Jumat, 22 Mei 2015

Gelap (yang) Membawa Indah


Malam ini entah sudah purnama yang keberapa. Aku tak mau menghitung dengan menyamakan usiaku yang hampir setengah abad. Kau tahu kenapa? Karena tak setiap purnama datang aku menjumpainya apalagi menyempatkan waktu untuk menikmati suasananya. Akan tetapi, purnama kali ini entah mengapa lain dari biasanya. Aku tak sedang duduk di jalan Malioboro menyaksikan beragam aktivitas para pelancong yang sibuk berbelanja. Aku juga tidak sedang berada di Pendopo Keraton menyaksikan gadis-gadis ayu Jogja berlatih menari. Aku juga tidak sedang di Candi Prambanan menyaksikan pementasan Ramayana atau Arjuna. Malam ini aku hanya di sini, di halaman tempatku melepas lelah, hanya duduk-duduk saja di antara daun pintu yang sengaja aku buka, sedikit menikmati angin malam tanpa secangkir capuccino yang aku sruput atau pun segelas cokelat hangat.
Aku hanya duduk santai saja, melihat sinar bulan yang sedang purnama, menyaksikan gemerlap bintang, dan bersihnya biru langit tanpa awan. Aku juga merasa mala ini terasa lebih indah dari biasanya, atau hanya perasaanku saja? Di antara kekagumamku pada suasana malam ini, aku berbicara pada diriku sendiri peri hal inilah yang akan aku ceritakan padamu kawan. Semoga kau sudi membacanya. Untukmu, engkau boleh membaca ceritaku ini dengan ditemani secangkir kopi atau teman terkasihmu.
Aku hanya bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya yang membuat purnama begitu indah? Apakah sinar rembulan yang terang, terbitnya bulan yang terlihat penuh, birunya langit, atau karena gemerlap bintang yang menghiasi langit? Lama kupikirkan apa penyebabnya, mungkin karena diri ini terlalu bodoh sehingga susah menemukan jawabannya. Aku berharap, jiwa ini menemukan sebuah jawaban yang menggugah semua orang, tapi sayang saya hanya orang biasa. Sempat berpikir untuk menyeduh secangkir kopi demi sebuah inspirasi, tapi perut sedang kurang bersahabat. Ah, daripada terlalu lama berpikir kuputuskan saja jawabanku itu.
Terangnya sinar rembulan, penuhnya bulan kala purnama, birunya langit, dan gemerlapnya bintang-bintang di langit menurutku bukanlah penyebab purnama ini menjadi indah. Bukan, bukan mereka itu penyebabnya! Mereka itu pelengkap. Ya, pelengkap kesempurnaan purnama. Lima belas hari sebelum purnama terbitlah penyebabnya. Saat bumi gelap dengan sempurna, dan rembulan tak nampak sama sekali, malam yang gelap itulah yang menyebabkan purnama istimewa. Gelap gulita dan terang benderang adalah dua hal yang saling bertolak belakang, dan seringkali menjadikan sesuatu itu menjadi istimewa. Sempurna, salah satunya perihal purnama malam ini.
Boleh sedikit aku kaitkan dengan realitas kehidupan ini, kawan? Paling tidak agar tulisan ini bisa lebih panjang agar seruputan kopimu yang masih banyak tidak sia-sia. Akan tetapi, aku tahu engkau hanya diam, diam yang membuatmu terus membacanya. Aku merenungi diri bahwa hidup ini juga seperti rotasi rembulan, dari gelap pekat menuju ke terang benderang dan kembali lagi ke gelap pekat demi sebuah kesempurnaan. Boleh juga kalau kita memaknainya seperti perputaran roda. Roda itu akan menjadi roda jika dia berputar. Jika tidak berputar, diam, roda itu tidak berfungsi, dan boleh jadi tidak bisa dikatakan roda.
Bukankah hidup ini juga begitu, kawan? Dia harus berputar demi sebuah kesempurnaan hidup. Jika hidup tidak berputar, dia akan stagnan, mengalami kejenuhan dan tidak ada kisah perjuangan. Sehingga tidak jarang kita menemui orang yang bosan dalam hidup meski berada pada kondisi nyaman atau sebaliknya akan merasa berputus asa karena kesulitan yang terus menerus. Hidup memang harus berputar, jika dia tidak berputar bisa jadi kita hanya sedang meniti hidup, yang melewatinya begitu saja tanpa mangambil makna sedikit pun dari perjalanan hidup kita masing-masing.
Semakin beranjak malam, purnama semakin indah, semakin ingin menemaninya hingga hilang di esok fajar, tapi tubuh sudah menuntut haknya untuk berebah. Kurebahkan tubuhku di pembaringan sembari menelisik takdir esok, seperti apa perjalananku selanjutnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar