Senin, 18 Mei 2015

Seperti Angin dan Cemara


Cemara,…
Entah sejak kapan tanaman ini banyak menghiasi tepian pantai.
Aku pernah menyaksikan mereka dengan berbaris rapi dan tampak menghijau di
sebuah bibir pantai di Jogja.
Pernah juga aku temui mereka hanya bertumbuh sendiri tak berteman.

Cemara,…
Walau di musim panas ranting-rantingmu tampak mengering,
engkau masih tetap indah, meski tak hijau dan tampak kecoklatan dari kejauhan.
Engkau juga pohon yang unik.
Aku tak tahu apakah yang ada di setiap pucuk rantingmu itu adalah daun, atau ujung rantingmu yang menghijau,
Yang pasti ujung rantingmu itu lembut dan menyejukkan.

Cemara,…
Pohonmu sebetulnya tidak begitu rindang,
engkau malah tak sanggung menahan tetesan air hujan,
tapi keberadaanmu yang seringkali aku temui di pinggir pantai, menjadi pilihan yang tepat untuk berteduh.
Apakah ini karena engkau diuntungkan dengan tempat keberadaanmu?
Tapi pendapatku itu karena engkau pintar menempatkan dirimu,
hingga disukai banyak orang.

Cemara,...
Pernah juga aku melihat sepasang merpati yang sedang bercanda di tepi pantai, terbang berkejaran karena tiba-tiba hujan turun.
Ternyata mereka tak memilih berteduh di gubug yang hangat,
tapi justru bertengger di rantingmu yang tak berdaun itu.
Mereka justru menikmati tetes hujan yang jatuh,
saling mengepakkan sayap dan berkejaran ke sana ke mari.
Sungguh aneh,
mereka lebih memilih ranting-rantingmu daripada hamparan pasir yang

Cemara,...
Apa engkau tidak menyadari bahwa pilihanmu hidup di tepian pantai harus berhadapan dengan hembusan angin?
Angin yang berhembus setiap hari entah di kala pagi atau sore hari, bahkan seringkali sepanjang hari.
Jika hembusan angin sepoi, ranting-rantingmu bergoyang perlahan, kau seolah mengikuti iramanya.
Jika angin berhembus sedang, engkau pun bergoyang mengikuti hembusannya, begitu pun juga jika hembusan angin sangat kencang, kelakuanmu masih tetap sama,
pohon dan rantingmu tetap bergoyang mengikuti hembusan angin.
Dan engkau masih tetap sama di mataku,
sebagai tanamanan penghias pantai.

Cemara,...
Apakah engkau punya pesan untuk angin, yang kadang merepotkan?
Hembusannya seringkali menjatuhkan beberapa ujung ranting hijau, mengacak-acak susunan barisanmu, bahkan terkadang hembusan angin mematahkan rantingmu.
Aku yakin pasti ada pesan-pesanmu untuknya,
meski kau hanya diam, dan engkau kadang lebih suka diam, biar aku sampaikan saja ya?!

Untukmu, angina,…
Engkau kadang berhembus sepoi, hembusanmu menyejukkan, membuat indah gerakan gemulai ranting-ranting cemara.
Engkau tahu, cemara sangat menyukai itu.
Hembusan sepoimu membuat anak-anak burung berlompatan di ranting cemara dengan bahagia.
Beberapa manusia juga suka berteduh sembari menyandarkan pundaknya di cemara itu sembari melihat indahnya ombak samudera.
Tahukan engkau, angin?
Cemara sangat suka sekali hembusan sepoimu!

Angin,...
Setelah mengembara di tengah samudera yang luas,
engkau kadang berhembus dengan sangat kencang, entah apa yang kau hadapi di luar sana.
Tak bisakan engkau berhembus agak pelan?
Tidak kasihan kah kau pada cemara?
Meski dia hanya berdiri di tepian pantai,
terik panas, dan waktunya untuk anak-anak burung dan sepasang merpati juga melelahkan.

Angin,…
Hembusanmu yang seringkali tak terduga, tak jarang merepotkan cemara.
Apa engkau tak kasihan jika ranting-rantingnya patah dan ujung rantingnya yang menghijau berguguran?
Engkau masih punya angin sepoi yang lebih cemara sukai dan rindukan daripada hembusan kencangmu!

Angin,...
Tapi aku juga bisa memahami jika hembusan kencangmu itu juga kau peruntukkan untuk cemara,
Semata-semata agar ranting-ranting yang sudah mati berjatuhan, dan ujung hijau ranting cemara yang sudah menguning dan layu,
berganti dengan yang baru dan hijau.
Tapi tak bisa kah engkau menitipkan pesan lewat nada hembusanmu agar cemara tahu dan tidak marah?
Karena sungguh cemara adalah pohon unik.

Kini, untukmu, angin dan cemara,...
Kalian berada di tepian pantai hidup berdampingan, saling melengkapi.
Hiduplah dengan harmonis, demi kami, anak-anak burung dan sepasang merpati yang butuh kalian sebagai tempat beteduh dan bersenda gurau.

4 komentar:

  1. alhamdulillah hikma nulis lagi :D semangat hikma :D keep up the goodwork :D

    BalasHapus
  2. Doakan ya, Na... biar semangat nulis lagi.
    *Critanya ga mau ketinggalan dari Hanna yang tiap hari blognya rame dikunjungin pembaca dan selalu ada update tulisan kece :D

    BalasHapus
  3. Amin :D Alhamdulillah makasih pujiannya :D

    BalasHapus
  4. sama-sama, Hana :)
    terima kasih untuk email-email dr Hana yg keren banget. Belum kelar semua tp bacanya. hehe

    BalasHapus