Sabtu, 22 Agustus 2015

Cahaya Hikmah DwiNA

Aku yang harus pergi lebih dulu dari kalian. Doa terbaik mengiringi kepergianku nanti untuk kalian sahabat yang selalu ada untukku. Kalian rekan yang paling mengerti sekaligus kakak yang pandai memperlakukanku penuh cinta. Suatu saat aku akan rindu suasana ini. Suatu pagi aku akan mengenang masa menyambut mentari dalam balutan kasih dan panggilan lembut untuk menghadap-Nya bersama kalian.
Keriuhan menjelang keberangkatan kita ke kantor, kebersamaan kita ke kantor, kepulangan kita dari kantor, kelezatan menikmati makan malam yang selalu ala kadarnya yang penting tidak lapar dan bahagia (ini lebay) hingga keautisan kita mengurus diri masing-masing selepas Isya adalah memori yang mungkin akan susah hilang nantinya.
Ratih yang ‘gila’ sekali dengan buku dan menghabiskan waktu malamnya di kamar untuk membaca buku atau menonton film kesukaannya, siap-siap saja sepulang dari kantor tidak ada lagi teman yang membersamaimu membeli sayur dan lauk apa yang akan kalian santap untuk makan malam dan esok hari ya (nanti Mbak Dwi bakal ngegantiin aku kok). Mbak Dwi yang kreatif dan kuat banget dengan begadangnya demi orderan kerjaan dan kesetiaannya dengan perusahaan, jangan kangenin aku yang selalu mengganggu kenyenyakan tidurmu ya. Jangan mimpi bakal ngejailin aku karena aku sudah jauh darimu nanti (kalo ini sedih).
Untuk kalian gadis yang selalu diusik ketenangannya oleh cucian dan setrikaan baju, kapan ya aku bisa merasakan hiruk pikuk dalam rangkaian kemalasan antri mencuci dan menyetrika lagi bersama kalian? Waktu makan malam yang biasanya kita isi dengan sharing (bahasa keren dari ngobrol) setelah aku pergi nanti bakal asik dan seru lagi ga ya? (over pede).
Ratih yang rajin banget mengepel rumah dan Mbak Dwi yang hobbi banget memasak masakan yang lain dari biasanya (ex: seblak, goreng nasi, otak-otak, cilok, dll), aku titip cinta untuk Jihan ya. Kalo nanti dia main ke mes, katakan padanya bahwa aku senang sempat tinggal bersamanya meski hanya 3 bulan. Keberadaannya menjadi pelengkapku karena saat itu aku layaknya anak tengah yang memiliki seorang kakak dan seorang adik sebelum kedatangan Ratih.
Oh iya, berkat Jihan juga kita ‘bisa’ masak, lho. Hikmahnya, kita jadi lebih irit dan semangat belajar memasak, meskipun alat dan bahannya terbatas. Semoga mimpi kalian (kita) selama ini untuk memiliki lemari es tercapai ya.. biar bisa memasak daging dan menyimpan sayur-sayuran agar tetap segar. Kalian masih inget kan gimana sedihnya setelah kompornya dibawa pulang oleh Jihan? Untung kalian langsung inisiatif beli lagi sehingga kita bisa menikmati lagi tumis-tumisan dan tempe goreng menu khas kita yang tiap hari gitu-gitu aja (hahahaha #bersyukur).
Kenangan beberapa hari lalu tentang pecahnya gayung dan wajan yang mengeluarkan asap karena kecerobohanku, bisa jadi akan menjadi cerita yang membikin perut kita kaku karena tertawa terpingkal memutar kenangan kejadian itu. Entah kenapa setiap hal yang terjadi setiap harinya selalu menjadi hal unik yang menghibur teman-teman di kantor. Mereka saja tertawa apalagi kita yang menjalaninya? (hahahahaa).
Masih ingat dengan kejadian Jum’at siang lalu yang kita batuk-batuk karena cilok ‘ranjau’ yang kalian bikin? Semoga itu awal sukses usaha kalian ya (Eits, jangan lupa cantumkan namaku dalam sejarah kesuksesan kalian nantinya, hehe).
Anyway, nanti sering kabar-kabar ya terutama kalau adek kecil yang di perumahan udah ga pernah nangis pagi, siang, sore, atau malem. Kasih tahu juga misal di sekitar perumahan sudah mudah ditemukan penjual sayuran dan Alfamart sehingga tidak perlu jauh-jauh lagi kalo mau hangout (maksudnya: beli sayur, bumbu, ke ATM, atau kebutuhan sehari-hari).
Last but not least, terima kasih untuk penerimaannya, perhatiannya, pengertiannya, kasih sayangnya, keusilannya, kebaikannya, kerja samanya, dan lain-lainnya yang ga bisa kusebut satu-satu tentunya.
Kalian istimewa… doa yang baik-baik untuk kalian. Ingat aku dalam setiap doa rabithah kalian yaa. Maaf untuk lisan yang tak terkendali dan sikap yang kurang mengenakan selama kita bersama. Bersyukur diberi kesempatan hidup bersama kalian. Keep contact yaaa… Aku sayang kalian karena Allah.

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini telah berpadu
Berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syari`at dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Kekalkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahaya-Mu
Yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakal pada-Mu
Hidupkan dengan ma'rifat-Mu
Matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela.

*Rabithah-Izzatul Islam

(Tulisan ini sengaja ditulis untuk kalian dan memenuhi permintaan kalian, ‘teman hidup’; Mbak DwiNA dan Ratih Cahaya sebagai bentuk perpisahan kami. Fiuuuuh, akhirnya bisa selesai juga meskipun di jam kerja (Ups…), Sabtu, 22 Agustus 2015 pkl. 14.25)

Kamis, 20 Agustus 2015

Doa Pagi

Allah, jadikan ikhlasku bagai susu. Tak campur kotoran, tak disusup darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi terilhami.
Allah, jadikan dosa mendekatkanku pada-Mu dengan taubat nashuha. Jadikan ibadah tak menjauhkanku dari-Mu gara-gara membangga.
Allah, untuk tanah nan gersang jadikan aku embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan menghias malamnya.
Allah, jika aku harus berteman khawatir, jadikan ia dzikirku mengingat-Mu.
Allah, jika aku harus berteman rasa takut, jadikan ia penghalang dari mendurhakai-Mu.
Allah, jika aku harus berkawan gelisah, jadikan ia titik mula amal-amal saleh menjemput keajaiban menenangkan.
Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surga-Mu.
Allah, berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini menebar kebaikan, mencantikkan kebenaran, menggerakkan perbaikan.
Allah, luruskanlah lisanku dalam kebenaran, indahkan tuturku dengan kesantunan, jadikan yang mendengar terbimbingkan.
Allah, ilhamkan kebajikan di tiap huruf yang terucap, lahirkan amal tuk setiap kata yang terbicara, alirkan pahala tiada putusnya.
Allah, jangan henti rindu pada Nabi-Mu menyala syahdu agar akhlak teladannya merembesi tingkahku.
Allah, jangan henti gelegak neraka menyergap menggiriskan di tiap hasrat nista dan goda kemaksiatan.
Allah, jangan henti baying surga-Mu melekati mata, di tiap niat dan kesempatan amal saleh nan terbuka.
Allah, jangan henti keesaan-Mu terteguh di jiwaku, sebab kuasa dan rezeki-Mu juga tak sedetik pun berpisah dariku.
Allah, jangan henti bimbingmu-Mu menuntunku, selama jantung berdenyut selalu, semasih Kau hembuskan napas dalam paru.
Allah, jangan henti kasih-Mu mengguyuriku, hingga santun budiku menebar rasa sayang, bahkan membalik penentang jadi pejuang.
Allah, jangan henti keagungan-Mu tertaut dalam nyali, hingga kuhadapi segala yang aniaya dengan gagah dan berani.
Allah, jangan henti kemuliaan-Mu menyusupi syaraf-syarafku hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlak terlaku.
Allah, jangan henti penjagaan-Mu mengarus dalam darahku hingga setan tak beroleh tempat dalam alirannya menderu.
Allah, jangan henti rasa malu pada-Mu menyumsum di tulangku, mengurat di ototku hingga semua gerak dalam ridha-Mu.
Allah, jangan henti keindahan-Mu mengilhamkan senyum dan cerah di wajahku, agar pergaulanku semanis madu.
Allah, jangan henti kebenaran-Mu tertambat di akal dan lisanku, terpancar dalam sikap, terjuang di tiap kalimat.
Allah, jangan henti nama-Mu menyapa hati dan jiwa, dengan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.
Aamiin.

By: Salim A. Fillah

Sepuluh Filosofi Jawa

1. Urip Iku Urup
(Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik).
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
3. Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar).
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan).
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi).
8. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka
(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
9. Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berpikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguno
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti)

*Pelajaran dari Sunan Kalijaga

Kamis, 13 Agustus 2015

Bermalam di Surga

Buku Bermalam di Surga ini merupakan salah satu usaha dari seorang saleh untuk mengingatkan kita tentang siapa kita dan ke mana tujuan hidup kita sebenarnya. Perenungan-perenungan yang menggugah keimanan, kisah para salafus shalih yang menggetarkan, serta nasihat-nasihat singkat dan menyentak kesadaran yang tertuang dalam buku ini mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin mulai terpikat dengan dunia.
Pembahasan-pembahasan yang singkat dan langsung menghujam pada inti dalam setiap bab menjadi pilihan penulis dengan harapan setiap Muslim, khususnya yang memiliki waktu sempit, dapat membaca dan memetik hikmah dari buku ini meskipun hanya sempat membaca satu atau dua halaman setiap malamnya.
Buku ini berisi 182 pokok bahasan dan setiap bahasan hanya terdiri dari 2-4 halaman saja. Berikut beberapa di antara judul-judul pokok bahasan dalam buku ini.
1.Apakah Kamu Ingin Sukses
2.Kebaikan Menyelamatkan dari Neraka
3.Dosa yang Diangkat dan Dosa yang Menghinakan
4.Siapa yang Mau Membeli Air Matamu
5.Jangan Menyerah
6.Kelezatan Akan Sirna dan Dosa Akan Tetap
7.Surga Memanggil Kalian
8.Obat yang Tidak Ada Penyakitnya
9.Tinggalkan Rasa Cemas
10.Apakah Kamu Orang Penting
11.Pemuda Pembuka Kota Yatsrib
12.Jiwa yang Tenang
Harapan penulis, juga kami, kita bisa menghabiskan waktu malam-malam yang penuh berkah bersama keluarga untuk berdiskusi, berbagi, dan mengambil setiap hikmah dari kisah buku ini. Semoga majelis ilmu yang kita ciptakan di dalam rumah menghadirkan generasi-generasi yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka dan mengumpulkan seluruh anggota keluarga kelak di taman surga.


Back Cover:
Surga adalah tempat terakhir yang menjadi tujuan setiap Muslim. Untuk meraihnya tentu dibutuhkan bekal yang cukup, baik dari segi iman, Islam, maupun akhlak. Dalam menyiapkan bekal, terkadang kita lupa dan terlalu terlena dengan keriuhan dunia. Oleh karena itu, tak salah kiranya jika kita senantiasa membuka hati dan pikiran untuk diingatkan.
Buku Bermalam di Surga ini merupakan salah satu usaha dari seorang saleh untuk mengingatkan kita tentang siapa kita dan ke mana tujuan hidup kita sebenarnya. Perenungan-perenungan yang menggugah keimanan, kisah para salafus shalih yang menggetarkan, serta nasihat-nasihat singkat dan menyentak kesadaran yang tertuang dalam buku ini mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin mulai terpikat dengan dunia.
Pembahasan-pembahasan yang singkat dan langsung menghujam pada inti dalam setiap bab menjadi pilihan penulis dengan harapan setiap Muslim, khususnya yang memiliki waktu sempit, dapat membaca dan memetik hikmah dari buku ini meskipun hanya sempat membaca satu atau dua halaman setiap malamnya.

Ghirah-Cemburu karena Allah

Ghirah bukan hanya milik orang Islam yang sering dicap fanatik oleh bangsa Barat karena kebertahanannya dalam menjaga muruah pada diri, keluarga, maupun agamanya. Namun, ghirah atau syaraf (Arab) juga milik setiap jiwa manusia, bahkan masing-masing daerah atau negara memiliki istilah sendiri untuk menyebutnya. Ghirah juga milik Mahatma Gandhi—yang terkenal berpemahaman luas dan berprikemanusiaan tinggi—yang sampai bersedia melakukan apa saja untuk mencegah adik Yawaharlal Nehru, Viyaya Lakshmi Pandit, dan anaknya, Motial Gandhi, keluar dari agama Hindu.
Ghirah atau cemburu ada dua macam, yakni terhadap perempuan dan agama. Jika adik perempuanmu diganggu orang lain, lalu orang itu kamu pukul, pertanda padamu masih ada ghirah. Jika agamamu, nabimu, dan kitabmu dihina, kamu berdiam diri saja, jelaslah ghirah telah hilang dari dirimu.
Jika ghirah atau siri—dalam bahasa orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja—tidak dimiliki lagi oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dalam segala sisi. Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab, kehilangan ghirah sama dengan mati!


Modernisasi dan westernisasi adalah dua istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Keduanya adalah pintu masuk dari al-ghazwul fikri yang ingin mengubah cara berpikir umat Islam dari dasarnya dan menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Semua yang datang dari Barat ditiru agar dibilang modern dan tidak ketinggalan zaman. Pakaian perempuan yang diselubungi dengan kain sarung warna-warni kini tidak ada lagi, hanya tinggal sejarah, bahkan di seluruh Indonesia datang zaman transisi. Semua berlomba mengikuti budaya Barat. Para pemuda pun berani mendekati perempuan karena ada tanda mau didekati.
Keberanian dalam mempertahankan muru`ah untuk mem¬bela malu terhadap agama dan perempuan kian lama kian berkurang. Bahkan, mungkin kian lama kian habis, hanya tinggal cerita saja. Penyebab orang-orang tidak berani lagi memper¬tahankan muru`ah saat saudara perempuan mereka diganggu orang lain adalah karena diri mereka sendiri pun telah mengganggu saudara perempuan orang lain.
Beberapa contoh di atas secara eksplisit diangkat oleh Buya Hamka dalam tulisan beliau yang bertema ghirah (cemburu). Menurutnya, dengan ghirah-lah dakwah Islam akan tetap hidup. Dengan ghirah pula kehormatan seorang perempuan akan terjaga. Jika ada pihak yang secara sengaja berusaha mengganggu keduanya (agama dan perempuan), ghirah kita harus mendorong untuk berbuat sesuatu.
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) hadir kembali dengan buku berjudul Ghirah: Cemburu karena Allah. Karyanya ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya terbaiknya yang mengkaji fenomena-fenomena sosial yang terjadi di Indonesia, khususnya yang berkaitan erat dengan nilai-nilai Islam.
Dalam buku yang terdiri dari tiga bahasan ini—Ghirah, al-Ghazwul Fikri, dan Siri—beliau berpesan, “Dan apabila ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh umat Islam itu. Kocongkan kain kafannya, lalu masukkan ke dalam keranda dan antarkan ke kuburan.”
Semoga buku ini dapat memberikan manfaat untuk pembaca, dan memiliki nilai di sisi Allah SWT. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, Allahlah Yang Mahabenar dan Pemilik Kebenaran. Selamat membaca 

Jejak-Jejak Cinta

Ketidakharmonisan kehidupan rumah tangga sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari karena beberapa hal. Masalah yang paling mendasar adalah krisis akhlak dalam diri setiap pasangan yang memengaruhi cara mereka berkomunikasi dan menjalani peran sebagai suami atau istri sebagaimana mestinya. Searah atau tidaknya tujuan awal menikah juga nantinya akan memengaruhi kebahagiaan rumah tangga.
Padahal, kata orang menanti jodoh adalah seperti menanti sebuah angkutan umum yang belum jelas kapan tibanya dan bagaimana kondisinya. Demikianlah dalam cinta dan pernikahan. Mungkin tak pernah ada lelaki atau perempuan sempurna yang hadir dalam hidup kita. Semua serba penuh dengan kekurangan. Namun, selama arahnya sama dengan yang kita tuju, lebih pantas untuk kita nikahi daripada menikahi orang yang tampak sempurna tetapi kenyataannya membawa kita pada arah yang salah. Apa yang menjadi kekurangannya biarlah kita perbaiki bersama sepanjang perjalanan cinta dan pernikahan kita. Kelak yang membahagiakan kita, manakala cinta menepikan kita pada dermaga yang kita tuju.
Mesin utama pernikahan adalah imam dan makmum, yakni manakala laki-laki mampu menjalankan fungsi sebagai imam dengan baik dan perempuan bersedia menjadi makmum yang baik. Menariknya, mesin ini juga menguras perasaan layaknya imam yang harus tenggang rasa terhadap makmumnya saat memimpin shalat berjamaah dengan tidak memaksakan membaca bacaan yang panjang saat melihat makmumnya kepayahan. Demikian imam dalam keluarga, ia tak bisa pergi sendirian tanpa tenggang rasa dengan mereka yang dipimpinnya hingga tercapai tujuan awalnya, yakni menggapai cinta sesuai apa yang dikehendaki oleh Sang Maha Pemilik Cinta.
Semua yang terangkum di atas adalah inti dari buku Jejak-Jejak Cinta karya Tony Raharjo ini yang merupakan rangkuman dari materi-materi dan tanya jawab yang disampaikan oleh penulis dalam acara Inspirasi Keluarga di Radio MQFM yang penulis asuh. Melalui untaian kata yang mengalir dan indah, dibatasi oleh bab-bab untuk membedakan tema, penulis berbagi kepada setiap kita yang ingin hidup dengan cinta yang membaikkan di hadapan-Nya; yang ingin membangun bahtera rumah tangga dan masih khawatir akan kerikil-kerikil tajam yang nantinya mungkin akan ditemui; yang ingin rumah tangga yang telah dijalani berlanjut ke surga; dan yang ingin buah hati mereka tumbuh menjadi pribadi penuh cinta—cinta terhadap Allah dan rasul, Islam, dan orang tua—dengan harapan setiap kita selalu mendapatkan cinta-Nya.

*****Ayo, segera miliki bukunya di toko buku favorit anda :)
Bagi yang penasaran dengan sinopsis di bagian sampul belakang, bisa lanjut membaca postingan saya di bawah ini
:

Bagi setiap lelaki yang menjadi seorang ayah, adzan adalah jejak cinta yang pertama kali ia goreskan bagi hati dan jiwa anaknya. Semakin bertumbuh sesosok manusia, semakin banyak jejak cinta yang tertoreh dan ditorehkan dalam hidupnya—termasuk saat seseorang menanti pendamping dan menjalani kehidupan berumah tangga yang berhias kematangan cinta.
Jejak cinta dalam episode-episode hidup manusia tersebut akan dibahas dalam buku ini beserta tips-tips menghadapi tragedi-tragedi di dalamnya. Kisah yang menginspirasi dari Rasulullah saw., sahabat, dan tokoh-tokoh lainnya juga melengkapi wawasan kita tentang bagaimana semestinya kita menumbuhkan cinta, memilah dan memilih, dan menyadari cinta yang berawal dari kebaikan dan berujung pada kesetiaan, baik kepada pasangan, orang tua, maupun anak nantinya.
Jejak-jejak Cinta memang layak dibaca oleh setiap jiwa yang terikat pada cinta dan berusaha mengikuti jalan cinta-Nya menuju arah yang baik sesuai apa yang dikehendaki oleh Sang Maha Pemberi Cinta.
Selamat membaca.