali ke Roma dan membangun Roma dengan cara melakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan dalam berbagai bidang, seperti bidang keamanan, sosial, politik, dan ekonomi. Beberapa Pejabat Roma curiga kepadanya, Mereka mengira bahwa Julius Caesar akan mengubah Republik Romawi dengan pemerintahan yang bersifat kediktatoran[4]. Pada tahun 44 SM  Julius Caesar dibunuh oleh Brutus dan menimbulkan perlawanan antara Tritunggal yang terdiri dari Antonius, Octavius, dan Rapidus (tritunggal) melakukan misi balas dendam terhadap Brutus yang terjadi di Philippes. Dalam pertempuran ini, kemenangan berpihak kepada pembela Julius Caesar dan tentara Republiken kalah. Karenanya, Brutus bunuh diri pada tahun 42 SM [5].
Salah satu pendukung setia dari kaum Republiken adalah Cleopatra ratu Mesir pada masa Kerajaan Bathalisah yang pada masa sebelumnya juga pernah memiliki skandal percintaan dengan Caesar[6]. Antonius bermaksud menyerang Cleopatra, namun ia justru jatuh cinta pada Cleopatra dan hal ini menjadikan Octavius dan rakyat Romawi marah pada Antonius. Pada tahun 31 SM  Dewan Senat mengadakan penyerangan terhadap Cleopatra yang terjadi di Actium hingga pada akhirnya dimenangkan oleh dewan Senat, disusul dengan kematian Antonius dan kekasihnya[7]

B.            Berdirinya Kekaisaran Romawi
Pecahnya tritunggal yang diakibatkan oleh meninggalnya Antonius dan mundurnya Repidus dari tritunggal menjadikan Octavius sebagai pemegang tunggal kekuasaan kota yang memerintah dengan baik. Pada tahun 30 SM , bentuk pemerintahan Republik Romawi diubah menjadi Kemaharajaan (Kekaisaran) dan ia menjabat sebagai Kaisar Romawi pertama dan mendapat gelar “Augustus” dari Dewan Senat. Pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi berada di kota Roma [8].
Ketika memerintah Kekaisaran Romawi, Kaisar Agustus melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, antara lain memperbaiki budi pekerti rakyat dan para pemimpin serta dihapusnya aturan-aturan yang tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat pada masa itu. Pemungutan pajak yang adil juga merupakan ide dari Kaisar Augustus yang dilakukan dengan cara uang pajak yang dipungut dari suatu daerah lalu dikirim lagi ke daerah tersebut untuk membangun daerah tersebut[9]. Para Ilmuwan, penyair, dan ahli sastra juga lahir pada masa Augustus. Mereka belajar kepada orang Romawi. Selain itu rang-orang Romawi juga mahir dalam bidang politik, administrasi negara, dan hukum[10].
Demi keamanan dan pertahanan wilayah kekuasaaan Romawi, Augustus membangun balatentara yang terdiri dari sekitar 400.000 orang, namun Orang-orang Barbar yang menempati daerah si Utara Sungai adalah musuh terberat dari Kekaisaran Romawi yang susah untuk dilenyapkan[11]. Augustus meninggal pada tahun 14 Masehi ketika ia berusia 79 tahun. Augustus adalah pemimpin yang paling disukai oleh rakyatnya, karena berkat ia orang-orang Romawi hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Gelar kekaisaran digantikan oleh keluargnya, yaitu Tiberus (14-37 M), lalu digantikan oleh Caligula (37-41 M), Claudius (41-45), Nero (54-68 M), Vespasianus (69-79 M)[12].
Ketika Romawi dipimpin oleh Vespanius dan Kaisar-kaisar sebelumnya, keadaan Romawi semakin kacau, sehingga Kekaisaran dikendalikan oleh  Titus (79-81 M), Trajanus (98-117 M), Hadrianus (117-138 M). Pada masa pemerintahan Hadrianus, keadaan Romawi menjadi stabil dan aman. Untuk melindungi dari serangan Suku Barbar ia membangun “Tembok Hadrianus” di bagian utara Inggris. Hadrianus juga menghancurkan kota Jerusalem yang menyebabkan orang-orang Yahudi menyebar ke Negara-negara di seluruh dunia[13].
Pada tahun 161 Masehi, Kekaisaran Romawi diperintah Marcus Aurelius yang lebih dikenal sebagai filsuf. Suku Barbar yang merupakan penduduk asli wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil telah lama melakukan serangan Romawi. Pada masa pemerintahannya, suku Barbar tetap menyerang Romawi sehingga menyebabkan Aurelius kewalahan menghadapi mereka. Hal itulah yang menyebabkan bangsa Barbar diizinkan untuk bermukim di Romawi dan penyerbuan mereka semakin ketat[14].

C.           Runtuhnya Kekaisaran Romawi
Pada tahun 180 M terjadi pemberontakan di kalangan Angkatan Bersenjata yang dikenal dengan “Masa kacau dalam ketentaraan” yang berlangsung selama 107 tahun. Hal ini dikarenakan Aurelius lebih fokus terhadap bidang filsafatnya daripada memperhatikan nasib negaranya. Sehingga Angkatan Bersenjata ikut campur dalam pemilihan Kaisar sesudah Aurelius yang menyebabkan perpecahan di antara mereka yang juga mengakibatkan lemahnya pertahanan negara[15]. Kelangsungan hidup rakyat Romawi semakin terancam dengan adanya kerusuhan yang terjadi pada saat itu.
Gaya hidup para Kaisar dan para Pembesar Romawi serba mewah dan menimbulkan kemiskinan negara. Mereka merampas harta rakyatnya dengan cara memungut pajak dalam jumlah yang besar. Sementara rakyat hidup dengan kemiskinan dan penderitaan. Selain itu, perhatian pemerintah terhadap rakyat dan negerinya kurang sehingga wibawa Pemerintah di mata rakyatnya hilang. Tidak sedikit daerah-daerah yang jauh dari Pemerintah Pusat mengalami keretakan dan kemudian munculah ide untuk mengangkat 2 orang Kaisar yang memimpin negara bagian Barat dan Timur agar bisa diawasi dengan lebih mudah. Negara bagian Barat dipimpin oleh Marximianus yang berpusat di Milan, sedangkan negara bagian Timur beribu kota di Byzantium dan dipimpin oleh Diocletianus. Walaupun demikian, mereka belum bisa lepas dari serangan suku Barbar yang sudah lama menjadi musuh mereka. Ketika Diocletianus meninggal dunia dan digantikan oleh Constantinus I, Romawi mengalami perbaikan-perbaikan yang signifikan. Constantinus meninggal dunia pada tahun 337 M dan keadaan Romawi menjadi lemah kembali[16].
            Sulitnya mengatur negara yang begitu luas, dalam rangka melakukan perbaikan, maka 65 tahun setelah meninggalnya Kaisar Romawi yang terakhir yaitu Theodocius I, Romawi pecah menjadi dua Kekaisaran, yaitu Kekaisaran Romawi Barat (Roma) dengan Kaisar pertama Honorius dan Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) yang dipimpin oleh Arcadius. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Kekaisaran Romawi yang sudah berdiri selama 425 tahun. Kekaisaran Romawi kini terkenal dengan nama “Kemaharajaan Romawi Lama (kuno)” [17].
            Pada tahun 476 M Kekaisaran Romawi Barat berakhir setelah berdiri sekitar 81 tahun lamanya. Hal ini disebabkan oleh Suku Barbar yang menjadikan Romawi Barat sebagai boneka bagi Suku Barbar. Seluruh harta kekayaan Roma dirampas oleh  suku Barbar. Runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat menyebabkan tumbuhnya Kerajaan-kerajaan dari Suku Barbar yang menjadi awal sejarah dari Kerajaan-kerajaan di Eropa saat ini[18] .

D.           Berdirinya Kekaisaran Romawi Timur
Kekaisaran Romawi Timur beribu kota di Byzantium. Kaisar pertamanya adalah Arcadius. Di antara Kaisar-kaisar Romawi Timur terdapat nama Justinian I (527-565 M), Ia adalah pengganti Justin I (518-527 M). Justinian I terkenal karena Ia mampu mengembalikan kewibaan negara dengan bantuan kedua panglimanya. Gereja Hegla Sophia (Aya Sophia) adalah salah satu bangunan megah yang didirikan oleh Kaisar Justinian I. Ia juga berperan aktif dalam penyebaran agama Masehi dan menegakkan keadilan ke seluruh pelosok Romawi Timur. Agama Masehi merupakan agama resmi Romawi yang sebelumnya ditentang oleh orang Romawi. Rakyat Romawi menganut agama Watsani sebelum menganut agama Masehi[19].
Justinian I menghimpun hukum-hukum dan undang-undang Romawi yang sebelumnya pernah dipakai, dan menulisnya secara sistematis dalam kitab Undang-undang dan Tri banian sebagai ketua dalam kepanitiaan ini. Kitab-kitab yang dihsilkan dari penghimpunan tersebut, yaitu: Ikhtisar Besar, Ikhtisar Pelajaran Hukum, Undang-undang Romawi, dan Kumpulan Undang-undang atau Ketentuan-ketentuan Baru. berkat karya-karyanya, Justinian I mendapat julukan “Pembina Hukum Yang Agung” dari para ahli sejarah. Justinian I meninggal pada tahun 565 M[20].
Sepeninggal Justinian I, Kekaisaran digantikan oleh Justin II yang memerintah hingga tahun 578 M. Di awal pemerintahannya, Justinian I berhasil menghadapi bangsa Persia. Untuk sementara Romawi aman dari serangan Persia, karena Kaisar Justin II telah mengadakan persetujuan pertahanan dengan musuh Persia, bangsa Turki yang bermukim di sekitar Laut Kaspi [21]. Oleh karena itu, untuk sementara itu Romawi aman dari serangan Suku Barbar yang merupakan penduduk asli wilayah Afrika Utara.

E.            Konflik Romawi Timur dengan Persia
Permusuhan antara Romawi dan Persia terjadi pada tahun 53 SM pada masa Pompey Agung yang pada saat itu menjadi Panglima Republik Romawi. Tujuan dari permusuhan ini untuk merebut kekuasaan negeri-negeri Suriah, Cilicia, Armenia, dan lain-lain. Pertikaian kedua banga ini semakin panas ketika Kerajaan Persia melakukan balas dendam atas terbunuhnya Kaisar Maurice (Kaisar Romawi) dikarenakan Rakyat Romawi tidak setuju putri Maurice menikah dengan Kisra Eparwiz, Raja Kerajaan Persia. Pembunuhan ini dilakukan oleh Phocas yang kemudian menggantikan Kaisar Maurice sebagai Kaisar Romawi. Romawi tetap diserang oleh bangsa Persia, kemudian pada tahun 610 M Heraclius (Jenderal Romawi di Afrika) mengirim puteranya, Heraclius de Konstantinopel untuk menggulingkan Phocas dan berhasil merebut kekuasaannya, maka diangkatlah Ia menjadi Kaisar dengan nama Heraclius [22].
Tanah jajahan Romawi Timur di Suriah dan Palestina berhasil direbut oleh bangsa Persia sebagai lanjutan dari serangan Kisra persia (611-615 M). Selain itu, Gereja-gereja Romawi dibakar, Palang Salib juga dirampas dan dilarikan ke Persia yang menyebabkan bangsa Romawi malu dan menjadi sangat lemah[23]. Kaum Musyrikin sangatlah bahagia mengetahui bahwa Persia menang atas Romawi.  Hal ini tentu membuat orang-orang muslim merasa tidak senang dan mereka yakin bahwa suatu saat Romawi pasti akan memenangkan peperangan dengan Persia[24]. Setelah terjadi peristiwa tersebut, Allah menurunkan firman-firmanNya[25].
Untuk menghilangkan rasa malu rakyat Romawi, Heraclius bangkit dengan menyiapkan balatentara untuk melakukan serangan  dengan tekad yang bulat, hingga pada tahun 624 M Suriah dan Palestina bisa kembali menjadi kekuasaan Romawi. sebagai balas dendam, bangsa Romawi berhasil memadamkan Api yang biasa dipuja oleh rakyat Persia. Peristiwa ini bertepatan dengan perang Badar di Makkah, sehingga kegembiraan kaum muslimin berlipat ganda[26]. Dengan demikian, maka berakhirlah permusuhan antara bangsa Romawi dan Persia dengan mengadakan Perjanjian Perdamaian dan mengembalikan para Tawanan dari Romawi dan Palang Salib yang dirampas oleh Persia[27].

F.            Suriah dan Mesir di Bawah Kekaisaran Romawi Timur
Istilah “Suriah/Syam” meliputi negeri Suriah dan Palestina yang sejak zaman Republik Romawi sudah menjadi daerah kekuasaannya, dan jatuh di tangan Romawi Timur pada tahun 395 M. Setelah Suriah dikuasai oleh Romawi Timur, seluruh kekayaan alamnya hanya dinikmati oleh Orang-orang Romawi, sehingga rakyat Suriah hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan hidup dalam penindasan. Kehidupan mewah Kaisar-kaisar dan para Pembesar Romawi mengakibatkan beban keuangan negara amat berat dan rakyat harus membayar pajak untuk menutup kebutuhan-kebutuhan negara termasuk di dalamnya untuk membiayai perang[28].
Perbedaan madzhab keagamaan yang dianut oleh rakyat Suriah dengan Romawi Timur, menjadikan rakyat Suriah ditindas dan tidak mempunyai hak dalam ketentaraan, pemerintahan, dan harta benda. Negara Romawi Timur tidak mengizinkan rakyatnya untuk menganut mazhab yang berbeda. Hingga pada akhirnya rakyat Suriah merasa iri dan ingin seperti negeri tetangga yang hidup dalam ketenteraman, keadilan, kasih sayang pemimpinnya, yaitu Nabi Muhammad saw[29].
Rakyat Mesir juga merasakan hal yang sama dengan rakyat Suriah. Pergolakan antara Mesir dengan Roma sudah dimulai sejak zaman Romawi Lama, yaitu antara ratu Cleopatra dengan tritunggal[30]. Negeri Mesir menjadi kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur sejak tahun 395 M. Hasil “ladang gandum” dan “sapi perah” negeri Mesir hanya dinikmati oleh para pembesar Romawi dan membuat rakyat Mesir menderita. Rakyat hidup dalam kemiskinan, penderitaan, dan kekacauan[31].

G.           Suriah dan Mesir di Tangan Kaum Muslimin
Ketika Romawi mendapatkan kembali negeri Suriah, Heraclius menunaikan nazarnya berjalan kaki menuju Jerusalem. Di Jerusalem (628 M), Ia mendapat surat dari Nabi Muhammad saw yang dititipkan kepada Dahyah bin Khalifah al-Kalbi. Surat tersebut berisi ajakan Nabi Muhammad saw kepada Heraclius untuk memeluk Agama Islam agar rakyat Romawi mengikutinya dan Islam menyebar di tanah Romawi dengan mudah. Kaisar Heraclius menolak ajakan tersebut karena khawatir mahkota Kekaisarannya akan terguling. Sebelum mendapatkan surat dari Nabi Muhammad, Heraclius telah meneliti dan mempercayai kebenaran kebenaran dakwah Nabi Muhammad saw[32].
Peperangan-peperangan antara kaum Muslimin dengan Romawi untuk merebut kekuasaan wilayah Suriah dimulai sejak tahun 629 M. Para Saudagar dan Musafir Muslim yang hendak menuju Suriah ditawan dan dibunuh oleh orang-orang Romawi. Pada Perang Tabuk yang dipimpin oleh Nabi Muhammad saw, pasukan muslimin mendapatkan kemenangan. Setiap hendak melakukan perang, Nabi Muhammad selalu memberikan nasihat kepada Pasukannya. Setelah Nabi Muhammad wafat, kepemimpinan kaum muslimin digantikan oleh Abu Bakar. Abu Bakar menyerukan jihad fii sabilillah salah satunya dengan melakukan serangan terhadap Romawi di Suriah dengan strategi kuat yang dibantu oleh 24.000 pasukan tentara kaum Muslimim untuk melawan 24.000 tentara Romawi[33].
Pasukan kaum Muslimin tidak menemui kesulitan dalam perlawanan yang ketat dari Romawi hingga ke pedalaman Suriah. Hal ini tentu menyebabkan Heraclius takut, lalu Ia menyuruh pasukannya untuk berdamai dengan kaum Muslimin, akan tetapi pasukannya menolak. Peralawanan selanjutnya dipimpin oleh Theodore, saudara Heraclius. Theodore meminta agar pasukan Romawi menyerang masing-masing pasukan kaum Muslimin yang terbagi menjadi 4 pasukan, akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Akhirnya, kaum Muslimin berkumpul menjadi satu hingga sampailah mereka di negeri “Yarmuk” di bawah pimpinan Khalid Ibnul Walid[34].
Kaum Muslimin menyusun strategi perang untuk menghadapi Romawi. Kaum Muslimin membelah antara Pasukan berkuda dengan pasukan berjalan kaki. Khalid memukul pasukan berkuda. Pedang, panah, lembing menjadi senjata untuk menyerang pasukan berjalan kaki. Pasukan Romawi tidak kuat dengan serangan kaum muslimin dan akhirnya melarikan diri tanpa tujuan yang jelas hingga pada akhirnya mereka terperangkap ke dalam jurang Al-Waqushah. Dengan demikian, Romawi kalah atas kaum Muslimin sehingga negeri Suriah menjadi kekuasaan kaum Muslimin. Cita-cita rakyat Suriah tercapai untuk mendapatkan perilaku yang adil dari pemimpinnya, Umar bin Khattab pengganti Abu Bakar[35]. Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 634 M (13 H) ini dicatat sebagai perang terbuka pertama yang terbesar yang dilakukan oleh pihak Islam dengan Romawi[36].
Ketika Suriah belum jatuh ke tangan kaum Muslimin, Panglima ‘Amr ibn ‘Ash mendapat izin dari Khalifah Umar bin Khattab untuk menaklukan Mesir[37]. Kaum Muslimin yang terdiri dari 12.000 bala tentara mampu melawan pasukan Romawi yang terdiri dari 20.000 tentara. Pada pertempuran selanjutnya, Tentara Romawi berlindung di Benteng Babilyun dan kemudian dikepung oleh kaum Muslimin, hingga pada akhirnya mereka meminta damai dengan kaum Muslimin. Kaum Muslimin menyetujui perdamaian tersebut asal kaum Romawi bersedia untuk masuk Islam, jika tidak mau masuk Islam membayat jizyah, jika tidak mau membayar jizyah, maka perang kembali[38].
Syarat dari kaum Muslimin ditolak oleh kaum Romawi setelah meminta pendapat dari Kaisar Heraclius di Konstantinopel. Kaum Muslimin tetap mengepung benteng Babilyun hingga Heraclius meninggal dunia. Akhirnya kaum Muslimin berhasil menaklukan benteng Babilyun dan bala tentara Romawi dan orang-orang Qibthi yang berada di dalamnya keluar. Penyerangan dilanjutkan ke Iskandariah, Muqauqis selaku Panglima perang romawi kembali ke Mesir untuk mengadakan perdamaian dengan ‘Amr Ibn ‘Ash. Dengan demikian pada tahun 641 M (21 H) Mesir berhasil menjadi wilayah kekuasaan kaum Muslimin setelah beberapa lama menjadi bawahan Romawi. Kaum Muslimin dengan mudah menaklukan daerah-daerah di Suriah dan Mesir atas bantuan Allah swt[39].




H.           Peninggalan-peninggalan Kekaisaran Romawi
Banyak peninggalan besar yang berasal dari peradaban Romawi yang hingga kini masih ada, seperti: bidang ilmu pengetahuan, bidang agama, bidang teknik banguan, seni patung  dan lain-lain. Dalam bidang ilmu pengetahuan, orang Romawi telah mempercayai bahwa bentuk bumi itu bulat. Para ahli bedah juga berhasil mencipatakan alat operasi seperti Gunting. Cara membuat pondasi dari campuran pasir, kapur, dan air juga merupakan warisan orang Romawi dari segi bidang teknik bangunan[40].
Orang Romawi senang membuat bangunan yang besar-besar dan megah. Colloseum merupakan salah satu bangunan yang sangat mengagumkan untuk rakyat Romawi. Stadion yang mampu menampung 4000 orang ini merupakan hasil karya orang Romawi dengan ciri khas arsitektur garis-garis lengkung dan berbentuk bundar. Sampai saat ini peninggalan tersebut masih tetap ada dan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunnia[41]. Selain Colloseum masih banyak hasil karya orang-orang Romawi yang berupa bangunan-bangunan besar. 
Pada umumnya, orang Romawi membuat patung bergaya realisme yang diwarisi dari kebudayaan Yunani (Hellenistik). Mereka membuat patung untuk menyebarkan jabar mengenai keberhasilan kepemimpinan. Patung-patung para Kaisar diletakkan di tempat-tempat umum, baik yang berbentuk utuh satu badan maupun setengah badan. Sebelum agama Kristen datang, rakyat Romawi memuja Dewa yang merupakan kebiasaan dari Yunani. Mereka hanya mengubah nama-nama Dewa Yunani dengan nama Romawi, misalnya Zeus menjadi Yupiter. Sejak masa Kekaisaran kepercayaan terhadap dewa digantikan oleh agama kristen yang mulai berkembang di Romawi[42].



Daftar Pustaka

Hinson, David F. Sejarah Israel Pada Zaman AlKitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2004.
J, Sumardianta, dkk. Sejarah SMA/MA X, Jakarta: Grasindo, 1985.
Misrawi, Zuhairi.  Al-Azhar Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010.

Moenawar, K. H. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid. 4 , Jakarta: Gema Insani Press, 2001.

Murad, Dr. Musthafa . Kisah Hidup Umar ibn Khattab, Jakarta: Zaman, 2009.

Yahya , Mukhtar, Prof. Dr.  Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kekaisaran_Romawi diunduh pada hari Kamis, 16 Februari 2012, jam 20.56 WIB

http://kajiantimurtengah.wordpress.com/2010/12/06/bangsa-barbar/ diunduh pada hari Senin, 30 April 2012, jam 15.30 WIB











[1] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 442.
[2] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 443.
[3] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 444.
[4] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 444.
[5] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 444.
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kekaisaran_Romawi diunduh pada hari Kamis, 16 Februari 2012, jam 20.56
[7] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 444.
[8] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 445.
[9] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 446.
[10] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 446-447.
[11] http://kajiantimurtengah.wordpress.com/2010/12/06/bangsa-barbar/ diunduh pada hari Senin, 30 April 2012, jam 15.30 WIB.
[12] David F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman AlKitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm. 261.
[13] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 450.
[14] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 451.
[15] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 450.
[16] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 452-453.
[17] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 456-458.
[18] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 458-459.
[19] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 470-473.
[20] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 473-474.
[21] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 474.
[22] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 486.
[23] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 486.
[24] Q. S. Ar-Rum: ayat 2-6.
[25] David. F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman AlKitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm. 269.
[26] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 487-488.
[27] David F. Hinson, Sejarah Israel Pada Zaman AlKitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2004, hlm. 270.
[28] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 489-492.
[29] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 493.
[30] Zuhairi Misrawi, Al-Azhar Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010, hlm. 73
[31] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 505.
[32] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 475-476.
[33]. K. H. Moenawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid. 4 , Jakarta: Gema Insani Press, 2001,  hlm. 184.
[34] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 497.
[35] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 501-503.
[36] Dr. Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar ibn Khattab, Jakarta: Zaman, 2009, hal. 78.
[37] Dr. Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar ibn Khattab, Jakarta: Zaman, 2009, hal. 131.
[38] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 507.
[39] Prof. Dr Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah sebelum Lahir Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1985, hlm. 507-509.
[40] Sumardianta J, dkk, Sejarah SMA/MA X, Jakarta: Grasindo, 1985, hlm. 131.
[41] Sumardianta J, dkk, Sejarah SMA/MA X, Jakarta: Grasindo, 1985, hlm. 132.
[42] Sumardianta J, dkk, Sejarah SMA/MA X, Jakarta: Grasindo, 1985, hlm. 132.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar