Sabtu, 07 Desember 2013

Inspiratif


Aku kenal benar dengan sosoknya. Sosok pejuang keras tanpa batas. Apa yang dimiliki orang tuanya tak pernah membuatnya manja dalam mengenyam pendidikan. Dimulai sejak lulus SD beliau sudah jauh dari orang tuanya. Nyantri di salah satu pondok pesantren yang ada pusat kota kabupatennya hingga lulus sekolah menengah atas beliau lakukan. Perjuangannya yang penuh keprihatinan selalu beliau kisahkan pada keempat anaknya. Aku paham benar, tidak mudah menjadi beliau. Status menjadi anak bontot bukan menjadi alasannya untuk selalu bermanja-manja dengan mbah kakung dan mbah putriku. Iya, beliaulah bapakku yang super hebat :D
Hidup prihatin sudah ia jalani semenjak kecil, sehingga saat mulai berpisah dengan orang tuanya di pondok beliau sudah terbiasa. Makan dengan apa pun sudah biasa. Selain karena orang dahulu suka makan dengan sederhana, bapakku ini memang kelewat prihatin. Bayangkan, beliau menukar beras kiriman dari rumah dengan ‘thiwul’ dengan alasan agar bisa mendapat porsi yang lebih banyak, sehingga bisa hidup jauh lebih irit. Berbeda dengan zaman sekarang, harga nasi thiwul malah lebih mahal ketimbang beras.
Lulus SMA pun beliau melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi yang ada di kabupaten sebelah. Ia rela hanya memakai sepeda tanpa mesin warisan ayahnya. Setiap pagi pukul lima beliau sudah rapi dengan baju dan sepeda yang setia menemaninya. Tak peduli penampilan teman yang lebih oke darinya. Pulang kuliah malam sudah terbiasa baginya. Satu hal yang selalu beliau torehkan dalam setiap ceritanya “Wong bejo lan ulet luwih menang tinimbang wong pinter, le, nduk” kalimat itu memang benar dengan apa yang bapakku alami saat ini, alhamdulillah perjuangan masa-masa sulit ketika menempuh pendidikan terbayarkan dengan hal yang lebih baik. Love you, bapak. Engkau sosok hebat di mata kami. Rasa sayangmu pada kami tak ternilai pokoknya. Selalu sabar menghadapi kami, penuh pengertian, setia, dan sifat baik pun selalu kau sandang. Cinta dan kasihmu pada ibuk juga kau cerminkan dengan membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, tak pandang itu pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh istri maupun kedua anak perempuanmu. Bapak, tak salah kau meneladani Rasulullah saw dalam melangkah dan membina keluarga kita. Semoga Allah selalu menyayangi dan melindungi keluarga kita J Pesanmu kepada kami untuk hidup sederhana selalu kami ingat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar